Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana

Ahmad Wahyudi
Chapter #2

"Umar bin al-Khattab: Dari Pedang Jahiliah Menuju Cahaya Keadilan"

Baik. Kita akan berjalan pelan-pelan memasuki jiwa seorang lelaki yang namanya membuat sejarah bergetar.

Namanya adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail al-Qurasyi al-‘Adawi. Ia lahir di Makkah sekitar empat puluh tahun sebelum hijrah. Tubuhnya tinggi, langkahnya tegap, suaranya keras, dan keberaniannya tidak pernah diragukan. Ia berasal dari Bani ‘Adi, salah satu kabilah Quraisy yang terpandang. Sejak muda ia dikenal cerdas, mampu membaca dan menulis—kemampuan yang jarang dimiliki orang Arab saat itu—serta memiliki kemampuan diplomasi. Dalam tradisi Quraisy, Umar sering diutus sebagai juru runding ketika terjadi konflik antar-kabilah.

Namun kecerdasan dan ketegasan itu pada awalnya berdiri di barisan yang berseberangan dengan Islam.

Ketika Nabi Muhammad ﷺ mulai menyampaikan risalah tauhid, Umar termasuk penentang keras. Baginya, dakwah itu mengancam struktur sosial Makkah, merusak tradisi leluhur, dan memecah belah keluarga. Ia menyaksikan bagaimana para sahabat disiksa, dan ia tidak menunjukkan simpati. Bahkan dalam beberapa riwayat, ia turut terlibat dalam tekanan terhadap kaum Muslimin. Hatinya saat itu dipenuhi kemarahan, tetapi kemarahan yang lahir dari keyakinan bahwa ia sedang membela kebenaran menurut versinya sendiri.

Sampai suatu hari, ia memutuskan sesuatu yang drastis: ia akan membunuh Muhammad.

Ia keluar dengan pedang terhunus. Langkahnya cepat. Amarahnya menyala. Di tengah perjalanan, seseorang mengabarkan bahwa adiknya sendiri, Fatimah binti al-Khattab, telah memeluk Islam bersama suaminya, Sa‘id bin Zaid. Berita itu menghantamnya lebih keras daripada dakwah Nabi. Umar berbalik arah menuju rumah adiknya.

Di dalam rumah itu, Fatimah dan Sa‘id sedang mempelajari lembaran Al-Qur’an bersama seorang sahabat, Khabbab bin al-Aratt. Ketika Umar datang, Khabbab bersembunyi. Umar mendengar bacaan yang asing di telinganya. Ia marah. Terjadi perdebatan. Dalam emosi yang meluap, ia memukul adiknya hingga berdarah.

Darah itu darah saudara kandungnya sendiri menghentikan langkah kemarahannya.

Fatimah, dengan wajah yang terluka, berkata dengan tegas bahwa ia telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Keteguhan seorang perempuan yang tak bersenjata mengguncang hati seorang lelaki yang membawa pedang. Umar meminta lembaran yang mereka baca. Fatimah menolak memberikannya sebelum Umar bersuci.

Ia mandi. Lalu membaca.

Ayat-ayat dari Surah Thaha mengalir ke dalam jiwanya. Kata-kata itu bukan sekadar susunan bahasa. Ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya—keindahan, kedalaman, dan kebenaran yang tidak bisa ditolak. Umar, yang berangkat untuk membunuh Nabi, justru berdiri dan berkata bahwa ia ingin menemui Muhammad.

Ia datang ke rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam, tempat kaum Muslimin berkumpul secara sembunyi-sembunyi. Para sahabat tegang melihat Umar datang dengan pedang. Namun Hamzah bin Abdul Muththalib berkata bahwa jika Umar datang dengan niat baik, itu kebaikan; jika tidak, pedangnya akan digunakan melawannya.

Di hadapan Nabi Muhammad ﷺ, Umar menyatakan keislamannya.

Hari itu bukan hanya satu orang yang masuk Islam. Hari itu, keberanian umat Islam bertambah. Umar tidak bersembunyi. Ia mendatangi Ka‘bah dan mengumumkan keislamannya secara terbuka. Sejak itu, kaum Muslimin dapat melaksanakan ibadah secara lebih terang-terangan. Ia mendapat gelar al-Faruq, pemisah antara yang hak dan yang batil.

Lihat selengkapnya