Kita akan memasuki kisah seorang lelaki yang kelembutannya sering disalahpahami sebagai kelemahan, padahal di baliknya tersimpan keteguhan yang sunyi dan luar biasa.
Namanya adalah Utsman bin Affan bin Abi al-‘Ash bin Umayyah al-Qurasyi al-Umawi. Ia lahir di Makkah sekitar enam tahun setelah Tahun Gajah. Ia berasal dari Bani Umayyah, salah satu kabilah terhormat dan kaya di Quraisy. Sejak muda ia dikenal sebagai pedagang sukses, berakhlak halus, pemalu, dan sangat menjaga kehormatan diri. Ia termasuk sedikit orang Arab pada zamannya yang mampu membaca dan menulis.
Sebelum memeluk Islam, Utsman tidak dikenal sebagai penyembah berhala yang fanatik. Ia memiliki kepribadian yang bersih dan tidak terlibat dalam kebiasaan jahiliah yang kasar. Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq mengajaknya masuk Islam, ia menerima tanpa penolakan panjang. Keputusannya bukan keputusan emosional, melainkan keputusan hati yang telah mengenal kebenaran.
Keislamannya membuat keluarganya murka. Pamannya mengikatnya dan menekannya agar kembali kepada agama leluhur. Namun Utsman menolak. Dalam ketenangannya, ada keteguhan yang tidak mudah dipatahkan. Ia bukan tipe yang berteriak dalam pembelaan, tetapi ia juga bukan tipe yang mundur.
Ia termasuk kelompok Muslim awal yang berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) bersama istrinya, Ruqayyah binti Muhammad, putri Rasulullah ﷺ. Hijrah itu bukan perjalanan mudah. Ia meninggalkan kekayaan, keluarga, dan kenyamanan Makkah. Namun ia memilih iman di atas semuanya. Rasulullah pernah bersabda bahwa Utsman adalah orang pertama yang berhijrah bersama keluarganya setelah Nabi Luth.
Ketika kembali dari Habasyah dan kemudian berhijrah ke Madinah, Utsman kembali membangun kehidupannya dari awal. Namun kemuliaannya justru semakin terlihat dalam cara ia menggunakan hartanya.
Di Madinah, kaum Muslimin mengalami kesulitan air karena Sumur Raumah dimiliki seorang Yahudi yang menjual airnya dengan harga mahal. Utsman membeli sumur itu dengan harga tinggi, lalu mewakafkannya untuk kaum Muslimin. Air yang dulu menjadi komoditas mahal berubah menjadi sedekah yang mengalir tanpa henti.
Pada Perang Tabuk, ketika pasukan Muslim kekurangan dana dan perlengkapan, Utsman menyumbang ratusan unta lengkap dengan perlengkapannya serta emas dalam jumlah besar. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman setelah hari ini.” Kalimat itu menunjukkan betapa besar pengorbanannya.
Namun kehidupan Utsman juga dipenuhi ujian pribadi. Istrinya, Ruqayyah, wafat setelah Perang Badar. Ia tidak ikut Perang Badar karena diperintahkan Rasulullah untuk merawat istrinya yang sakit, tetapi ia tetap mendapatkan pahala dan bagian rampasan perang. Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkannya dengan putri beliau yang lain, Ummu Kultsum. Karena menikahi dua putri Nabi, ia mendapat julukan Dzun-Nurain, pemilik dua cahaya. Ketika Ummu Kultsum wafat, Rasulullah berkata bahwa jika beliau memiliki putri lain, ia akan menikahkannya dengan Utsman.
Kedekatan Utsman dengan Rasulullah bukan hanya hubungan keluarga, tetapi juga kepercayaan. Ia termasuk penulis wahyu yang mencatat ayat-ayat Al-Qur’an ketika turun. Ia hadir dalam berbagai peristiwa penting, termasuk Perjanjian Hudaibiyah. Dalam peristiwa itu, ia diutus ke Makkah sebagai utusan Nabi. Tersebar kabar bahwa ia dibunuh, yang memicu Baiat Ridwan di bawah pohon. Ternyata kabar itu tidak benar, tetapi peristiwa tersebut menunjukkan betapa penting perannya.
Ketika Abu Bakar dan Umar wafat setelah memimpin umat, Utsman dipilih sebagai khalifah melalui musyawarah enam sahabat utama yang dibentuk oleh Umar bin al-Khattab menjelang wafatnya. Ia diangkat menjadi khalifah pada usia sekitar tujuh puluh tahun.
Masa kekhalifahannya berlangsung sekitar dua belas tahun dan dapat dibagi menjadi dua fase: fase stabilitas dan ekspansi, serta fase fitnah dan gejolak.