Kita akan memasuki kisah seorang lelaki yang tumbuh di pangkuan kenabian, meminum keberanian sejak kecil, dan menanggung beban sejarah yang paling rumit dalam perjalanan umat.
Namanya adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim al-Qurasyi al-Hasyimi. Ia lahir di Makkah sekitar sepuluh tahun sebelum kenabian Muhammad ﷺ. Ia adalah sepupu Rasulullah, putra dari Abu Thalib, paman yang membesarkan dan melindungi Nabi sejak kecil. Sejak usia belia, Ali tinggal di rumah Nabi Muhammad ﷺ karena kondisi ekonomi Abu Thalib yang sulit. Dengan demikian, Ali tumbuh bukan hanya sebagai kerabat, tetapi sebagai anak asuh yang menyaksikan langsung akhlak dan kehidupan Rasulullah sebelum turunnya wahyu.
Ketika wahyu pertama turun dan Nabi mulai menyampaikan risalah tauhid secara sembunyi-sembunyi, Ali termasuk orang pertama yang beriman. Ia masih sangat muda, sekitar sepuluh tahun. Keputusannya bukan hasil tekanan sosial atau kepentingan politik. Ia beriman karena ia mengenal pribadi Muhammad sebagai sosok yang jujur dan terpercaya. Dalam usia yang begitu muda, ia telah memilih jalan yang akan membentuk seluruh hidupnya.
Keislamannya bukan simbolis. Ia berdiri dalam barisan kecil kaum Muslimin ketika jumlah mereka masih sedikit dan tekanan begitu kuat. Dalam peristiwa dakwah terbuka kepada Bani Hasyim, ketika Rasulullah meminta siapa yang bersedia menjadi penolongnya, Ali yang masih remaja berdiri dan menyatakan kesiapannya. Orang-orang dewasa menertawakan keberaniannya, tetapi sejarah kelak membuktikan bahwa keberanian itu bukan kelakar masa muda.
Salah satu momen paling dramatis dalam hidup Ali terjadi pada malam hijrah. Kaum Quraisy telah bersepakat membunuh Nabi Muhammad ﷺ. Mereka mengepung rumah beliau. Untuk mengecoh para pembunuh, Rasulullah meminta Ali tidur di tempat tidurnya. Permintaan itu bukan perkara kecil; itu berarti mempertaruhkan nyawa. Ali menerima tanpa ragu. Ia berbaring di ranjang Nabi, menyelimuti dirinya dengan kain hijau Rasulullah, sementara para pembunuh mengintai di luar.
Pagi harinya, ketika mereka masuk dan mendapati Ali di tempat tidur, rencana mereka gagal. Ali selamat. Peristiwa itu menunjukkan kualitas keberanian yang jarang ditemukan: keberanian yang lahir dari cinta dan keyakinan, bukan dari ambisi.
Setelah hijrah ke Madinah, Ali memainkan peran penting dalam berbagai peristiwa besar. Dalam Perang Badar, ia termasuk pejuang yang tampil dalam duel awal melawan tokoh-tokoh Quraisy. Keberaniannya di medan perang mulai dikenal luas. Dalam Perang Uhud dan Khandaq, ia kembali berada di garis depan.
Dalam Perang Khaybar, ketika benteng Yahudi sulit ditembus, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa panji akan diberikan kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Panji itu diberikan kepada Ali bin Abi Thalib. Ia memimpin serangan dan kemenangan diraih. Sejak itu, namanya semakin identik dengan keberanian dan ketangguhan.
Namun Ali bukan hanya pejuang. Ia juga dikenal sebagai sosok yang dalam ilmunya. Ia memiliki pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an dan hukum Islam. Banyak sahabat besar merujuk kepadanya dalam persoalan fiqh dan tafsir. Ia dikenal fasih berbicara dan memiliki kebijaksanaan yang tajam. Ucapannya banyak dikutip dalam literatur klasik sebagai mutiara hikmah.
Hubungan Ali dengan Rasulullah semakin erat ketika ia menikah dengan Fatimah az-Zahra, putri kesayangan Nabi. Pernikahan itu sederhana. Mahar yang diberikan tidak besar, tetapi keberkahannya melahirkan generasi yang kelak memiliki peran penting dalam sejarah, seperti Hasan bin Ali dan Husain bin Ali.
Kehidupan rumah tangga Ali dan Fatimah bukan kehidupan kemewahan. Mereka hidup sederhana, bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa tangan Fatimah melepuh karena menggiling gandum sendiri. Namun di dalam kesederhanaan itu terdapat kedekatan spiritual yang mendalam. Ali bukan hanya suami seorang putri Nabi, tetapi juga sahabat setia dalam suka dan duka keluarga kenabian.