Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana

Ahmad Wahyudi
Chapter #5

"Ahad di Bawah Batu: Tangis dan Kemuliaan Bilal bin Rabah"

“Ahad di Bawah Batu: Tangis dan Kemuliaan Bilal bin Rabah”

Namanya adalah Bilal bin Rabah al-Habasyi. Ia bukan bangsawan Quraisy. Ia bukan pedagang kaya. Ia bukan pula tokoh yang memiliki kabilah kuat untuk melindunginya. Ia adalah seorang budak berkulit hitam dari Habasyah yang diperjualbelikan di pasar Makkah. Dalam struktur sosial Arab saat itu, ia berada di lapisan paling bawah. Tidak memiliki kehormatan kabilah. Tidak memiliki suara. Tidak memiliki perlindungan.

Namun sejarah justru memilihnya untuk berdiri di tempat yang paling tinggi: menara panggilan tauhid.

Bilal dimiliki oleh Umayyah bin Khalaf, salah satu pemuka Quraisy yang keras memusuhi Islam. Hidup Bilal sebelum Islam adalah hidup seorang budak: bekerja, diperintah, dan tidak memiliki kebebasan atas dirinya sendiri. Tetapi ketika cahaya Islam menyentuh hatinya, ia menemukan sesuatu yang bahkan tuannya tidak miliki—kemerdekaan jiwa.

Melalui dakwah Nabi Muhammad ﷺ dan perantara sahabat-sahabat awal, Bilal mengenal kalimat tauhid. Ia memahami bahwa Allah adalah satu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan bahwa semua manusia setara di hadapan-Nya. Bagi seorang budak, kalimat itu bukan sekadar teologi. Itu revolusi batin.

Ketika Umayyah mengetahui bahwa Bilal telah memeluk Islam, murkanya tak terukur. Ia tidak hanya merasa kehilangan budak, tetapi merasa ditantang dalam kekuasaan. Ia mulai menyiksa Bilal dengan siksaan yang melampaui batas kemanusiaan.

Bilal diseret ke padang pasir Makkah saat matahari berada tepat di atas kepala. Pasir yang panas membakar kulitnya. Ia ditelentangkan. Sebongkah batu besar diletakkan di atas dadanya. Tuannya berkata bahwa ia akan terus disiksa sampai ia mencela Muhammad dan kembali menyembah Latta dan Uzza.

Dalam kondisi tubuh yang terjepit dan napas yang berat, Bilal tidak berteriak panjang. Ia tidak berdebat. Ia hanya mengucapkan satu kata: “Ahad… Ahad…”

Satu. Satu.

Kalimat itu sederhana. Tetapi dalam konteks itu, ia adalah bentuk perlawanan paling murni. Bilal tidak memiliki pedang. Tidak memiliki pasukan. Tidak memiliki keluarga yang membelanya. Ia hanya memiliki keyakinan.

Siksaan itu berulang hari demi hari. Tubuhnya lemah. Kulitnya melepuh. Namun kata yang keluar dari bibirnya tetap sama. Ahad.

Di sinilah kita melihat bahwa kemerdekaan sejati bukanlah bebas secara fisik, melainkan bebas dalam hati. Tubuh Bilal diperbudak, tetapi jiwanya telah merdeka.

Lihat selengkapnya