“Pedang yang Berbalik Arah: Kisah Khalid bin al-Walid, Sang Saifullah”
Namanya adalah Khalid bin al-Walid bin al-Mughirah al-Makhzumi. Ia lahir di Makkah dari Bani Makhzum, salah satu kabilah Quraisy yang terkenal kuat dalam militer dan strategi perang. Ayahnya, al-Walid bin al-Mughirah, adalah tokoh terpandang dan kaya. Sejak kecil, Khalid ditempa dalam tradisi keprajuritan. Ia belajar menunggang kuda, memegang tombak, membaca pergerakan pasukan, dan menyusun siasat. Tubuhnya kuat, pikirannya tajam, dan naluri perangnya alami.
Ketika Islam datang, Khalid tidak langsung menerima. Ia menyaksikan dakwah Nabi Muhammad ﷺ sebagai ancaman terhadap tradisi dan kekuasaan Quraisy. Dalam Perang Uhud, Khalid yang saat itu masih musyrik memainkan peran menentukan. Melihat celah ketika pasukan pemanah Muslim meninggalkan posisi mereka, ia memimpin serangan kavaleri dari belakang. Strategi itu membalikkan keadaan dan menyebabkan kaum Muslimin mengalami kekalahan pahit.
Sejarah mencatat peristiwa itu sebagai bukti kejeniusannya dalam membaca medan perang. Namun sejarah juga mencatat bahwa pada saat itu, kecerdasan itu berdiri di sisi yang berlawanan dengan kebenaran.
Khalid tidak buta terhadap kualitas Nabi Muhammad ﷺ. Ia melihat keteguhan beliau, akhlak beliau, dan disiplin pasukan Muslim yang tidak biasa. Namun hatinya belum terbuka. Hingga Perjanjian Hudaibiyah terjadi dan Islam semakin kokoh. Khalid mulai menyadari bahwa perlawanan terhadap Nabi bukan hanya sulit, tetapi sia-sia.
Titik baliknya terjadi menjelang penaklukan Makkah. Ia merenung. Ia berpikir. Ia melihat bahwa banyak tokoh Quraisy telah masuk Islam, termasuk ‘Amr bin al-‘Ash dan Utsman bin Thalhah. Ia merasa tidak pantas terus berdiri di sisi yang kalah secara moral.
Ia berangkat menuju Madinah untuk menemui Rasulullah ﷺ. Dalam perjalanan, ia bertemu dengan ‘Amr bin al-‘Ash dan keduanya sepakat untuk masuk Islam. Ketika Khalid tiba di hadapan Nabi, ia mengucapkan syahadat. Rasulullah ﷺ menyambutnya dengan hangat dan berkata bahwa ia telah mengetahui kecerdasan Khalid dan berharap kecerdasan itu digunakan untuk Islam.
Sejak hari itu, pedang Khalid berbalik arah.
Ia tidak menunggu lama untuk membuktikan kesetiaannya. Dalam Perang Mu’tah, ketika tiga panglima Muslim—Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah—gugur satu per satu, pasukan dalam keadaan genting. Khalid mengambil alih komando tanpa penunjukan resmi. Dengan manuver taktis yang cermat, ia menyelamatkan pasukan dari kehancuran total dan membawa mereka kembali ke Madinah.
Setelah peristiwa itu, Rasulullah ﷺ memberinya gelar “Saifullah”—Pedang Allah.
Gelar itu bukan sekadar simbol keberanian, tetapi pengakuan atas perannya sebagai pelindung umat dalam situasi kritis.
Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalid memegang peran sentral dalam Perang Riddah melawan kelompok-kelompok yang memberontak dan mengaku nabi palsu, seperti Musailamah al-Kadzdzab. Dalam Perang Yamamah, pertempuran berlangsung sengit. Banyak penghafal Al-Qur’an gugur. Khalid memimpin pasukan dengan disiplin tinggi hingga Musailamah berhasil dikalahkan.