Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana

Ahmad Wahyudi
Chapter #7

"Saudagar Surga: Ketika Harta Tunduk pada Iman — Kisah Abdurrahman bin Auf"

Baik. Kita akan memasuki kisah seorang lelaki yang membuktikan bahwa kekayaan tidak selalu menjerumuskan—justru bisa menjadi jembatan menuju surga.

“Saudagar Surga: Ketika Harta Tunduk pada Iman Kisah Abdurrahman bin Auf”

Namanya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdul Auf az-Zuhri al-Qurasyi. Ia berasal dari Bani Zuhrah, kabilah yang sama dengan Aminah binti Wahb, ibu Nabi Muhammad ﷺ. Sebelum Islam, namanya adalah Abd Amr. Setelah memeluk Islam, Rasulullah ﷺ menggantinya menjadi Abdurrahman.

Ia termasuk golongan as-sabiqun al-awwalun, orang-orang yang pertama kali memeluk Islam. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Pada saat itu, menerima Islam berarti mempertaruhkan status sosial, bisnis, bahkan keselamatan.

Abdurrahman tidak ragu.

Padahal ia adalah seorang pedagang sukses di Makkah. Ia memiliki jaringan dagang yang luas. Ia mengerti pasar. Ia memahami perputaran modal. Ia tahu cara membaca peluang. Namun ketika iman datang, ia memilih risiko yang lebih besar daripada kerugian dagang ia memilih risiko sosial.

Tekanan mulai datang. Ia disiksa, diintimidasi, dan diboikot. Namun ia tetap teguh. Ia bahkan termasuk rombongan yang hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan iman dari tekanan Quraisy.

Kemudian datang perintah hijrah ke Madinah.

Hijrah bukan perjalanan romantis. Itu adalah perpisahan dengan tanah kelahiran, rumah, dan seluruh aset yang telah dikumpulkan bertahun-tahun. Ketika Abdurrahman hijrah, ia meninggalkan hampir seluruh hartanya di Makkah.

Ia tiba di Madinah tanpa harta.

Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’ al-Ansari, seorang sahabat Anshar yang kaya raya. Sa’ad berkata dengan tulus bahwa ia memiliki dua kebun dan dua istri; ia menawarkan separuh hartanya dan bahkan siap menceraikan salah satu istrinya agar Abdurrahman dapat menikahinya setelah masa iddah.

Itu bukan basa-basi. Itu ketulusan.

Namun jawaban Abdurrahman menjadi salah satu kalimat paling bersejarah dalam literatur Islam:

“Tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.”

Ia tidak menolak karena sombong. Ia tidak menolak karena merasa mampu. Ia menolak karena ingin berdiri di atas kakinya sendiri.

Ia mulai berdagang dari nol. Ia menjual mentega dan keju. Ia mengamati pasar. Ia membangun kepercayaan. Kejujurannya menjadi modal utama.

Dalam waktu singkat, Allah membukakan pintu rezeki baginya.

Ia kembali menjadi pedagang sukses—bahkan jauh lebih besar daripada sebelumnya. Namun ada satu perbedaan mendasar: kali ini, hatinya tidak lagi terikat pada harta.

Lihat selengkapnya