Kalau Hidup di Zaman Itu Aku Berdiri di Barisan Mana

Ahmad Wahyudi
Chapter #9

"Panah yang Menembus Langit: Sa"ad bin Abi Waqqas dan Doa yang Tidak Pernah Tertolak"

Baik. Kita akan memasuki kisah seorang lelaki yang doanya menembus langit, panahnya menembus barisan musuh, dan keteguhannya menembus tekanan keluarga sendiri.

“Panah yang Menembus Langit: Sa’ad bin Abi Waqqas dan Doa yang Tidak Pernah Tertolak”

Namanya adalah Sa’ad bin Abi Waqqas Malik bin Uhaib az-Zuhri al-Qurasyi. Ia berasal dari Bani Zuhrah, satu kabilah dengan ibu Nabi Muhammad ﷺ, Aminah binti Wahb. Ia masuk Islam di usia muda, sekitar tujuh belas tahun. Saat itu, jumlah kaum Muslimin masih sangat sedikit, dan menjadi Muslim berarti bersiap menghadapi tekanan sosial yang kejam.

Sa’ad termasuk dalam golongan awal yang memeluk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia tidak menunggu mayoritas. Ia tidak menunggu suasana aman. Ia memilih kebenaran ketika kebenaran belum populer.

Keputusan itu mengubah hidupnya secara drastis.

Ibunya, Hamnah binti Sufyan, sangat marah ketika mengetahui ia memeluk Islam. Dalam tekanan emosional yang berat, ibunya bersumpah tidak akan makan dan minum sampai Sa’ad kembali kepada agama leluhur. Ia duduk di bawah terik matahari, melemahkan tubuhnya sendiri, berharap hati anaknya luluh.

Sa’ad menghadapi ujian yang lebih berat daripada perang: ujian antara iman dan bakti kepada orang tua.

Ia datang kepada ibunya dan berkata dengan penuh hormat, “Wahai ibuku, demi Allah, jika engkau memiliki seratus nyawa lalu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agama ini.”

Ia tetap lembut, tetapi tidak goyah.

Peristiwa ini diabadikan dalam firman Allah dalam Surah Luqman ayat 15, yang memerintahkan berbuat baik kepada orang tua, tetapi tidak menaati mereka dalam kemaksiatan. Sa’ad menjadi contoh keseimbangan antara keteguhan iman dan adab kepada keluarga.

Di masa awal Islam, Sa’ad sudah menunjukkan keberaniannya. Dalam satu riwayat, ia menjadi orang pertama yang melepaskan anak panah dalam perjuangan Islam. Ketika sekelompok musyrik menyerang kaum Muslimin, Sa’ad membela mereka dengan busur dan panahnya. Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya, “Lemparlah, wahai Sa’ad. Ayah dan ibuku menjadi tebusan bagimu.” Kalimat ini menunjukkan kedudukan istimewanya.

Dalam Perang Badar, Sa’ad berada di barisan depan. Ia meminta kepada Nabi agar diberi kesempatan berhadapan dengan musuh yang paling ia kenal, dan ia bertempur dengan keberanian luar biasa. Di Uhud, ia tetap setia di sekitar Rasulullah ketika sebagian pasukan kocar-kacir.

Namun keistimewaan Sa’ad bukan hanya pada panahnya. Ia dikenal sebagai sahabat yang doanya mustajab.

Rasulullah ﷺ pernah mendoakannya: “Ya Allah, kabulkanlah doanya dan tepatkanlah lemparannya.” Doa itu menjadi bagian dari sejarah hidupnya.

Ada kisah ketika seseorang menuduh Sa’ad tidak adil dalam memimpin Kufah. Tuduhan itu menyakitkan, karena Sa’ad dikenal sebagai sahabat yang jujur. Ia mengangkat tangan dan berdoa agar jika orang itu berdusta, Allah memperpanjang umurnya dalam kesengsaraan. Riwayat menyebutkan bahwa orang tersebut hidup panjang dalam keadaan menyedihkan, menjadi pelajaran bagi masyarakat.

Namun Sa’ad bukan sosok pendendam. Ia adalah pemimpin yang lembut dan tegas sekaligus.

Lihat selengkapnya