Kita akan memasuki kisah seorang lelaki yang tubuhnya menjadi perisai, tangannya lumpuh demi melindungi Nabi, dan namanya disebut sebagai “syahid yang berjalan di bumi”.
“Perisai di Hari Uhud: Thalhah bin Ubaidillah dan Tubuh yang Menjadi Benteng”
Namanya adalah Thalhah bin Ubaidillah bin Utsman at-Taimi al-Qurasyi. Ia berasal dari Bani Taim, kabilah yang sama dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia tumbuh sebagai pemuda cerdas dan pedagang yang sering bepergian ke Syam. Di sanalah, dalam satu perjalanan dagang, ia mendengar kabar tentang munculnya seorang nabi di Makkah.
Seorang rahib di Busra bertanya kepada rombongan dagang dari Makkah apakah telah muncul seorang nabi di tanah mereka. Thalhah menyimpan pertanyaan itu dalam hati. Sekembalinya ke Makkah, ia mendengar bahwa Muhammad bin Abdullah telah mengaku sebagai utusan Allah.
Ia mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq. Setelah berbincang, Thalhah menerima Islam tanpa ragu panjang. Ia termasuk golongan awal yang memeluk Islam, di saat tekanan terhadap kaum Muslimin sangat keras.
Masuk Islam berarti siap kehilangan banyak hal.
Ia disiksa bersama Abu Bakar oleh Nawfal bin Khuwailid. Mereka diikat dalam satu tali dan dipukul. Namun Thalhah tetap teguh. Ia bukan sosok yang banyak berbicara tentang penderitaan, tetapi sejarah mencatat bahwa ia termasuk yang paling awal menanggung risiko iman.
Ia tidak ikut Perang Badar karena sedang dalam misi pengintaian bersama Sa’id bin Zaid atas perintah Rasulullah ﷺ. Meski tidak hadir di medan, ia tetap mendapat bagian rampasan dan pahala, karena keberangkatannya adalah bagian dari strategi perang.
Namun namanya bersinar paling terang pada Perang Uhud.
Hari itu adalah hari yang berat bagi kaum Muslimin. Pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, dan Khalid bin al-Walid yang saat itu masih musyrik memimpin serangan balik dari belakang. Kekacauan terjadi. Banyak sahabat gugur. Rasulullah ﷺ terluka. Isu bahwa beliau telah wafat menyebar.
Dalam momen paling genting itu, sebagian sahabat bertahan di sekitar Rasulullah. Di antara mereka adalah Thalhah bin Ubaidillah.
Ia berdiri di depan Nabi, menjadi perisai hidup. Anak panah dan pedang menghujani sekeliling. Thalhah melindungi tubuh Rasulullah dengan tubuhnya sendiri. Tangannya terangkat untuk menahan serangan, hingga jarinya terputus dan tangannya lumpuh.
Dalam riwayat disebutkan bahwa ia mengalami lebih dari tujuh puluh luka di tubuhnya pada hari itu. Setiap luka adalah saksi kesetiaan.
Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya, “Barang siapa ingin melihat seorang syahid yang berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.”
Ia tidak mati di Uhud, tetapi pengorbanannya setara dengan syahid.
Bayangkan seseorang berdiri ketika yang lain mundur. Ketika hidup dan mati dipisahkan oleh satu langkah. Ketika ketakutan manusiawi bertemu dengan cinta yang lebih besar.
Itulah Thalhah di Uhud.
Namun kisahnya tidak berhenti di sana.