Kalau Kakak Jadi Pergi

RayaKaye
Chapter #1

Bab 1 Paha Ayam

ASMI


Orang dewasa selalu punya cara yang aneh untuk memberi tahu sesuatu.

Kalau Ibu sedang gembira, sendok, tutup panci, dan kuali di dapur seperti sedang bernyanyi bersama.

Ting-ting, tang-tang...

Bunyinya ramai tetapi enak didengar. Kalau Ibu sedang kesal, bunyinya lain lagi,

Brak! Dung! Ting!

Seperti semua panci dan sendok sedang bertengkar satu sama lain.

Beda lagi dengan Bapak.

Kalau sedang banyak pikiran, Bapak bisa minum kopi yang sudah dingin tanpa sadar. Kadang Bapak cuma menatap televisi yang mati, atau pagar di luar rumah, lama sekali.

Aku sering melihat Ibu dan Bapak begitu, tapi tidak pernah tahu kenapa.

Dari kamarku yang paling ujung, aku tahu Ibu sedang menggoreng telur dadar. Bukan karena baunya semerbak. Aku tahu dari suara omelan Ibu. Kalau sedang memasak telur, omelannya selalu beda.

“Halah, kena tipu Pak Asep lagi. Beli lima butir telur, duanya busuk. Mahal pula.”

Atau,

"Eh, daun bawangnya habis lagi. Duh, Bapak, sih, disuruh nanem di depan rumah nggak pernah dikerjain. Masak harus bolak-balik ke pasar terus!"

Atau yang paling sering,

"Adit! Bangun! Udah sore!"

Kakak laki-lakiku itu harus diteriaki dulu baru mau keluar dari kamarnya.   


Aku mengintip dari balik pintu dapur. Sudah kuduga.

Ibu menyembunyikan satu paha ayam yang besar dan gemuk itu di piring kecil terpisah. Ditutup tudung saji, lalu diletakkan di pinggir kompor supaya tetap hangat.

Dua paha ayam paling enak itu.

Satu sudah pasti untuk Kak Adit. Entah karena dia anak laki-laki satu-satunya, entah karena kalau tidak kebagian, dia bisa mengomel seharian.

Yang satu lagi untuk Kak Anna. Kakak sulungku yang belum pulang. Dia memang selalu pulang paling malam, dan Ibu selalu menyisihkan bagian terbaik untuknya sebelum ada yang sempat menyentuhnya.

Bapak pulang sekitar pukul setengah lima dengan jaket yang masih meneteskan air. Hujan belum juga berhenti sejak siang. Bapak langsung masuk ke kamar tanpa banyak bicara.

Tak lama kemudian, Kak Adit keluar dari kamarnya dengan rambut acak-acakan seperti belum disisir sejak pagi dan wajah yang masih setengah mengantuk. Begitu duduk di meja makan, ponselnya langsung berada di tangan.

Game. Selalu game.

"Adit, matiin dulu. Makan yang bener," seru Ibu dari dapur.

"Bentar, bentar. Ini lagi seru."

"Adit!"

"Iya, iya."

Tapi ponselnya tidak benar-benar dimatikan. Dia hanya mengecilkan volumenya.

Bapak bergabung, dan duduk di ujung meja. Seperti biasa, pandangannya langsung mengarah ke televisi. Kadang televisinya bahkan tidak menyala, tetapi mata Bapak tetap menatap layar hitam itu.

Datang.

Duduk.

Mengunyah.

Tatapannya entah pergi ke mana.

Sejak kecil aku melihat Bapak begitu, dan sekarang aku sudah berhenti merasa heran.

Aku duduk di kursi paling ujung, yang paling dekat dengan pintu dapur. Tidak ada yang pernah menyuruhku duduk di sana. Pokoknya, sejak dulu memang begitu.

Lama-lama kursi itu terasa seperti memang milikku.

Ibu keluar membawa nasi, sayur, sambal, lalu sepiring ayam goreng yang isinya sudah berkurang. Aku membantu meletakkan piring di depan masing-masing.

Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Memang sedari dulu begitu.

Kak Adit langsung mengambil paha ayamnya dengan tangan kiri, sementara matanya tetap menempel pada layar ponsel.

Ibu mengambilkan Bapak sepotong dada ayam dan sayur yang banyak.

Aku mendapat giliran terakhir. Aku mengambil sayap ayam yang tidak dipilih siapa-siapa. Kurus, hampir tidak ada dagingnya. Tetapi aku tetap memakannya pelan-pelan.

Lalu kami makan dalam diam.

Ibu tidak bicara.

Bapak juga tidak.

Kak Adit mengunyah sambil sesekali mengetuk layar ponselnya.

Lihat selengkapnya