ANNA
Aku menatap cermin.
Masih sama. Rambut tebal bergelombang, kulit putih mulus, wajah yang kata orang-orang, "cakep banget kayak artis."
Tapi pagi ini yang aku lihat bukan itu.
Aku melihat perempuan dua puluh tahun yang tidak bisa membeli skincare baru bulan ini. Tadi malam aku menaruh tiga item di keranjang belanja, lalu menutup aplikasinya, lalu berbaring menatap langit-langit sampai ketiduran.
Tidak checkout.
Karena tidak punya uang.
Dulu tidak seperti ini. Dulu aku bisa beli apapun. Dulu aku sering mentraktir teman-teman. Dulu aku yang selalu bilang, "Ayo nongki ke kafe, aku traktir."
Sekarang? Sekarang aku lebih sering menghitung recehan untuk ongkos angkot pulang-pergi kampus.
Aku menghela napas. Mengambil tas, lalu keluar kamar.
Di dapur, Ibu sudah sibuk di depan wajan. Bau bawang dan cabai, asap tipis mengepul ke atas langit-langit rumah. Ada nasi bungkus di ujung meja—bekal untukku. Ibu selalu menyiapkannya, tidak peduli seberapa pagi aku bangun, ibu sudah di dapur lebih dulu dan bekalku sudah siap tersaji.
"Anna, makan dulu, gih. Ibu sudah siapkan gulai ayam kesukaanmu."
"Udah telat, nih Bu. Aku bawa bekalnya ya. Makasih Ibu," jawabku sambil mencium pipi kiri Ibu.
“Kamu sarapan dulu."
Aku menggeleng, “Lagi nggak lapar, Bu.”
"Tapi—"
Aku segera berlari keluar rumah, menghindari drama pagi-pagi tolak menolak sarapan dengan Ibu.
Sebenarnya itu bohong.
Aku lapar. Tiap hari aku kelaparan.
Apalagi pagi-pagi, perutku selalu bunyi keroncongan. Tapi demi menghemat pengeluaran uang keluargaku untuk lauk-pauk, aku menghemat asupan untuk perutku.
Aku hanya makan dua kali sehari, sekali makan berat, satu kali lagi cemilan. Metode ini sangat menghemat uang di rumah dan uang saku ku. Walaupun kadang aku seperti orang sakit, berjalan lemah lesu ke sana-kemari.
Lagian, saat melihat Adit yang sudah duduk di meja makan pagi itu, dengan dua telur di piringnya—satu kuning penuh, satu lagi putih, digoreng terpisah sesuai caranya sendiri—sambil pegang ponsel dengan posisi badan yang tidak pernah berubah sejak kelas delapan, merubah mood-ku.
Ibu terlalu memanjakannya, hingga dialah orang di rumah ini yang paling banyak menghabiskan lauk-pauk tanpa peduli kata-kata berhemat.
Tapi, kata dokter, telur tiap pagi itu bagus untuk tubuhnya. Mau gimana lagi. Aku sudah tidak bisa bilang apa-apa kalau soal Adit.
Aku berjalan keluar rumah.
Pintu depan bunyi berdecit. Sudah berbulan-bulan begitu, sudah berbulan-bulan Ibu minta Bapak untuk memperbaikinya, sudah berbulan-bulan Bapak bilang nanti. Tapi berbulan-bulan setelahnya masih belum dikerjakan.
Bapak sedang duduk di kursi bambu teras rumah, menatap jalan yang masih sepi. Tidak ngapa-ngapain. Hanya duduk dan menatap sesuatu nan jauh, seperti orang yang menunggu sesuatu yang tidak tahu kapan datangnya.
"Pergi kuliah, Nak?" tanyanya.
"Iya, Pak."
Bapak mengangguk kecil.
Aku pamit lalu berjalan ke ujung gang, menunggu angkot.
Kampus pagi itu ramai seperti biasa. Mahasiswa di mana-mana, berkelompok, ada yang bawa laptop, ada yang bawa tumbler, ada yang jalan berdua sambil bergendengan tangan.
Dari kejauhan, ada satu warung kopi di ujung jalan menuju gedung B yang aku hindari sejak tahun lalu. Bukan karena kopinya downgrade. Kopinya enak, malah—cold brew-nya paling murah dan yang jualnya tidak pelit es.
Tapi Dira dan yang lainnya sering nongkrong di sana dari siang hari sampai sore, ribut soal dosen, gosip atau drama yang tidak penting. Biasanya aku juga ikut bergabung dengan mereka. Tapi semenjak aku mulai hitung-hitungan soal uang, aku tidak bisa lagi minum kopi kesayanganku itu tiap hari.
Belum lagi mencari alasan bagus dan masuk akal setiap bertemu. Sudah puluhan kali aku mengelak dengan kata-kata pamungkas, "nanti aja, lagi banyak tugas." Sampai mereka berhenti mengundang, untuk kali ini lebih baik aku memilih memutar arah jalan pulang dua ratus meter lebih jauh supaya tidak berpapasan dengan mereka.
Dua ratus meter yang terasa jauh waktu pertama kali.
Sekarang tidak terasa jauh sama sekali.
Aku belok kiri. Lewat lorong belakang, memutar melewati gedung D, keluar di sisi lain gedung perpustakaan yang lebih sepi. Butuh lima menit lebih lama.
Tapi tidak ada yang akan melambai dan berteriak "Anna! Ke sini!" dan aku harus berdiri di sana senyum-senyum sambil memutar otak, menghitung apakah dua puluh ribu yang tersisa di dompet cukup untuk ikut patungan atau tidak.
Tidak. Lebih baik tidak lewat sana.
Aku sudah hafal rute ini, dan aku kuat hidup seperti ini tiap hari.
Di perpustakaan, aku memilih meja pojok yang paling jarang orang datangi. Keluarkan laptop—yang layarnya sudah mulai gelap di sudut kiri atas dan charger-nya harus diposisikan agak miring supaya bisa terisi. Buka file skripsi yang sudah berbulan-bulan isinya tidak bertambah dari tiga halaman.
Jari-jariku tidak bergerak.
Di luar jendela, ada dua mahasiswi duduk di bangku taman, tertawa-tawa soal sesuatu yang tidak terdengar jelas. Aku menatap mereka lebih lama dari yang seharusnya, lalu tersadar, lalu mengalihkan pandangan ke layar laptop kembali.
Tiga halaman. Kursor berkedip-kedip di akhir kalimat yang tidak selesai.
Ponselku tiba-tiba bergetar. Pesan dari Ibu.
"An, pulangnya jangan terlalu malam. Bapak mau bicara sesuatu sama kamu."