ADIT
Aku sudah di level 47 sewaktu Asmi mengetuk pintu kamarku tiga kali.
Artinya makanan sudah siap di atas meja. Artinya aku bisa keluar sekarang atau lima belas menit lagi atau tidak sama sekali, tergantung mood dan tergantung apakah yang dimasak Ibu hari ini sesuatu yang worth it untuk ditinggalkan demi game yang sedang kumainkan.
Aku ketuk balik dua kali—kode bahwa aku sudah mendengarnya—dan lanjut main lagi.
Aku mendengar adikku mendecak sebelum turun ke lantai bawah—tanda kalau dia kesal, kemudian melapor pada Ibu kalau aku tidak mau makan.
Empat menit kemudian bos level 47 mati. Simpan permainan, lempar kontroler ke kasur, dan segera turun ke meja makan, tanpa mengganti baju baru, dengan rambut yang jelas belum disisir sejak kemarin.
Aku turun tergesa-gesa, hampir tersungkur karena harus menampakkan wujudku sesegera mungkin sebelum Ibu naik dan mengomel panjang lebar.
Tidak lupa juga aku membuka tirai jendela, membiarkan tubuh dan ragaku mendapati asupan cahaya matahari sebentar.
Rumah kami memang bukan rumah yang besar, tetapi juga tidak sesempit yang dibayangkan orang. Bapak dan Ibu bahkan bisa memberi setiap anaknya kamar sendiri. Anna mendapat kamar paling luas. Asmi kebagian kamar paling mungil. Sementara aku menempati ruangan lantai atas. Bukan benar-benar lantai dua, melainkan loteng yang disulap menjadi kamar.
Ini kamar terbaik di rumah ini.
Karena jendelanya. Letaknya menghadap langsung ke luar rumah. Jadi, meski aku mengurung diri seharian, sinar matahari pagi tetap menyelinap masuk, menghangatkan lantai dan sudut-sudut kamarku.
Saat malam tiba, cahaya rembulan bersinar ganti mengambil giliran.
Aku bangun jam sebelas tadi pagi, karena memang tidak ada yang perlu aku tepati pagi ini, atau siang ini, atau besok dan seterusnya.
Jika bukan dibangunkan karena dadaku kembali berdebar sedikit lebih cepat— tidak terlalu keras, tapi terasa seperti ada yang mengetuk dari dalam tulang rusuk dengan irama yang tidak beraturan, mungkin waktu lelapku bisa diperpanjang sampai sore. Itupun kalau ibu tidak mengomel, atau mood-nya lagi baik-baiknya.
Kepalaku juga sedikit pusing tadi pagi.
Sudah biasa. Efek obat, kata dokter.
Dengan berbaring sebentar, menunggu detaknya stabil, lalu duduk pelan-pelan, pusingnya akan segera hilang.
Dokter menyebutnya dengan istilah yang panjang dan aku tidak hafal. Yang aku ingat hanya tiga kata setelahnya, jangan terlalu lelah.
Yang artinya tidak boleh olahraga berat.
Yang artinya waktu semua teman SMA-ku main bola di lapangan belakang sekolah setiap Jumat sore, aku hanya boleh duduk di pinggir dengan air minum dan pura-pura asik main ponsel.
Yang artinya tahun lalu, waktu semua orang sibuk tes masuk perguruan tinggi, aku juga daftar—lulus administrasi suatu universitas negeri, sampai ke tahap berikutnya—lalu terhenti di tahap itu karena pemeriksaan kesehatan yang hasilnya tidak memuaskan.
Aku hanya bilang ke Ibu, "Nggak lolos administrasi."
Ibu hanya mengangguk, tidak tanya lebih lanjut.
Sampai sekarang tidak ada yang tahu versi yang sebenarnya... dan aku tidak berencana cerita.
Kalau Ibu tahu, Ibu akan tambah khawatir. Kalau Ibu tambah khawatir, wajahnya akan semakin terlihat letih, tersiksa, merasa berssalah karena tidak bisa menjagaku. Dan aku sudah cukup, menyaksikan ekspresi itu setiap kalinya.
Lebih baik Ibu pikir aku pemalas daripada berpikir aku tidak bisa menjadi seperti teman-temanku, berkembang, terhambat karena kesehatanku yang kuderita sejak kecil. Lebih mudah untuknya dan untuk semua orang.
Di meja makan, Asmi sudah hampir selesai. Ibu tidak ada—suaranya terdengar dari dapur, ngomong sendiri atau ngomong ke panci, tidak jelas yang mana. Bapak duduk di ujung meja dengan tatapan yang diarahkan ke televisi yang tidak menyala, seperti benda itu sedang menyiarkan sesuatu yang hanya bisa dilihat Bapak saja.
Anna tidak ada.
Kursinya kosong tapi piringnya sudah disiapkan Asmi. Ada nasi, lauk, sayur, lengkap ditutupi plastik di atasnya supaya tidak dihinggapi lalat.
Aku ambil lauk yang tersisa, duduk di kursi yang tidak ada pemilik resminya karena kursi ini adalah kursi yang selalu diduduki siapapun yang datang duluan, dan mulai makan sambil buka ponsel.
"Matiin dulu," kata Ibu dari dapur.
"Bentar."
"Adit!"
"Iya." Aku turunkan volume. Tapi tidak dimatikan.
Asmi melirikku dari seberang meja. Dia tidak bilang apa-apa tapi matanya seolah-olah berkata, “Kamu orang yang ngeselin.” Aku sengaja mengangkat sebelah alis sambil menyeringai, yang artinya memang. Dia langsung memutar bola mata, lalu kembali menatap piringnya.
Aku menahan tawa.
Menjahili adik kecilku selalu membuat hari-hari beratku menjadi sedikit lebih tenang. Seperti, saat dia sedang serius mengerjakan prakaryanya, aku mnyeletuk,
“Ini gambar si Kotan, kucing oyen gang komplek kita?
“Iya,” jawabnya.
“Kok, mirip bapak-bapak,” ejekku yang membuat bibirnya manyun, dan keningnya berkerut-kerut.
Sambil cekikikan, aku memperbaiki gambarnya. Membantunya menghapus garis-garis yang kurang rapi. Lalu, setelahnya menyeruput es teh di atas meja belajarnya—hampir sisa setengah, yang dia buat sendiri,
“Enak,” jawabku bersendawa.
“Kak!” rengeknya, “Asmi kan belum minum!”
“Tes racun.”
Dia terdiam seribu bahasa.
“Makanya, cepetan habiskan,” selaku nyengir kemudian keluar dari kamarnya.
Menggemaskan sekali. Tidak ada yang bisa mengalahkan pipi gembul dan bibir manyunnya itu, bahkan untuk sekelas anak-anak gang komplek yang berumur di bawahnya.
Tapi, ketika wajahnya yang imut itu berubah murung, atau hampir menangis, karena ulah anak-anak nakal, aku tidak segan-segan akan membalasnya.
Waktu itu Asmi pernah pulang dengan roknya yang penuh lumpur.
Lututnya lecet.
Wajahnya memerah hampir menangis. Tapi saat ditanya Ibu, jawabnya cuma, “Kepleset.”
Aku baru tahu keesokan harinya, cerita dari anak-anak di warung. Katanya, Asmi didorong oleh anak berbadan paling besar dan lebih tua setahun dari Asmi ke selokan.
Namanya Bimo. Anak pindahan. Bapak-Ibunya sudah gak ada. Dia hanya tinggal berdua bersama neneknya di gang sebelah.
Aku langsung menghampirinya, datang ke lapangan. Tampak dia sedang bermain bola bersama anak-anak lain yang beberapa diantaranya adalah kenalanku.
“Bim,” panggilku dengan suara yang sok serius. Sengaja dibuat seseram mungkin.
“Iya?” jawabnya polos.
“Lu yang kemarin dorong Asmi, adek gue, ya?”
“Nggak sengaja, Bang,” sahutnya nyengir.
“Oh,” jawabku singkat. Aku tau dia sengaja.
Aku menatapnya beberapa detik, lalu melirik karung beras sepuluh kilogram yang baru kubawa dari pemilik warung yang diletakkan di dekat kakiku.