Kalau Kakak Jadi Pergi

RayaKaye
Chapter #4

BAB 4 SECARIK KERTAS

ANNA

 

Aku yang meminta mereka kumpul.

Kemarin sore, setelah pulang dan langsung masuk ke kamar Ibu dan mendapat jawaban yang tidak lengkap dan tidak memuaskan, aku memerintah, "Besok malam kita ngobrol. Semua. Di ruang tengah."

Ibu mengangguk dengan raut wajah yang sudah menyerah sebelum apapun dimulai.

Sekarang jam tujuh malam.

Bapak baru sampai, masih bau bengkel dan solar, duduk di ujung sofa dengan tangan di atas lutut. Ibu di sebelahnya, memainkan ujung kerudungnya—kebiasaan yang aku hafal sejak kecil, yang muncul setiap kali Ibu resah akan sesuatu. Adit di kursi samping, kelihatannya tidak membawa ponsel berharganya kali ini. Asmi sudah disuruh masuk ke kamar.

Aku duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan mereka.

"Oke." Suaraku keluar lebih datar dari yang aku rencanakan. "Paman Hendra nulis apa di grup kemaren?"

Sunyi.

"Bu."

Ibu menatap Bapak. Bapak menatap lantai.

"Jawab, Bu."

Yang terjadi setelahnya tidak seperti yang aku bayangkan.

Aku kira Ibu akan menangis duluan. Atau Bapak akan keluar dulu, ambil minum, mengulur waktu. Atau ada yang marah, ada yang defensif, ada yang bilang, "ini bukan saat yang tepat."

Tidak ada seperti itu.

Ibu menarik napas panjang, melepaskannya pelan, dan mulai berbicara—dengan nada yang sudah dipersiapkan, dengan kalimat yang sudah dipikirkan, dengan cara orang yang sudah lama tahu momen ini akan datang dan sudah latihan berkali-kali di kepala walalupun belum benar-benar siap.

Dua puluh tahun lalu, dikontrakan sempit, Ibu dan Bapak yang baru menikah seumur jagung memiliki seorang tetangga. Seorang perempuan muda yang sedang hamil, sendirian, dan tidak punya siapa-siapa di kota. Badannya kurus, dan mudah sakit-sakitan. Ibulah yang menemaninya saat masa-masa kehamilan. Menjadi saudara baru untuk perempuan itu.

Kemudian bayi itu lahir ke dunia. Dua bulan berjalan setelahnya.

Lalu suatu pagi, perempuan itu pergi, tanpa pamit. Di depan pintu kontrakan Ibu, di dalam keranjang, ada seorang bayi dalam bendungan kain dengan secarik kertas di atasnya.

Ibu berhenti sebentar, mengatur napasnya,

"Apa yang tertulis di kertasnya?" potongku cepat. Suaraku terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.

"Tolong jaga dia. Maaf,” jawab Ibu.

Ruangan diam. Semua orang tampak mendengarkan dengan saksama.

Ibu melanjutkan, “Dan, bayi itu bernama, Anna.”

Di sudut mataku, aku lihat Adit tampak membelalakkan matanya.

Aku tidak langsung bereaksi.

Ada jeda—mungkin sepuluh detik, mungkin lebih—di mana aku hanya duduk dan menatap Ibu. Otakku melakukan sesuatu, semacam pengecekan ulang, seperti komputer yang tiba-tiba menerima file yang ukurannya terlalu besar dan butuh waktu banyak sebelum bisa membacanya. Menelaah, dan menafsirkan ulang.

"Dua puluh tahun," kataku.

Lalu sesuatu di dalam dadaku mulai terasa sesak.

"Dua puluh tahun kalian tahu dan tidak pernah mengungkapkannya?"

Ibu membuka mulut, “Nak—" lalu menutup lagi.

"Kami menunggu waktu yang tepat—"

"Dua puluh tahun bukan waktu yang cukup?" Suaraku naik. Aku tidak merencanakan itu—tapi sekarang sudah menyeruak keluar dan aku tidak bisa tarik kembali.

"Tidak ada satu momen dalam dua puluh tahun yang kalian pikir cukup tepat untuk bilang hal ini ke aku?"

"Anna." Bapak bicara. Satu kata, dengan nada yang tidak pernah aku dengar dari Bapak sebelumnya.

Sontak aku terdiam. Padahal begitu banyak suara di kepalaku yang ingin menyeruak untuk keluar bersamaan.

"Kamu dengar dulu sampai selesai," tukasnya.

Tenggorokanku rasanya tercekat, bahkan hanya untuk menelan.

Ibu lanjut bicara.

Administrasi. Surat adopsi. Nama di akta kelahiran yang dikosongkan atas permintaan perempuan itu sendiri. Tidak ada proses yang disembunyikan dari hukum—semuanya resmi, semuanya tercatat. Yang tidak tercatat hanya satu hal, yaitu kapan semestinya harus bilang padaku.

Dan kapan itu tidak pernah datang.

"Karena kamu adalah anak Ibu," kata Ibu, dan untuk pertama kali malam itu suaranya pecah di ujung kalimat. "Kamu anak kami. Dari hari pertama, kami tidak pernah berpikir kamu anak orang lain."

Aku menatap Ibu.

Wajah Ibu yang sudah hafal aku lihat setiap harinya—garis-garis halus di ujung matanya, bekas cipratan minyak di dagu kirinya yang tidak pernah benar-benar hilang, dan cara Ibu mengedip lebih cepat waktu menahan air mata yang hendak keluar.

Sekarang Ibu mengedip sangat cepat.

Lihat selengkapnya