RATMI
Baju Handoko, suamiku, belum kusetrika.
Jam di dinding menunjukkan pukul setengah empat pagi. Handoko belum bangun. Anak-anak tentu juga masih belum bangun. Di luar masih terlihat gelap tampaknya, karena ayam jago tetangga yang belum berkokok.
Aku menghela napas, berdiri di depan tumpukan baju di keranjang — sudah tiga hari di sana, berniat akan kuselesaikan tapi selalu ada yang lebih dulu perlu dikerjakan. Mungkin juga tidak akan pernah selesai.
Aku mengambil kemeja Handoko yang paling atas dari keranjang, memasangnya di papan setrika. Kusentuh sedikit ujung pinggiran setrika, masih hangat — baru dipanaskan, tapi tanganku sudah mulai bergerak, mengusap permukaan kain dengan gerakan yang sudah begitu hafal sampai tidak perlu dipikirkan. Karena pikiranku hanya berputar-putar pada kejadian malam itu, atau sore harinya, atau jauh dari sebelum itu.
Aku tidak bisa menyalahkan Hendra. Dia mungkin tidak sengaja berkata demikian. Bisa saja pembicaraan itu keluar dari mulut orang lain, suamiku, atau dari diriku sendiri. Dan, lambat laun Anna juga harus mengetahuinya, saat dia menikah kelak. Karena, bukan Handokolah yang menjadi walinya.
Semua itu sudah aku pikirkan jauh-jauh hari. Kami — aku dan Handoko, sudah sering sekali membicarakannya. Merangkai kata-kata yang tepat, yang tidak akan merusak hatinya. Dan hatiku.
Dia anakku. Buah hatiku. Tidak pernah terbesit sekecilpun di hatiku kalau dia anak orang lain, karena aku sangat menyayanginya. Kehadirannya sungguh sangat anugerah terbesar bagiku dan Handoko. Walalupun tidak melahirkannya, tapi aku yang selalu berada di sisinya, baik dari dalam kandungan sampai dia lahir ke dunia.
Handoko waktu itu masih baru-baru bekerja sebagai karyawan di perusahaan tekstil terkenal di Indonesia. Gajinya lumayan, cukup untuk hidup berdua. Kadang dia perhitungan, tetapi, saat Esti tidak punya uang membeli susu formula dan popok, Handoko selalu sigap membelikannya tanpa diminta. Dia juga yang membiayai persalinan dan biaya rumah sakit saat bayi Anna demam tinggi beberapa kali.
Walalupun tidak melahirkannya, akulah ibunya. Aku akan selalu berada di sisinya. Menjadi sandarannya. Menjadi pellindungnya. Tanpa diminta sekalipun. Dan berjanji, akan selalu begitu hingga dia menikah suatu saat nanti, punya anak, hingga akhir hayatku.
Aku berharap, Anna mengerti itu. Mengerti perasaan ku. Ibunya.
Aku menekan setrika lebih kuat ke kain kemeja.
Anna masih mengurung diri di kamarnya. Tidak pernah lagi ke luar rumah, bahkan jarang berbicara dengan anggota keluarga yang lain.
Dulu, saat aku sedang melipat, menyetrika pakaian, Anna selalu menemani.
Bukan karena dia mau membantuku. Anna tidak pernah menawarkan diri untuk hal-hal seperti itu. Dia tipe yang harus kusuruh dulu, baru bergerak, tapi kalau sudah bergerak, semuanya tuntas.
Dia sering muncul dari kamarnya, duduk di kursi plastik di pojokan, membawa camilan, dan mulai cerita banyak hal padaku. Soal teman kampusnya yang banyak drama. Soal pacar. Dosen. Gosip sana-sini hingga soal harga kopi di kafe kampusnya yang naik padahal kualitasnya menurun pun dia cerita.
Sedangkan aku mendengarkan sembari terus menyetrika.
Itu menjadi hiburan bagiku. Mengetahui hari-harinya. Apa yang membuatnya bahagia saat itu, memberi saran jika dia meminta, dan memeluknya jika dia menangis, karena mengalami hari yang buruk.
Kami berdua tim yang kompak. Dan Anna adalah tangan kananku.
Sejak anggota keluargaku bertambah, aku sadar, bahwa menjalankan rumah ini seperti menjalankan mesin tua yang sekrupnya sudah longgar di mana-mana.
Kencangkan satu, yang lainnya lepas.
Kalau Handoko sudah keurus makanannya, Adit lupa minum obat. Kalau Adit sudah diingatkan, Asmi lupa mengerjakan PR. Kalau Asmi sudah beres, baju Handoko belum disetrika. Kalau bajunya sudah disetrika, kompor gas hampir habis dan belum ada yang beli. Kalau gas sudah diganti, aku baru ingat tagihan listrik belum dibayar.
Begitu terus.
Disitulah peran Anna — yang walaupun tidak banyak membantu, sedikit banyaknya sudah meringankan sesuatu yang tidak bisa kukerjakan sendiri.
Dia yang membantu Asmi mengerjakan PR. Dia yang menenangkan Adit saat jantungnya berdebar kencang. Dia yang pertama sadar kalau ada yang kurang di rumah ini.
"Bu, seminggu lagi pajak rumah mau tenggat." "Bu, itu tanaman depan kayaknya mau mati." ,"Bu, sepatu Asmi depannya udah robek."
Detail-detail kecil yang sering kulewatkan, entah karena lupa, atau tidak pernah serius memikirkannya sendiri, dia yang selalu mengingatkanku. Bahkan ketika tidak sempat, dia berinisiatif sendiri mengerjakannya.
Namun, akhir-akhir ini, dia tidak begitu.
Kemarin sabun cuci piring habis, tidak ada yang memberitahuku. Aku baru sadar setelah tanganku penuh busa dari sabun pakaian yang terpaksa dipakai.
Itu salahku.
Dia berhenti kuliah di waktunya hampir lulus.
Itu keputusan sulit yang aku dan Handoko sepakati. Kami berdua kerja keras mencari uang tambahan untuk itu, tapi tidak bisa terpenuhi. Kami sadar, melihat semangat Anna meraih mimpinya, kami bangga dan berjuang untuk mewujudkannya. Tetapi, Handoko diberhentikan dari pekerjaannya.
Perusahaan itu bangkrut, tanpa meninggalkan pesangon yang berarti. Keuangan menjadi tidak stabil, dan hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan biaya obat Adit.
Dengan sangat terpaksa, dia berhenti.
Dia tertekan waktu itu. Aku tau. Dia tidak menampakkannya, tetapi, sejak saat itu dia mulai berubah. Berhenti menjadi tangan kananku.
Anna dulunya adalah anak yang ceria. Cerewet. Aktif sana-sini.
Semua tetangga ku menyukainya. Menyapanya, menanyakan kabarnya, hampir setiap hari. Gurunya di sekolah menyanjungnya, karena dia memiliki banyak prestasi. Anggota paskibra tingkat kota, anggota Osis, sering menang lomba debat antar provinsi. Saat kuliah pun dia juga bergabung di banyak klub. Teman-temannya banyak, dan dia selalu dikerubungi mereka. Layaknya selebriti.
Sekarang, dia tidak begitu. Dia sensitif terhadap apapun, terutama soal uang. Mudah tersulut emosinya bahkan pada hal-hal kecil. Ditambah lagi kejadian yang menimpanya sore itu, yang membuatnya bermuram durja dan memilih menghabiskan waktunya di dalam kamar, bahkan enggan berbicara.
Seperti sistem yang mati.
Jam enam pagi, Adit turun dari lantai dua. Tidak biasanya.
Rambutnya seperti biasa — belum disisir, dengan muka setengah tidur meskipun masuk kamar paling awal, berdiri di sampingku. Matanya menatap ke berbagai arah. Dia membuka kulkas, menatap isinya selang beberapa detik.
"Bu, nggak ada telur?"
"Habis," jawabku.
"Kemarin juga habis."
"Ya makanya beli."
"Siapa yang beli?"
"Ya, kamu."
Adit menutup kulkas dengan bahunya, berbalik dengan ekspresi orang yang baru menerima kabar tidak menyenangkan. Aku tidak menatapnya — masih terpaku di depan wajan, menumis tempe yang sebenarnya tidak butuh perhatian tapi lebih nyaman punya alasan untuk tidak menatap Adit dulu pagi-pagi.