Kalau Kakak Jadi Pergi

RayaKaye
Chapter #6

Bab 6 Apartemen 21

ANNA

 

"Besok jangan lupa, ya."

Aku menatap layar ponsel cukup lama. Pesan terakhir yang kukirim ke akun Instagram @belina_ telah dibalas.

Hanya satu kalimat. Namun entah kenapa, jantungku justru berdebar lebih kencang daripada saat pertama kali menghubunginya.

Tiga minggu sebelumnya, aku sama sekali tidak punya rencana apa pun ketika memberanikan diri mengirim pesan pertama. Aku bahkan sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Diabaikan. Diblokir. Atau dibalas dengan kalimat singkat yang membuatku menyesal sudah mencarinya.

Balasan pertamanya justru membuatku terdiam cukup lama.

"Ini... beneran Anna?"

Beberapa menit kemudian muncul lagi pesannya.

"Aku baca DM kamu berkali-kali sebelum memberanikan diri membalas pesanmu."

Lalu, setelah jeda yang cukup lama...

"Nggak nyangka hari ini benar-benar datang. Aku sangat rindu..."

Aku terdiam waktu itu.

Bingung harus membalas apa. Rasanya aneh membaca kalimat itu dari seseorang yang baru kukenal. Tapi, tetap kubalas, karena aku ingin tahu selanjutnya.

Kami tidak langsung membicarakan masa lalu.

Belina juga tidak langsung menjelaskan apa pun.

Hari pertama hanya saling bertanya kabar. Besoknya mengobrol lagi. Lalu berlanjut ke hari-hari berikutnya. Obrolannya mengalir begitu saja. Tentang Jakarta, tempatnya tinggal, kedai kopi apa yang enak-enak di sana. Tentang bagaimana ia memulai semuanya, setelah bertahun-tahun hidupnya serba kekurangan.

Lalu, sesekali ia bertanya tentangku.

Tentang rumah, Bapak, Ibu dan kedua adikku. Sekolah, kuliah dan tentang hal-hal kecil yang bahkan tidak pernah kupikir menarik untuknya diceritakan.

Cara Belina mengobrol jauh berbeda dari yang kubayangkan. Tidak ada kata basa-basi, beramah-tamah seperti orang yang pertama kali kenal. Saat ia bertanya juga begitu. Tidak ada pertanyaan yang terdengar seperti sedang diwawancarai.

Dia bertanya seperlunya, lalu benar-benar menunggu jawabanku. Bahkan ketika aku berhenti membalas selama beberapa jam, dia tidak menanyaiku dengan pertanyaan baru.

Dia hanya menunggu.

Suatu malam aku akhirnya bercerita lebih banyak. Tentang kuliah yang terpaksa berhenti. Tentang mimpi, yang mungkin tidak bisa terwujud. Tentang rasanya melihat teman-teman satu per satu melangkah maju, sementara hidupku seperti berjalan di tempat.

Pesanku panjang.

Sangat panjang.

Setelah kukirim, tidak ada balasan selama beberapa menit.

Aku sempat mengira dia akhirnya bosan.

Atau mungkin mencari kata-kata yang tepat supaya terdengar seperti seorang...ibu.

Namun, kemudian ia membalas, "Ya... memang begitu hidup, banyak susahnya. Siapa pun yang bilang 'pasti bisa kalau mau usaha' biasanya tidak sedang berada di posisimu."

Titik.

Tidak ada ceramah. Tidak ada kalimat motivasi. Tidak ada kata penyemangat, "Kamu harus tetap semangat."

Hanya pengakuan bahwa semuanya memang sedang sulit.

Aneh.

Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa ada seseorang yang tidak buru-buru memperbaiki hidupku.

Dia hanya... mendengarkannya.

Aku membaca kalimat itu tiga kali. Lalu tanpa sadar membalas dengan cerita yang lebih panjang lagi.

Seminggu kemudian, Belina mengirimi pesan, "Kamu mau ke Jakarta?"

Tanpa pikir panjang, aku membalas, "Mau."

Lalu kami menentukan hari, jam, dan tempat, sebuah kafe di kawasan Jakarta Pusat.

 

Aku datang lima belas menit lebih awal.

Padahal biasanya aku selalu datang mepet waktu. Kadang malah terlambat sedikit, yang membuat semua orang selalu menungguku.

Namun, hari itu berbeda. Aku tidak ingin membuatnya menunggu. Mungkin karena gugup. Mungkin juga karena aku takut, kalau terlambat sedikit saja, keberanianku akan hilang.

Kafe itu jauh lebih mewah daripada yang kubayangkan.

Aku memilih duduk di dekat jendela. Lantai marmernya mengilap seperti baru dipoles. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan. Di setiap meja, berdiri vas kecil berisi mawar putih yang masih segar.

Aroma kopi, roti yang baru keluar dari oven, dan parfum mahal para pengunjung bercampur menjadi satu.

Sudah lima menit waktu berjalan.

Lalu sepuluh.

Tanganku terus memainkan ujung tisu di atas meja. Sesekali mengecek layar ponsel, padahal tidak ada pesan baru. Di kaca jendela, bayanganku terlihat samar. Rambut yang pagi tadi sudah berusaha kurapikan kini mulai berantakan karena terlalu sering kusibakkan. Kemeja yang kupakai memang bersih, tetapi warnanya sudah sedikit pudar. Tas ranselku juga mulai mengelupas di sudut-sudutnya.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar sadar bahwa aku datang dari dunia yang berbeda.

Tak lama setelah itu, pintu kafe terbuka.

Aku langsung mengangkat kepala. Belina masuk.

Entah bagaimana, aku tahu itu dia.

Dia berjalan dengan langkah yang pelan. Gaun cantik berwarna krem jatuh rapi sampai mata kaki. Rambut panjangnya bergelombang, persis seperti yang kulihat di Instagram, hanya saja kini warnanya telah memudar, yang sengaja dibiarkan membingkai wajahnya. Sebuah tas bermerek menggantung di lengannya. Kacamata hitam masih menutupi sebagian wajahnya.

Beberapa orang menoleh padanya.

Aku mengerti kenapa.

Belina bukan hanya cantik.

Ada orang-orang yang ketika masuk ke sebuah ruangan, seolah membawa cahaya mereka sendiri. Belina termasuk salah satunya.

Tatapannya menyapu ruangan sebelum akhirnya berhenti padaku.

Aku berdiri menghadapnya. Dia melepas kacamata hitamnya.

Kami saling menatap beberapa detik, tanpa ada ada yang bergerak.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku...aku melihat mataku sendiri di wajah orang lain.

Belina tersenyum lebih dulu. Hanya sebentar, dan ragu-ragu.

"Hai..." sapanya. Suaranya hampir berbisik.

Aku membalas pelan, "Hai."

Belina tampak hendak mengulurkan tangan, lalu mengurungkannya. Sepersekian detik kemudian, dia justru membuka kedua lengannya.

Boleh?

Dia tidak mengucapkannya. Tetapi matanya bertanya seolah seperti itu.

Aku mengangguk pelan, dan menghampirinya.

Pelukannya hangat. Tidak terlalu lama. Tidak terlalu erat. Seolah dia takut aku akan menarik diri kapan saja. Wangi parfumnya pun tercium, lembut. Aroma bunga segar, seperti di taman bunga.

Saat pelukan itu berakhir, Belina masih menggenggam kedua lenganku. Matanya sudah mulai memerah, "Aku..."

Dia berhenti. Menarik napas, "Aku minta maaf," ucapnya.

Hanya itu.

Tidak ada cerita panjang.

Justru karena sesingkat itu, aku tidak tahu harus menjawab apa.

Kami akhirnya duduk, disertai dengan datangnya pelayan. Belina memesan americano ice untuk dirinya, dan coffee latte untukku, kemudian memesan beberapa makanan juga. Beberapa saat kami hanya mendengarkan suara cangkir dan piring yang diletakkan di atas meja.

Belina tersenyum canggung. Ia memandangku beberapa saat, "Lima belas tahun yang lalu..."

Dia menggeleng, "Bahkan lebih."

"Aku sering membayangkan kalau suatu hari kita akan bertemu."

"Di bayanganku, aku tahu makanan favoritmu."

"Aku tahu warna kesukaanmu."

"Aku tahu apakah kamu kidal atau enggak."

Dia tersenyum lagi.

"Nyatanya..."

Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku hanya diam.

Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu, aku tidak lagi melihat perempuan sukses yang fotonya memenuhi Instagram. Aku melihat seseorang yang sama gugupnya denganku.

Belina mengusap pelan bibir cangkir kopinya, "Aku enggak akan minta kamu mengerti hari ini."

"Aku juga enggak berharap kamu langsung memaafkan."

Dia berhenti sebentar, "Aku cuma... bersyukur kamu mau datang menemuiku," ucapnya.

Aku hanya diam mendengarkan. Kalimat itu membuat dadaku menghangat dengan cara yang aneh.

Selama makan, Belina yang lebih banyak bercerita. Tentang bisnisnya yang mulai berkembang. Tentang bagaimana media sosial pelan-pelan mengubah hidupnya.

Aku mendengarkan sambil sesekali mengangguk. Semuanya terdengar begitu jauh dari hidupku.

Saat pelayan datang mengisi ulang air minum, suasana sempat hening. Aku memainkan sendok di atas piring. Ada satu pertanyaan yang sejak tadi mengganjal di benakku, dan ingin segera diutarakan,

"Kalau..." Aku berhenti. Belina mengangkat kepalanya.

"Ayahku... orangnya seperti apa?"

Sendok di tangan Belina berhenti bergerak. Ia tidak langsung menjawab. Dia menatap cangkir kopinya beberapa saat, lalu mengembuskan napas pelan,

"Aku enggak tahu."

Aku mengernyit, "Maksudnya?"

Belina mengangkat pandangannya. Matanya tetap tenang, “Dulu, dia pacarku.”

"Kami masih terlalu muda."

"Salah bergaul."

"Banyak keputusan bodoh yang kubuat," jelasnya.

Dia tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat wajahnya terlihat jauh lebih ‘manusiawi’ daripada sebelumnya.

Aku bertanya pelan, "Ayahku... dia tahu soal aku?"

Belina terdiam.

Lama.

"Dia tahu," angguknya.

"Terus?" tanyaku lagi. Aku tidak sadar perubahan pada intonasi suaraku yang sedikit meninggi.

Belina menarik napas, "Waktu aku bilang aku hamil..."

Ia berhenti. Jari-jemarinya meremas cangkir itu, "Dia minta maaf."

"Dia bilang...dia enggak siap jadi ayah."

"Lalu dia pergi... setelahnya, aku enggak pernah lihat dia lagi sampai sekarang."

Aku hanya mengangguk pelan.

Tidak ada lagi yang ingin kutanyakan tentang ayahku. Bukan karena semua pertanyaanku sudah terjawab. Melainkan karena aku tahu, jawaban berikutnya tidak akan mengubah apa pun.

Belina mengusap pelan bibir cangkir kopinya, "Aku sering berpikir buat nyari kamu."

Dia berhenti. Jari telunjuknya mengusap pelan gagang cangkir, seolah sedang mencari keberanian untuk melanjutkan.

"...tapi setiap kali hampir kulakukan..." Dia tersenyum tipis,"...aku mundur lagi."

"Kenapa?"

Belina tidak langsung menjawab. Dia memandang ke luar jendela. Mobil-mobil terus melintas tanpa peduli pada percakapan kami.

"Aku takut."

"Aku takut kalau ternyata... kamu sudah bahagia."

Aku mengernyitkan dahiku.

"Kalau aku muncul lagi, mungkin hidupmu malah jadi berantakan."

Dia mengembuskan napas pelan, "Dan kalau ternyata kamu membenciku..." dia menggelengkan kepalanya, "...kurasa aku memang pantas."

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Kami sama-sama terdiam sejenak, sebelum Belina bersuara, "Eh..." ia melirik jam tangannya.

Lihat selengkapnya