ASMI
Kolam ikan di belakang rumah kami sebetulnya bukan kolam sungguhan.
Hanya berupa drum plastik bekas berwarna biru yang catnya sudah memudar di sana-sini. Pinggirannya juga ada beberapa yang penyok. Drum itu Bapak isi air dan taruh beberapa ikan koi kecil di dalamnya ... entah dari mana, entah sejak kapan.
Aku tidak ingat persis, rasanya drum itu memang tiba-tiba muncul begitu saja di sana. Bapak pula yang paling rajin mengurusnya. Setiap pagi sebelum berangkat kerja, beliau selalu berhenti sebentar di depan kolam itu.
Menaburkan pelet.
Melihat airnya.
Kadang membuang daun yang jatuh ke dalamnya.
Kadang cuma berdiri sambil menatap ikan-ikannya berputar.
Aku tidak pernah bertanya, Bapak suka memelihara ikan atau tidak. Sepertinya tidak penting. Yang penting di dalam kolamnya ada ikan hidup dan Bapak berdiri di sana setiap pagi.
Setelah Kak Anna pergi, Bapak sering berdiri di sana lebih lama, bukan lagi menatap jalanan depan rumah yang sepi.
Hari ini hari Sabtu.
Tidak ada sekolah, tidak ada yang mengharuskan bangun pagi, tapi aku sudah bangun dari setengah tujuh karena dari kamarku terdengar suara Ibu di dapur.
Kalau sudah mendengar kuali, sendok, dan panci berdering bersautan, artinya hari sudah dimulai dan berbaring lebih lama terasa seperti ketinggalan sesuatu.
Aku duduk di tepi kasur. Kakiku belum menyentuh lantai ... masih menggantung, karena kasurnya sudah tua atau mungkin memang kakiku yang belum panjang-panjang.
Ibu bilang nanti aku bakal tinggi seperti Kak Anna, tapi menurutku itu masih lama. Kak Anna waktu kelas empat sudah tinggi. Sedangkan aku ... rasanya dari dulu segini-gini saja.
Setelah cuci muka di kamar mandi, aku menghampiri Ibu di dapur.
"Udah bangun?" tanyanya sambil membalik telur mata sapi di dalam wajan.
"Udah," anggukku.
"Makanlah dulu. Nasi sudah ada di rice cooker."
Suara ibu pelan sekali. Tidak seperti biasanya ... biasanya ibu sangat cerewet, kadang sampai teriak-teriak.
"Asmi, cepetan makannya! Nanti telat!"
“Adit! Bangun!”
"Kaos kakimu mana lagi?"
Tapi hari ini tidak begitu. Mungkin karena hari Sabtu.
Aku mengambil piring, menyendok nasi, lalu duduk di meja makan. Lauk hari ini tempe goreng dan satu mangkuk sayur bening. Ibu meletakkan sebutir telur mata sapi yang masih panas di atas piringku, lalu menaburi bawang goreng sedikit.
Harumnya langsung memenuhi hidungku.
Di kursi yang biasanya Kak Anna duduki, tidak ada siapa-siapa di sana ... hanya kursi kosong, tak berpenghuni. Dulu, Kak Anna selalu datang lebih lambat dari kami, karena baru pulang kampus atau baru bangun ... tergantung hari dan duduk di sebelahku. Lalu diam-diam dia menyelipkan sesuatu ke pangkuanku.
Kadang sebungkus keripik.
Kadang biskuit.
Kadang cokelat.
Kalau lagi enggak punya uang, paling tidak, ada dua atau tiga permen.
Pokoknya ... hampir selalu ada.
"Bu, Kak Adit ke mana?" tanyaku, mendapati kursinya juga kosong di seberang meja.
"Masih tidur kayaknya."
"Jam segini?"
"Biarin, lah." Ibu mengangkat sendok sayur, mencicipinya, lalu menambahkan garam. "Dia begadang semalam."
Aku tidak tanya kenapa Kak Adit bisa tidur kemalaman. Tapi aku ingat kemarin malam sewaktu aku ke kamar mandi jam sebelas-an, pintu kamarnya masih terbuka— sedikit. Lampu kamarnya juga masih menyala.
Tapi, tidak ada suara game di dalam sana.
Tidak ada suara orang teriak-teriak dari headset.
Yang terdengar cuma ...
tek.
tek.
tek.
Suara keyboard yang ditekan terus-menerus seperti orang yang sedang mengetik sesuatu.
Aku mulai makan. Tempe gorengnya masih hangat. Nasi dan telurnya juga masih hangat. Tapi entah kenapa ... rumah rasanya tetap lebih sepi.
Bapak pulang dari mancing sekitar jam sepuluh.
Bukan dari kolam ikan di belakang rumah, tapi dari sungai di pinggir desa yang katanya banyak ikannya dan besar-besar, meskipun aku tidak pernah lihat Bapak pulang dengan membawa ikan yang banyak. Kadang bawa satu atau dua ekor, kadang tidak bawa sama sekali.
Tapi Bapak tetap pergi, setiap Sabtu pagi sejak beberapa hari lalu, dengan joran dan ember kecil dan bekal yang Ibu siapkan tanpa diminta.
"Dapat banyak, Pak?" tanyaku dari teras sewaktu Bapak masuk pagar.
Bapak mengangkat embernya.
Kosong.
"Lho? Nggak dapat?"
"Dapat," ucapnya.
Aku makin bingung.
"Terus ikannya ke mana?"
Bapak melepas topinya, "Bapak lepas lagi."
"Kenapa dilepas?"
“Kasian,” jawabnya ringan, lalu masuk ke dalam rumah.
Aku menatap ember kosong itu sebentar. Lalu masuk juga.
Siangnya, Ibu pergi ke rumah Bu Yanti.
Sebelum pergi, Ibu sudah siapkan makan siang di atas meja ... ditutup tudung saji, dengan catatan kecil di kertas yang ditaruh di pinggir: Adit minum obat jam 1.
Ibu memang begitu. Kalau pergi sebentar saja, pasti meninggalkan catatan. Katanya supaya nggak ada yang kelupaan. Padahal kadang catatannya sendiri yang lupa dibawanya.
Aku duduk di ruang tengah sendirian sambil memegang remote televisi. Sudah beberapa hari ini televisi lebih sering mati. Bapak tidak lagi duduk menatap layar kosong seperti dulu. Bapak lebih banyak di belakang rumah, bermain dengan ikan.
Aku menekan tombol merah di remote. Belum sempat layarnya menyala, mataku melirik jam dinding.
Jam satu.
Aku meletakkan remote lagi. Lalu berjalan ke kamar Kak Adit, di lantai atas.
Tok.
Tok.
Tok.
"Apa?" Suaranya terdengar serak.
"Ibu bilang minum obat."
Hening sebentar. "Iya,” sahutnya dari dalam.
"Sekarang, Kak."
"Iya, Mi. Bentar."
Aku menunggu di depan pintu. Tidak lama kemudian pintunya terbuka. Kak Adit keluar sambil mengucek mata. Rambutnya lebih berantakan daripada biasanya.
Mataku beralih pada laptopnya yang terbuka di atas meja ... layarnya tidak dimatikan, dan meskipun aku hanya lihat sekilas dari celah pintu, yang ada di layar itu bukanlah sebuah game.
Banyak tulisan dan beberapa foto. Entah perasaanku saja, rasanya ada foto kak Anna disitu dengan seorang perempuan di sampingnya. Namun, pintu segera ditutup sebelum aku sempat lihat lebih jelas.