ANNA
Malam itu, Belina mengajakku makan malam lagi. Yang kesekian kalinya.
Karena kebanyakan pagi sampai sore hari Belina sibuk dengan pekerjaannya, jadi kami lebih sering meghabiskan waktu bersama saat makan malam.
Sebelum berangkat, dia memintaku masuk ke kamarnya.
Aku sempat berpikir kami akan pergi seperti biasanya. Belina hanya akan mengganti pakaian lebih elegan, mengambil tas, menyemprotkan parfum, memoles bibir, lalu kami berangkat.
Aku sudah cukup hafal kebiasaannya. Tidak pernah terlalu lama memilih pakaian, tetapi entah bagaimana selalu berhasil membuatnya terlihat seperti orang yang berkelas.
Lalu kami pergi ke berbagai tempat. Menyantap berbagai makanan enak, kadang berdua, kadang bersama orang-orang yang dia sebut kenalan atau kolega. Beberapanya ada orang penting juga.
Aku pun menjadi terbiasa.
Sudah tahu cara makan di restoran seperti apa. Adab berbicara dengan orang penting, dan seadanya dengan orang yang baru dikenal. Cara tersenyum dengan porsi yang tidak terlalu lebar dan tidak sedang dipaksakan. Semuanya kupelajari dari Belina.
Tapi ternyata malam itu berbeda.
Di atas ranjangnya sudah tergeletak sebuah kotak—kardus berwarna krem dengan pita sutra di atasnya.
“Bukalah,” katanya meraih kotak itu dan menyerahkannya padaku.
Aku menatap kotak itu. "Ini apa?" tanyaku sedikit mengguncang isi dalamnya, karena penasaran.
"Buka saja,” ujarnya.
Aku membukanya. Di dalamnya ada sebuah gaun—berwarna hitam, panjang sampai di bawah lutut, dengan kain yang jatuh begitu lembut ketika disentuh.
Tidak banyak hiasan. Tidak ada payet atau manik-manik yang berlebihan. Potongannya sedikit lebih terbuka di bagian depan dari yang biasa aku pakai.
Belina tersenyum. "Aku pilihkan khusus untukmu."
Aku menunjuk diriku sendiri, "Aku?"
Belina tertawa kecil. "Memangnya siapa lagi?"
Aku mengambil gaun itu. Bahannya dingin dan licin di tanganku. Aku bisa langsung tahu harganya pasti mahal sekali.
"Kenapa?" tanyaku menatapnya.
Pertanyaan itu spontan keluar dari mulutku.
Karena memang Belina jarang memberiku sesuatu yang dibungkusi kado berpita. Biasanya dia menanyakan dulu, aku lagi butuh apa saja dan kami langsung membelinya saat itu di mal. Aku jadi tahu apa saja yang akan dibelikannya, dan harganya.
Tidak ada hadiah surpise mahal seperti kado itu. Hari ulang tahunku juga masih lama, jadi aku cukup kaget menerimanya.
"Malam ini ... sedikit spesial,” katanya mendekat dan mengambil gaun itu dari tanganku. “Kita makan di restoran mewah. Jadi harus berpakaian mewah juga.” lanjutnya.
"Sudah. Sana ganti." Dia mendorongku ke kamar mandi karena aku masih terpaku di tempatku sedang memilah ucapan Belina.
Beberapa menit kemudian aku keluar dengan gaun itu melekat di tubuhku. Belina berdiri di belakangku sambil memandang pantulan kami di cermin.
"Cantik,” katanya.
Dia merapikan bagian bahuku, lalu menarik rambutku ke samping. Di cermin, aku terlihat berbeda. Lebih dewasa, lebih berkilau, lebih ... seperti Belina.
Aku merasa seperti sedang memakai pakaian milik orang lain. Bukan karena ukurannya tidak pas—justru pas sekali—tetapi karena aku tidak terbiasa melihat diriku sendiri seperti itu.
"Duduklah." suruhnya menarik kursi riasan di depannya.
Aku menurut.
Belina mulai menyisir rambutku. Tangannya cekatan, seperti sudah melakukan itu ratusan kali. Setelah rambutku selesai, dia memasangkan sepasang anting kecil. Kemudian sedikit bedak di bawah mataku, tipis sekali. Setelah itu lipstik warna peach pekat.
Aku mengerutkan bibir.
"Jangan begitu."
"Apanya?" tanyaku tidak mengerti maksud perkataan Belina.
"Kalau sudah cantik, harus banyak tersenyum. Jangan kayak anak kecil habis dibedakin."
"Aku memang bukan anak kecil."
Belina tertawa. Lalu dia mundur beberapa langkah.
Aku melihatnya memandangiku dari atas sampai bawah.
"Kamu lebih cantik dari Mama waktu seusiamu."
Aku terkekeh pelan karena tidak tahu harus menjawab apa.
Dia mendekat lagi. Ujung jarinya membetulkan sedikit rambut di dekat telingaku.
"Jauh,” ucapnya lembut.
Aku kembali melihat cermin.
Ada sesuatu dari kalimat itu yang membuatku tidak nyaman.
Padahal aku sudah mendengar banyak pujian dari Belina sejak tinggal bersamanya. Cantik. Cocok. Bagus. Elegan. Bahkan beberapa kali dia bilang aku punya wajah yang lolos debut di depan layar televisi.
Tapi malam itu rasanya entah kenapa, berbeda.
Aku tidak tahu kenapa.
Mungkin karena untuk pertama kalinya, aku merasa Belina tidak sedang melihatku sebagai anaknya. Ada sesuatu di matanya yang tidak aku kenali.
Semacam ... penilaian. Seperti dia sedang mengukur sesuatu.
Restoran itu berbeda dari tempat-tempat yang pernah kudatangi bersama Belina.
Lebih sepi. Jalan masuknya lebih kecil.
Kami masuk melalui lorong-lorong sempit, lalu baru sampai di pintu restoran. Dari luar, kalau tidak tahu tempatnya, mungkin aku akan mengira bangunan itu adalah rumah pribadi seseorang.
Begitu pintu dibuka, suasananya berubah.
Lampunya kuning temaram. Musiknya hampir tidak terdengar. Meja-meja dipisahkan partisi kayu dan kain yang membuat setiap kelompok seperti punya ruang sendiri.
Aku otomatis mengecilkan suara ketika bicara.
"Ini beneran kita lagi di restoran?"
Belina melirikku. "Kenapa?"
"Aneh aja,” jawabku masih melirik sana-sini.
Seorang pelayan tiba-tiba datang menyambut kami.
"Selamat malam, Bu Belina."
Belina mengangguk tersenyum seperti mereka sudah saling mengenal sebelumnya, "Malam,” jawabnya.
Pelayan itu kemudian mengantar kami ke meja paling sudut ruangan.
Aku duduk, lalu memperhatikan sekeliling.
Orang-orang di sini seperti tahu bahwa mereka datang bukan untuk dilihat.
Tidak ada orang yang tertawa keras. Tidak ada orang yang sibuk mengambil foto makanan. Tidak ada suara anak-anak berlarian. Mungkin ... juga tidak ada anak-anak di sini.
Belina membuka tasnya dan meletakkan ponsel di atas meja.
"Hari ini kita ketemu teman Mama."
"Teman?" Aku menatapnya.
Belina mengangguk.
Baru kali ini Belina mnyebutkan kata teman dari mulutnya. Biasanya selalu menyebut kolega atau klien.
Mungkin seseorang yang mengunjungi apartemennya malam itu. Karena tempatnya spesial, bisa jadi pacarnya atau orang yang baru dekat dengannya.
Aku hendak bertanya lagi, tetapi Belina sudah memanggil pelayan.
Tidak lama kemudian, seorang pria datang. Usianya mungkin sekitar lima puluhan. Aku tidak tahu tepatnya., pokoknya lebih tua dari Belina.
Rambutnya sudah putih sebagian, dan memiliki wajah yang cukup tegas. Dia memakai jas bewarna hijau gelap dengan kemeja di dalamnya warna hijau lebih terang.
Tidak ada logo mencolok atau aksesoris berlebihan dipakainya. Hanya sebuah jam tangan kulit di pergelangan tangan, yang sekilas dilihat saja sudah terlihat mahal.
Dia berhenti di samping meja.
Belina berdiri.
"Maaf menunggu, sudah lama datangnya?" tanya pria itu.
"Enggak kok,” jawab Belina sambil cipika-cipiki dengannya.
Pria itu tersenyum, lalu menoleh kepadaku.
"Ini Anna." Belina meletakkan tangannya sebentar di bahuku, "Anakku."
Aku ikut berdiri.
Pria itu mengulurkan tangannya, "Jadi ini Anna."