BAPAK
Jalanan menuju Jakarta semakin gelap dan lengang. Lampu-lampu kota melintas di balik kaca mobil—sesekali merah, kuning, atau biru dari papan iklan dan rumah-rumah warga. Saya tidak terlalu memperhatikannya.
Mata saya menatap ke depan, mengikuti jalan yang membawa kami menuju tempat yang bahkan saya sendiri tidak tahu persis di mana.
Di samping saya, Adit duduk diam. Matanya sibuk berpindah dari layar laptop ke ponselnya. Sesekali ia memberi petunjuk jalan, lalu kembali menunggu pesan dari Anna.
Saya hanya mengangguk setiap kali ia memberi arahan. Tidak banyak bertanya. Tidak juga berdebat mana yang lebih baik.
Saya percaya pada anak itu.
Adit memang punya kelebihan dalam hal seperti ini. Kalau ada masalah, entah bagaimana selalu ada saja jalan keluar yang terpikir olehnya. Kadang sederhana. Kadang aneh. Tetapi sering kali berhasil.
Dari bermain gim saja dia bisa menghasilkan uang untuk membeli obatnya sendiri. Kalau sedang ada lebih, uang itu ikut membantu membayar cicilan.
Anak-anak gang juga menyukainya. Dari yang sudah besar sampai bocah-bocah kecil, semuanya senang kalau Adit ikut duduk dan nimbrung.
Dulu saya sempat khawatir.
Setelah dokter melarangnya melakukan kegiatan fisik yang berat, saya takut dia akan dikucilkan. Takut diejek. Takut merasa berbeda.
Anak laki-laki seusianya biasanya ingin terlihat kuat. Berlari di lapangan, saling adu tenaga, pulang dengan lutut lecet atau badan lebam. Bukan duduk di pinggir lapangan dan hanya menonton.
Ternyata saya salah.
Adit menemukan caranya sendiri untuk tetap dibutuhkan.
Dia menjadi orang yang dicari kalau teman-temannya butuh strategi. Dia tahu permainan sepak bola, voli, sepak takraw, sampai basket. Bukan karena paling jago di lapangan, tetapi karena dia tahu apa yang harus dilakukan.
Pernah tim sepak bolanya menjadi juara tingkat provinsi. Dari situ dia juga mendapat uang.
Anak itu memang begitu.
Selalu ada yang dikerjakannya.
Dan seperti malam ini.
Ternyata selama beberapa hari terakhir, Adit diam-diam terus mengawasi Anna. Saya tidak tahu sejak kapan. Saya kira ketika Anna pergi, dia sudah bisa menerima keputusan kakaknya.
Ternyata tidak.
Mungkin begitulah cara Adit menjaga kakaknya.
Dari jauh.
Dengan caranya sendiri.
Saya menatap jalan di depan. Lalu tanpa sadar, saya teringat diri saya sendiri.
Saya juga begitu.
Tidak banyak bicara. Tidak pandai menunjukkan perasaan. Tetapi selalu memperhatikan.
Dulu saya pikir itu sudah cukup.
Saya pergi bekerja. Membawa uang pulang. Memastikan anak-anak makan. Memastikan rumah tetap punya listrik. Memastikan kalau malam datang, tidak ada yang tidur dalam kedinginan.
Saya pikir menjadi bapak memang begitu.
Tidak perlu banyak bicara.
Cukup menyediakan.
Cukup melindungi.
Cukup memastikan keluarga baik-baik saja.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, saya mulai bertanya pada diri sendiri—selama ini, apakah saya benar-benar ada untuk mereka?
Atau saya hanya hadir di rumah?
Saya jadi teringat suatu kejadian, bertahun-tahun lalu.
Waktu itu Ratmi pergi ke luar kota untuk menghadiri kondangan. Hampir dua hari dia tidak ada di rumah.
Baru sehari saja, rumah sudah terasa berbeda.
Biasanya ada suara Ratmi dari pagi sampai malam. Menyuruh ini-itu. Mengomel kalau ada yang tidak beres. Tangannya juga seperti tidak pernah berhenti bergerak.
Saat dia tidak ada, baru kelihatan betapa banyak hal yang selama ini dia kerjakan.
Anna panik mencari barangnya yang hilang. Dia mondar-mandir sambil komat-kamit sendiri.
"Di mana, sih? Aku taruh di mana sih? Perasaan taruh di sini tadi!"
Saya ikut melihat ke sekeliling.
Ternyata barang itu ada di atas meja. Tepat di depannya.
Baju saya tidak ada yang menyetrika. Bekal tidak ada yang menyiapkan.
Adit tidur hampir seharian. Tidak bangun untuk makan. Tidak bangun untuk minum obat.
Waktu saya bangunkan, jawabannya cuma satu, "Ketiduran."
Asmi lebih aneh lagi.
Dia duduk di belakang rumah. Kadang menatap air. Kadang menatap rumput di lapangan. Selebihnya tidak melakukan apa-apa.
Setelah Ratmi pulang, barulah semuanya kembali beres. Seluruh rumah berjalan seperti sedia kala.
Waktu itu saya hanya menganggapnya hal biasa.
Sekarang saya baru mengerti.
Ternyata Ratmi adalah orang yang membuat semua hal kecil di rumah ini tetap berjalan.
Dan malam ini, anak sulung saya sedang dalam keadaan berbahaya.
Dia ketakutan, dan minta dijemput.
Saya tidak bisa lagi hanya diam dan memperhatikan. Saya juga tidak bisa menyerahkannya kepada Ratmi.
Bukan karena Ratmi tidak mampu. Justru karena selama ini terlalu banyak yang sudah dia lakukan.
Ini bukan lagi tugas Ratmi.
Ini tugas saya, sebagai seorang bapak.
Dua puluh tahun lalu, Ratmi pernah menangis di samping saya.
Di tangannya ada secarik kertas bertuliskan, "Tolong jaga dia. Maaf."
Di pangkuan saya ada bayi kecil yang terus menangis.
Saya menggendongnya.
Ringan sekali. Sampai saya takut memegangnya terlalu erat.
Tangan saya gemetar. Bukan karena takut pada bayi itu. Saya hanya tidak tahu harus berbuat apa.
Saya belum pernah menggendong bayi sebelumnya.
Tidak tahu cara menenangkannya.
Tidak tahu kenapa dia menangis.
Tapi malam itu saya membuat janji kepada diri sendiri. Saya akan menjadi bapak yang baik untuknya.
Waktu berjalan.
Bayi itu tumbuh menjadi anak perempuan nan cantik.
Saya melihatnya dari dekat, tetapi sering kali juga dari kejauhan.
Saat Anna pertama kali bisa berjalan, saya sedang bekerja. Ratmi yang bercerita ketika saya pulang.
Saat Anna pertama kali masuk sekolah, saya yang mengantarnya.
Saya ingat dia menggenggam tangan saya.
Saya tidak banyak bicara. Ketika bertemu guru, saya lebih banyak diam dan membiarkan Ratmi yang menjelaskan.
Saya hanya memegang tasnya, lalu mengantarnya pulang.
Ketika Anna wisuda SMA, saya tidak bisa datang melihatnya secara langsung.
Ratmi mengirimkan fotonya lewat ponsel.
Saya menatap foto itu cukup lama.
Anna yang tersenyum lebar. Wajahnya masih sama seperti bayi yang dulu saya gendong malam itu.
Saya tidak tahu harus menulis apa untuk mengucapkan selamat. Akhirnya saya hanya menyimpan fotonya di layar depan ponsel.
Itu saja.