ANNA
Aku terbangun karena suara Ibu dari dapur.
"Asmi, jangan lari-lari!"
Aku membuka mata. Beberapa detik hanya menatap langit-langit kamar.
Lalu aku tersenyum kecil.
Suara itu.
Sudah lama sekali aku tidak menyadari betapa aku merindukannya.
Aku bangun dan membuka pintu kamar.
Dari lorong, terdengar suara Adit bersorak.
"Ibu, itu bukan aku!"
"Siapa lagi kalau bukan kamu?"
"Tanya saja sama Asmi!"
"Itu punya Kak Anna!"
Suara langkah kaki berlari terdengar mendekat.
Asmi muncul di ujung lorong sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Kak!" panggilnya. Dia berhenti sebentar melihatku, lalu kembali berlari ke belakang rumah.
Aku baru sadar ternyata ada hal-hal yang tidak pernah berubah di rumah ini.
Suara omelan Ibu.
Suara Adit yang selalu berdalih.
Langkah kaki Asmi yang tidak pernah bisa berjalan pelan.
Ngomong-ngomong, kuliahku dimulai lagi bulan depan.
Bukan di kampus yang sama—aku pindah ke yang lebih dekat, lebih murah, dengan jurusan yang sama tapi ambil kelas malam supaya bisa bantu Ibu jualan siang hari.
Uang dari amplop cokelat itu cukup untuk daftar ulang dan semester pertama. Sisanya akan aku cari sendiri.
Aku berjalan ke ruang makan.
Ibu sedang meletakkan telur dadar, lauk terakhir di atas meja makan.
“Semuanya, makanan sudah siap!” sorakku ke seluruh anggota keluarga di dalam rumah. Seperti yang biasa kulakukan dulu saat hendak makan.
Lalu satu per satu mereka datang.
Asmi datang duluan, lalu disusul Adit. Ia duduk sambil memainkan ponselnya di tangan.
Asmi mengambil satu-satunya telur mata sapi yang di goreng Ibu.
"Eh!" protes Adit.
"Yang itu buat Kak Adit. Kan kakak sakit," ujar Adit berkilah.
Aku tahu itu cuma akal-akalan Adit saja untuk menjahili Asmi. Kan yang minta dibuatkan telur mata sapi Asmi, bukan Adit.
"Ibu! kak Adit mulai lagi, deh," rengek Asmi mengadu pada Ibu. Lalu Ibu memarahi Adit.