Kalea Adelia tidak percaya bahwa hidupnya yang berisikan endorsement, filter, dan meeting brand bisa berakhir di sebuah gapura kayu bertuliskan PONDOK PESANTREN AL-FALAH GARUT.
Sore itu, mobil Alphard hitam milik Mami berhenti di jalan tanah yang masih basah. Di sebelah kiri hamparan sawah yang luas, di sebelah kanan ada bangunan dua lantai bercat putih dan hijau. Tidak ada cafe estetik. Tidak ada signal bar penuh.
Di layar ponselnya, hanya ada tulisan kecil yang menyakitkan: SOS Only.
"Mah, ini bercanda kan?Peta aja udah gak mau loading." suara Kalea melengking.
Mami, yang duduk di kursi depan dengan kacamata hitam dan tas mewah, menurunkan kacamatanya pelan.
"Ini bukan bercanda, Kalea. Ini hadiah tobat kamu."
Tiga hari lalu, namanya masih memenuhi halaman FYP. Lalu muncul video lima belas detik itu. Es kopi yang menghantam meja, wajah marahnya, potongan musik menyeramkan, dan jutaan komentar yang datang tanpa memberi kesempatan menjelaskan.
Brand skincare yang baru saja mengontraknya senilai 80 juta langsung membatalkan kontrak.
Mami sudah mencoba segala cara. Minta maaf lewat Instagram Story, klarifikasi lewat TikTok Live sambil menangis. Netizen tidak peduli. Puncaknya, Mami memutuskan hukuman yang menurut Kalea lebih sadis daripada di-cancel.
Empat puluh hari di pesantren. Tanpa HP. Tanpa make up. Tanpa tim admin.
Seorang wanita paruh baya dengan gamis hitam dan jilbab yang rapi menghampiri mereka. Wajahnya teduh.
"Bu Ika, ini anak saya Kalea." Mami memperkenalkan.
Bu Ika tersenyum. Tatapannya berhenti pada penampilan Kalea. Rok mini, kuku extension pink neon dengan glitter, rambut yang dicat ash grey dan dibiarkan tergerai, serta jilbab instan abu-abu yang dipinjamkan Mami di mobil yang pemakaiannya masih miring ke kiri.
"Selamat datang, Neng Kalea. Yuk, kita mulai dari yang paling sederhana."
Kalea hanya bisa mengangguk lemas.
Mami memeluk Kalea sebentar. Pelukan yang cepat.
"Empat puluh hari ya, sayang. Mami jemput lagi kalau kamu sudah lulus. Jangan bikin masalah."
Setelah itu mobil Mami pergi meninggalkan debu tanah, Kalea merasa benar-benar sendirian. Bu Ika mengulurkan tangan.
"Monggo HP dan barang-barang elektroniknya dikumpulkan dulu."
Kalea memeluk HP-nya erat. Itu adalah nyawanya.
"Bu, ini buat alarm sholat."