Jam menunjukkan pukul tiga pagi ketika suara keras membangunkan seluruh isi Asrama Putri nomor 7.
Bukan alarm iPhone. Bukan suara notifikasi TikTok.
Itu adalah suara kentongan kayu yang dipukul bertubi-tubi di depan asrama, disusul suara Bu Ika yang berteriak.
"Bangun! Bangun! Tahajud!"
Kalea Adelia yang tertidur dengan posisi tengkurap dan mulut sedikit terbuka langsung terlonjak. Kasurnya yang tipis membuat punggungnya sakit. Kipas angin yang berderit semalaman tidak membantu. Udara Garut menusuk tulang.
Nisa, teman sekamarnya, sudah bangun. Dalam gelap, siluet Nisa terlihat sudah rapi dengan mukena putih, mengambil air wudhu dari ember.
"Kalea, bangun. Kalau telat tahajud disetrap hafalan," kata Nisa setengah berbisik.
Kalea menutup wajahnya dengan bantal. "Masih jam tiga, brand aja belum buka."
"Nggak ada brand di sini. Adanya malaikat yang nyatet."
Dengan gerakan yang sangat berat, Kalea akhirnya bangun. Dia mengambil mukena pinjaman yang masih terasa asing. Dia mencoba memakainya sambil mengingat tutorial yang pernah ditontonnya di YouTube. Bukannya rapi, mukena itu justru terpasang terbalik.
Nisa yang sudah selesai wudhu tidak tega melihatnya. Dia membantu membalikkan mukena Kalea.
"Ayo ke masjid. Jalan pelan, jangan berisik."
Masjid Al-Falah terletak seratus meter dari asrama putri. Jalan menuju ke sana gelap, hanya diterangi lampu kuning temaram. Udara pagi sangat dingin, embun menempel di ujung gamis Kalea.
Puluhan santriwati lain berjalan beriringan dalam balutan mukena putih, membentuk barisan panjang yang bergerak pelan di bawah cahaya lampu.
Kalea berjalan paling belakang. Kakinya yang biasa memakai sneakers mahal kini memakai sandal jepit yang ukurannya sedikit kebesaran.
Di dalam masjid, suasana hening. Lampu masjid terang. Di sisi depan, terlihat barisan santri putra dengan baju koko putih dan sarung. Di antara mereka, Kalea mengenali punggung Gus Danish. Posisinya di saf paling depan.
Sholat tahajud dimulai. Kalea mencoba mengikuti gerakan. Berdiri, ruku, sujud. Masalahnya, hafalan surat pendek Kalea hanya sampai Al-Ikhlas. Ketika imam membaca surat yang panjang, Kalea hanya diam dengan mulut tertutup.
Setelah tahajud, ada kultum subuh. Kyai sepuh, kakek dari Gus Danish, naik ke mimbar. Suaranya serak tapi berwibawa.
Materi kultumnya tentang adab. Tentang bagaimana dunia luar membuat manusia lupa caranya menjadi manusia.
Kalea merasa seperti sedang ditunjuk-tunjuk, padahal Kyai tidak menyebut nama.
Setelah subuh, semua santri tidak diperbolehkan tidur lagi. Jadwalnya adalah mengaji pagi sampai jam enam.
Kalea duduk di barisan putri dengan Quran besar di pangkuannya. Dia menatap halaman Al-Qur'an di depannya. Meski penuh harakat, huruf-huruf itu tetap terasa asing baginya.
Nisa yang duduk di sebelahnya melirik.