"Tidak mungkin, pasti ada yang salah!" ucap Erpin setelah mengakhiri obrolannya dengan Caroline secara tiba-tiba. Mereka sempat bertukar kontak. Dan ketika Erpin menawarinya untuk ngobrol lain kali, tentunya masuk konten, Caroline tidak keberatan. "Mungkin mamamu juga terlibat dalam permainan sepupumu," lanjutnya lagi.
Wirawan yang sedang mematikan komputer menyahut. "Benar juga ... mereka pasti ingin memberikan kejutan. Coba ingat-ingat barangkali akhir-akhir ini kau meraih sesuatu seperti ... nilaimu meningkat, atau kau mendapat pekerjaan sampingan tanpa sepengetahuan kami?"
"Hei jangan konyol, pekerjaan sampingan Aron, ya, nge-youtube, memangnya dia punya cukup waktu untuk melakukan keduanya sekaligus nantinya?"
Wirawan mengedikan bahunya. "Mungkin saja, siapa yang tahu, ya, kan Ron?"
"Hei, sudahlah kalian berdua," Aron mendengus. "Aku juga sulit mempercayai ini, tapi berani bersumpah mamaku mengatakan sebenarnya— terdengar jelas dari suara Mama yang panik. Asal kalian tahu, mamaku bakal keberatan jika nyawa seseorang dipermainkan."
"Ah sialan, aku jadi tambah penasaran," kesal Erpin. "Memang lebih baik kita memastikan langsung saja, daripada menduga-duga seperti ini."
"Ya sudah kita memastikan sekarang saja, rumah sepupumu dekat sini kan?"
"Tidak, lumayan jauh, di Depok. Kalau dekat sini, sih, sudah dari tadi kupastikan sendiri." Aron kembali mengecek ponselnya, "Aku sedang bertanya Om Wayan di RS mana, tapi belum dibalas. Sial! Rasanya aku ingin terbang ke sana sekarang juga!"
"Lagi pula kalau sekarang kita ke sana, jam kunjung pasti sudah habis. Besok pagi saja kita ke sana, besok kan sudah mulai libur."
Mereka akhirnya sepakat akan pergi ke Depok pagi harinya, dan memutuskan untuk tidak meneruskan membuat konten. Mereka berencana akan tidur lebih awal daripada sabtu malam lainnya. Diam-diam mereka bertiga tidak sabar menunggu esok hari, dan menghawatirkan tidurnya tidak bakal nyenyak. Namun, keesokan harinya dengan wajah bugar mereka sudah siap di indekos Aron.
Ketiganya berpenampilan menarik, apalagi setelah subscriber-nya naik sebulan terakhir ini, mereka diam-diam tidak bisa tidak berlagak seperti artis.
"Meskipun akhir-akhir ini banyak mata yang tertuju pada kita, kita harus rendah hati, tidak boleh sombong seperti Waluyo yang tenar karena topangan dari bibinya yang seorang selebritis!" ucap Wirawan waktu itu sambil berusaha tersenyum kalem— namun hasilnya gagal— dia tersenyum lebar dengan dada membusung. Agaknya dia merasakan getaran kesombongan.
"Tentu saja!" adalah jawaban Aron dan Erpin.
Meski begitu Aron tidak bisa menghentikan membayangkan dirinya akan menjadi penyanyi terkenal dan ... banyak uang berserta aset, kemudian bayangannya menjadi liar. Dia bisa melihat dirinya yang kaya raya berjalan di karpet merah dengan kaca mata hitam sambil melambaikan tangan. Begitupun Erpin yang membayangkan para gadis akan mulai menggandrunginya, dan begitu menebar pesona gadis-gadis itu bakal luluh. Gadis seksi dan ... begitu cantik. Lalu lebih lama dia bisa melihat bayang-bayang Jennie blak pink, Lady Gaga, dan Taylor Swift!
Mereka nampak terhanyut dalam khayalannya yang menyenangkan. Tapi semua itu lenyap secepat datangnya begitu Wiryawan berseru, "Itu dia kecoaknya muncul!"
Kini mereka kembali mengusir beberapa kecoa yang bersembunyi di sela lemari, berkejar-kejaran di ruangan indekos yang berukuran empat kali lima meter, sesekali mengumpat dan tertawa.
Di luar nampak seekor gagak bertengger di pohon nangka tengah memperhatikan mereka dengan malas, dan begitu mengeok Wirawan berucap, "Pasti bakal ada orang yang meninggal."
Namun, Aron dan Erpin yang entah bagaimana sedang senasib, merasa gagak itu sedang menertawakan mimpinya yang rasanya semakin jauh dan samar. Mereka mendengus.
Itu adalah awal mereka memutuskan untuk lebih fashionable— Erpin terlihat lebih rapi daripada siapa pun, rapi yang menawan dengan rambutnya yang tersibak ke atas. Dia memilih menggunakan kacamata berbingkai bening, sementara pakaiannya menggunakan kaos oblong dengan bawahan jeans. Wirawan yang perawakannya lebih kecil dibanding kedua temannya, menggunakan jeans yang lututnya sobek dengan sepatu sneaker lusuh kesayangannya, dan sebuah jam tangan melingkar di pergelangannya. Sementara Aron yang mempunyai tubuh tinggi dengan rahang tegas, memilih menggunakan kemeja biru langit dengan bawahan jeans. Entah kenapa pakainya terlihat begitu cocok dengan rambut hitam berantakannya yang berjatuhan di dahi, yang membuat beberapa gadis diam-diam tergoda menyibaknya.
Dibanding mereka bertiga, Aron memang lebih banyak mencuri perhatian gadis yang lewat. Sejauh ini jika mereka melontarkan pertanyaan kepada bule yang mereka temui di ome tv mengenai tipe, maka Aron yang menang banyak.
Pukul 07.30 setelah sarapan, mereka pergi menggunakan motor menuju rumah sakit di daerah Depok, berpatokan google maps yang alamatnya sudah dishare lock Om Wayan pagi tadi setelah Aron solat subuh. Saking ingin membuktikan kebenaran surat itu, mereka begitu bersemangat, seolah-olah mereka akan melakukan sesuatu yang begitu penting dalam hidupnya.
Begitu sampai di rumah sakit, Aron menunggu-nunggu seseorang akan menelponnya lalu berseru: Kau tertipu! Atau begitu dia sampai di pintu masuk, sepupunya akan muncul di antara pengunjung sambil menepuk pundaknya, kemudian berbisik: Kau tertipu! Yang entah untuk alasan apa mereka memberi kejutan. Namun, sejauh ini tidak ada apa-apa, kalaupun ada tetap tidak masuk akal.
"Rasanya seperti akan memastikan para bidadari mandi di sungai begitu ada pelangi. Dadaku berdebar!" ucap Wirawan ketika mereka tengah berjalan menelusuri lorong yang beraroma obat-obatan bercampur karbonat. "Tapi dulu aku sangat kecewa begitu tidak ada bidadari."
"Tentu saja tidak ada bidadari, itu cuma mitos. Bisa-bisanya kau termakan bualan itu," timpal Aron berlagak tidak pernah tertipu, padahal dulu dia dan Ayesha pernah melakukannya, dan bukan hanya sekali.