Tidak ada cahaya yang berpendar begitu pintu perpustakaan terbuka. Atau cahaya yang menyala-nyala dan menari-nari seperti aurora. Atau benda melayang seperti di film Harry Potter yang pernah mereka tonton. Tidak ada keajaiban apa pun selain perpustakaan gelap berdebu yang menyerupai kuburan. Mereka terlihat kecewa.
Begitu Aron menyalakan lampu, suara gedebrug terdengar. Di ambang pintu mereka nampak terkejut, tetapi Wirawan lebih terkejut daripada siapa pun dan berseru, "Permisi Mbah jangan ganggu kami, kami cuma numpang sebentar."
"Mbah dengkulmu! Memangnya kau tahu dari mana? Bisa jadi dia seorang anak kecil, atau perawan, atau ..." Erpin Mendengus. "Asal kau tahu, tidak ada yang seperti itu! Paling-paling tikus."
Tapi rupanya Wirawan tidak peduli. Seumur hidupnya, sebenarnya Wirawan tidak mau berurusan dengan hal mistis, tetapi ketika kecil neneknya selalu menegur Wirawan menggunakan hal-hal mistis layaknya orang tua kuno lainnya. Dan tanpa sadar itu telah melekat pada jiwa Wirawan, seperti; Kalau ke tempat yang jarang dihuni, harus permisi dulu, Wan. Wan jangan keluar sanding kala, nanti diculik Wewe Gombel! Suara gagak mengeok, pasti akan ada orang meninggal. Jangan main di dekat pohon berongga, ada penunggunya! Jangan kencing sembarangan, nanti kau ketempelan! Dan masih banyak hal lainya.
"Memangnya untuk apa, sih, sepupumu ingin meletakkan surat-surat itu ke dalam kaleng? Seperti tidak punya pekerjaan lain saja," ucap Erpin sambil mengamati sekeliling.
Perpustakaan itu cukup besar, dan terdapat unsur keraton. Ada ukiran-ukiran kayu berbentuk bunga-bungaan dan tanaman pada pilar dan kusen-kusennya. Lantainya terbuat dari kayu, dengan jendela yang lumayan banyak dan semuanya tertutup korden. Di tengah ruangan terdapat dua deret lemari yang menjulang penuh dengan buku-buku. Cat putih pada temboknya sudah kusam dan beberapa mengelupas. Sementara di pojok-pojokannya terdapat sarang laba-laba.
"Barangkali untuk koleksi," timpal Wiryawan. "Menurutmu untuk apa Ron?"
"Aku juga tidak tahu. Yang penting letakan surat-surat ini di dalamnya, lalu pergi."
Mereka terus berjalan melewati tumpukan koran, poster The Beatles, Nike Ardilla, dan artis kuno lainnya yang berada di atas radio besar. Terdapat barang-barang bekas yang tergeletak di meja seperti; piringan hitam tua, lampu duduk, mesin penggiling kopi, mesin jahit, dan mesin tik manual yang semuanya sudah berdebu dan usang termakan usia. Ada sebuah lemari gantung di atas mejanya. Dan di ujungnya, terdapat meja belajar dengan dua kursi yang cukup bersih tepat menghadap ke arah jendela. Aron yakin itu adalah meja yang Ayesha maksud.
Erpin menyibak korden lalu membuka jendela. Angin berembus, dan nampak matahari mulai terbenam dari balik rimbunnya pepohonan jati yang tumbuh di belakang rumah. Sementara Wirawan menyalakan senter melalui ponsel untuk menambah pencahayaan di kolong meja, Aron mulai meraba-raba permukaan lantai kayu— mencari permukaan yang bisa mencuat. Tidak sampai semenit, dia berhasil menemukan dan membukanya.
Di dalamnya terdapat kaleng kerupuk yang begitu antik— kaleng itu berukuran sedang. Bentuknya menyerupai kaleng kerupuk pada umumnya, tapi yang ini terbuat dari tembaga dan kaca tebal. Di pinggirannya terdapat corak bunga mawar, sementara di bagian bawah terdapat corak wayang yang semuanya berwarna emas. Dan di bagian sisi tembaga lainnya terdapat tulisan 'Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu' yang beberapa hurufnya sudah tidak jelas.
"Wah, kalengnya benar-benar antik, seperti hiasan di jaman kerajaan Majapahit," ucap Wirawan begitu Aron memindahkan kaleng ke atas meja, namun tidak ada yang mau repot-repot menjawabnya.
Aron mulai membuka tutup kaleng, dan meletakkan semua surat ke dalamnya seperti kemauan Ayesha.
"Ron sepertinya kau menjatuhkan salah satu suratnya." Erpin meraih sebuah surat yang tergeletak di bawah sebelah meja.
Aron buru-buru mengecek surat-surat di dalam kaleng. "Tidak, surat-surat ini pas—"
"Sebentar, segelnya sudah terbuka." Erpin mengeluarkan surat dari dalam amplop, tapi begitu ponselnya bergetar dia memutuskan untuk membacanya nanti saja. Dia membuka notifikasi dari mamanya sambil berkata; "Ada apa dengan surat-surat di tempat ini. Kupikir hobi sepupumu begitu aneh."
Aron hanya mengedikan bahu lalu mengamati tumpukan buku di atas meja. Selama ini Aron menyukai buku berbau ekonomi apalagi yang terjemahan. Sementara novel, dia lebih menyukai thriller, misteri, dan distopia seperti karyanya; Sir Arthur Conan Doyle, Agatha Christie, Ruth Ware, Suzan Colin, dan masih banyak lainnya. Kini dia mulai membaca satu persatu judul buku asing di hadapannya, tapi ada beberapa buku yang agaknya dia tahu penulisnya, seperti; Bumi Manusia dan Rumah Kaca milik Pramudya Anatatur. Selebihnya buku-buku itu begitu asing; Di Bawah Lentera Merah karya Soe Hak Gie, Das Kapital karya Karl Marx, Pemahaman yang Dianggap Radikal karya Tan Malaka— dia berhenti membaca dalam hati begitu Wirawan bertanya.
"Ron, kau belum memasukkan surat-surat sepupumu ke dalam kaleng, ya?" tanya Wirawan ketika hendak menutup kaleng.
"Jangan bercanda," Aron meraih kaleng dari tangan Wirawan, dahinya nampak mengernyit. "Kenapa kosong? Kau mengambilnya?"
"Yang benar saja, untuk apa aku mengambilnya."
"Lalu ke mana perginya surat-surat itu?" Aron menatap Wirawan curiga, lalu dia mendesah, "Sudahlah Wan, sia-sia saja kau mau menakut-nakuti kami dengan trik payahmu."
Aron dan Erpin menunggu-nunggu Wirawan meringis, namun nampaknya dia tidak menyerah dengan berlagak bingung.
Dia menggaruk rambutnya. "Jangan-jangan penunggu—" Wirawan menghentikan ucapannya begitu Erpin menggeledah sakunya, "Hei kau ini kenapa, aku tak mengambilnya!"
Wirawan mendesah pasrah, dan begitu Erpin tidak menemukan apa pun, dengan kesal Wirawan berucap, "Sudah kubilang apa!"
"Mungkin jatuh Ron?" tanya Erpin sambil mencari-cari di kolong.
"Tidak mungkin, berani bersumpah aku sudah meletakkannya ke dalam kaleng ini." Dia meletakkan kaleng kosong di genggamannya ke atas meja. "Bahkan sudah kucek waktu kau menanyakannya tadi."
Alis Erpin bertaut. "Masa sih," dia menggeledah saku Aron, seperti yang dilakukan pada Wiryawan barusan. "Tidak ada."
"Tentu saja tidak ada."
"Kalau begitu ini aneh." Erpin membenarkan letak kacamatanya, nampak berpikir.