Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu 1998

Jalvanica
Chapter #5

Lintas Waktu

Aku terjatuh tepat mengenai kaleng kerupuk yang kucari. Kaleng itu ikut terjatuh dan menghantam sesuatu yang keras. Aku bersyukur bagian kaca pada kalengnya terbuat dari bahan yang tebal— seandainya tidak, mungkin kacanya sudah pecah, dan aku bakal terjebak selamanya di sini. Angin kembali berembus, nampak dua ekor kunang-kunang berterbangan masuk, menelusup melalui sela-sela jendela. Dalam keremangan aku bisa melihat beberapa surat di dalamnya. Aku tersenyum kecil, nampaknya Aron tidak sampai hati menolak permintaanku dalam kondisiku yang sedang koma, dan aku memang sudah menduganya.

Kurasakan jantungku berdebar begitu aku sudah tidak sabar ingin berubah menjadi sosok manusia— wujud asliku. Di luar langit semakin gelap, aku memejamkan mata, dan dengan sungguh-sungguh membatin; Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu aku ingin menjadi manusia, kemudian aku dilanda perasaan yang begitu ganjil. Dadaku berdetak kencang begitu kurasakan sesuatu yang asing, dingin, dan kasatmata menyentuh kulitku, menggelitik bagaikan sulur-sulur yang berputar menjalari tubuhku— meresap ke dalam tubuhku. Dibalik mataku yang terpejam, dalam kegelapan yang pekat, aku bisa melihat bintang-bintang berpendar begitu menyilaukan. Kemudian kurasakan tubuhku membesar dan ... lebih berat, aku terhuyung menubruk sesuatu yang keras seperti ujung meja. Aku mengerang, sementara teko dan beberapa sendok kuno di atasnya berjatuhan ke lantai.

Selagi tanganku meraba-raba wajahku, aku bisa mendengar bunyi bedebam di luar. Aku yang sudah menjadi manusia bergegas menuju jendela, menyibak gorden lusuhnya dengan panik, dan mengintip. Bunyi itu berasal dari kayu jatuh, aku yakin tadinya kayu itu tersandar di tembok warung. Mataku bergerak-gerak gelisah, membayangkan itu adalah ulah manusia. Aku menunggu-nunggu momen seseorang mendobrak pintunya, menangkapku lalu menggiringku menuju keramaian, berkoar-koar bahwa aku adalah sebuah keajaiban, barangkali malah jelmaan setan, iblis yang harus dimusnahkan— aku menghela napas lega begitu mendapati seekor kucing di beranda alih-alih manusia. Dia sedang berlari menuju jalan utama, larinya lebih kencang daripada ketika dia meninggalkanku tadi, terbirit-birit layaknya dikejar setan. Aku rasa dia baru saja memergokiku berubah wujud.

Aku mendesah lalu menyalakan lampu di sebelah rak penyimpanan yang berisi mesin espresso dan penggiling kopi tua. Lampu itu berkedip-kedip, lalu mati, kemudian menyala kembali. Aku harus cepat-cepat, sebelum ada seseorang menyadari cahaya di tempat ini. Ketika sedang buru-buru meletakkan kaleng ke posisi semula dan mengambil isinya, aku menemukan seonggok surat tergeletak tepat di belakangnya, di antara gundukan sarang semut. Surat itu berukuran lebih kecil daripada surat-suratku, dan tidak ada perangko bergambar kaleng kerupuk di amplopnya.

Aku mengernyitkan dahi sambil mencium bau surat— bukan surat lama, aku bisa merasakan aroma kertas baru. Seolah-olah beberapa jam yang lalu, sebelum aku datang kemari, seseorang telah meletakkan surat ini ke dalam kaleng melalui lubang, tapi meleset. Begitu teringat jejak kaki di depan warung, kecurigaanku semakin masuk akal.

Aku memutuskan memasukan surat itu ke dalam kaleng. Tidak lama kemudian suratnya menghilang, sementara surat lainnya muncul. Bukan surat balasan, tentu saja, kali ini dari layanan kaleng. Ini bisa dilihat dari perangkonya, dan jelas diperuntukkan untukku. Aku meraihnya, dan mengantongi bersama surat-surat lainnya. Suara adzan berkumandang, untuk sesaat aku tergoda pulang dengan wujud asliku, dan tentu saja itu bukan pilihan yang tepat. Akan lebih aman tetap menjadi seekor kucing.

Berubah menjadi kucing rupanya lebih mudah. Tubuhmu terasa lebih ringan, dan seimbang dengan empat kaki yang menyangganya. Bahkan kau tak perlu repot-repot mencari ruang yang luas karena tubuhmu menyusut, dan kau tak perlu khawatir soal penglihatan di tempat gelap sekalipun. Sesampainya di jalan utama, untuk terakhir kalinya aku menoleh ke belakang. Warung itu begitu gelap, dan entah kenapa terlihat ramah, seolah-olah aku sudah terbiasa dengan tempat ini. Namun, di masa depan aku tahu warung itu akan lenyap, dan digantikan dengan perumahan.

Aku berlari menembus kegelapan, melewati perkebunan dan suara serangga malam. Entah kenapa aku tidak merasa takut, dan malah menikmati bagaimana tubuhku mulai terbiasa dengan wujud kucingku. Aku merasa lebih efisien, luwes, dan tidak terengah-engah.

Begitu sampai di dekat tanah terbengkalai yang ditumbuhi ilalang, aku bisa mendengar suara gonggongan anjing. Suaranya kini terasa semakin dekat. Aku menahan napas begitu sosoknya muncul dari tikungan. Anjing itu mempunyai kulit yang bertotol-totol, telinganya berbentuk v, dengan ekornya yang menghadap ke atas— persis anjing milik tetanggaku, Koh Lim. Koh Lim bilang anjingnya adalah anjing pelacak jenis rat terrier yang umum dijadikan peliharaan.

Anjing itu seharusnya tidak besar-besar amat, tapi dilihat dari wujud kucingku yang lebih kecil, dia terlihat dua kali lebih besar, dan entah kenapa terlihat menyeramkan. Apakah dia bakal menyerang kucing dan memakannya? Oh sial, aku bahkan tidak tahu mengenai anjing. Sekarang jarak kami semakin dekat, dia terdiam begitu menyadari keberadaanku, menatapku dengan mata bulatnya yang segelap malam. Aku memundurkan langkah dengan waspada. Begitu dia menyalak, aku memutuskan untuk lari, bersembunyi di antara ratusan ilalang dengan bunganya yang seputih kapas.

Aku terus lari, lari, dan lari begitu anjing itu benar-benar mengejarku. Dadaku bertalu-talu secepat langkahku begitu dia berada sekitar lima meter di belakangku. Napasku memburu, kakiku menjadi goyah, sepertinya aku sudah tidak sanggup untuk lari. Aku memejamkan mata, membayangkan dia akan mencabik-cabik tubuhku. Berusaha menepis ketakutanku, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa dia tidak akan berbuat seperti itu, apalagi kepada wujud kucingku yang malang.

Aku menghentikan langkah lalu menelan ludah susah "Hei berhenti!"

Anjing itu berhenti lalu menyalak marah, seolah-olah aku telah mengganggunya. Tentu saja, dan aku akan melakukan itu selagi aku bisa menunda dia menyerangku.

Aku berusaha tenang dengan mencoba memahami apa yang dia ucapkan, namun sekeras apa pun aku mencoba, aku tak pernah tahu ucapannya. Meski kami sama-sama binatang, rupanya aku tidak bisa berbicara dengan bangsa anjing.

Tapi barangkali dia bisa memahami ucapanku(?). "Kau tahu, dagingku tak enak!" Mendadak aku lupa cara bernapas. "Tubuhku penuh kutu menjijikan dan oh ... aku terkena rabies!"

Untuk sesaat yang konyol aku pura-pura terkena rabies dengan tiba-tiba ambruk dan berguling-guling, yang malah menyerupai kucing sekarat.

Dia menggonggong kemudian berjalan dengan memasang wajah malas, nampaknya dia tak peduli. Aku berdiri sigap, dan berusaha tidak takut dengan menggeram seseram kucing mana pun, namun kakiku bergetar. Aku memundurkan langkah ketika jarak kami hanya dua meter. Aku menelan ludah susah. "Ku ... kumohon—"

Dia melompat ke arahku, dan aku tidak sanggup untuk tidak memejamkan mata, membayangkan giginya yang setajam belati mengigit kakiku, mengoyak tubuhku. Sebelum itu terjadi aku harus melakukan sesuatu, berubah menjadi manusia— menjadi lebih besar dan kuat untuk menghadapinya. Aku mengintip begitu kurasakan dia tidak mendekatiku. Menghela napas lega ketika anjing itu hanya melewatiku, kemudian berhenti di tanah rata yang habis digali.

Dia mengendus, menggali tanahnya, lalu menggonggong begitu mendengar teriakan majikannya. Aku berjalan mendekatinya dengan penasaran dan rasa bersalah.

Di atas bulan terlihat semakin jelas. Ekorku bergerak gelisah ketika menyadari ada sesuatu yang tidak beres, sesuatu yang menyembul di balik tanahnya. Angin menderu-deru, menggoyangkan bunga ilalang yang berjuntaian, aku bisa merasakan bau amis darah, kemudian aku teringat suara tembakan sore tadi.

Jantungku berdetak sangat cepat, sementara anjing itu terus menggali, menggali, dan menggali hingga aku bisa melihat dengan jelas potongan kepala seorang pria ditimpa cahaya rembulan. Kepala itu begitu pucat dan kotor karena tanah, matanya yang melotot entah kenapa terlihat putus asa, dan memohon ... memohon sesuatu. Seolah-olah dia tengah memohon keadilan, memohon tidak semestinya mati seperti ini, bahkan untuk ukuran penjahat sekalipun.

Aku merinding dalam tatapannya, meski aku tahu itu bukan sebuah tatapan, tidak ada kehidupan di matanya, dia sudah tewas. Aku memundurkan langkah, merasa kasihan dan ngeri secara bersamaan hingga menubruk kaki seseorang.

"Bony apa yang sedang kau lakukan. Tidak sopan kabur seperti itu, dan ayo sudah cukup—"

Wanita paruh baya itu membelalakkan mata, terkejut sepertiku, kemudian menjerit memecah keheningan malam. Aku memutuskan berlari menuju rumah, sebelum orang-orang berdatangan. Sesampainya di rumah seharusnya aku pergi ke perpustakaan, berubah wujud menjadi manusia untuk membaca surat dan menyiapkan segalanya, tapi aku terlalu takut. Wajah pria itu terbayang-bayang di benakku, bahkan dalam mimpiku sekalipun.

***

Pagi harinya setelah sarapan dengan ikan lele, aku menulis surat untuk Aron, memintanya supaya mencari kebenaran penyebab kematian Om Rendra. Kemudian aku membaca surat dari kaleng Kerupuk, yang isinya berupa ucapan selamat datang, dan cara supaya aku dapat berbicara dengan manusia; aku hanya perlu menyentuhkan surat dari keleng kerupuk kepada seseorang, maka orang tersebut dapat berbicara dengan sosokku yang berwujud kucing. Sekarang tanggal 10 Mei, aku tahu dari sebuah acara berita di televisi subuh tadi, dan aku memutuskan untuk melakukannya kepada papa di indekost keesokan harinya. Hari ini aku berencana pergi menemui ibu di Glodok setelah mengirim surat kepada Aron. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.

Di beranda ketika mau pergi ke warung kopi, aku tidak sengaja mencuri dengar perbincangan nenek dengan tetangganya. Beliau adalah pria paruh baya berkulit cokelat gelap dan berambut ikal. Semakin lama aku menatapnya semakin aku mengenali sosoknya. Kakek Sobirin, beliau meninggal tahun 2020 karena covid 19. Mereka sedang membicarakan mayat yang ditemukan di lahan terbengkalai dengan prihatin. Kakek Sobirin bilang mayat tersebut adalah mayat seorang aktivis yang sudah lama dicari, dan akhirnya kemarin sore tim mawar berhasil menangkap dan membunuhnya. Salah seorang melihatnya sendiri mereka turun dari mobil jip.

"Nona Kismis."

Aku menoleh begitu seekor kucing memanggilku, rupanya Tuan Bagong. Bersama kucing klawu, dia sedang berjalan di atas pagar rumahku, lalu turun di deka pohon belimbing. Aku berjalan mendekatinya sambil menguap beberapa kali. Begitu sampai, kucing klawu bersembunyi di belakang Tuan Bagong. Dia menatapku seakan sedang melihat hantu.

Aku mendesah. "Kau tak perlu menatapku seperti itu, aku tak akan memakanmu. Lagi pula kau tak pernah mandi."

Lihat selengkapnya