Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu 1998

Jalvanica
Chapter #8

Surat dari Masa Lalu

Mereka terbengong-bengong setelah membaca surat dari kaleng kerupuk cap garis waktu, otaknya terasa kosong. Layaknya komputer yang terkoneksi kembali setelah eror beberapa saat, mereka saling pandang dan mulai menghubungkan pesan Ayesha dengan isi surat itu. Semuanya terlihat sama dan cocok dengan persyaratan kembali ke masa lalu; bagaimana isi pesan Ayesha yang mengatakan dia akan koma (dan ini memang terjadi). Atau bagaimana Ayesha bilang dia akan mengirim surat di kondisinya yang seperti itu. Sejauh ini jawaban yang paling masuk akal adalah dengan mempercayai surat itu, percaya bahwa Ayesha benar-benar sedang menjelajah waktu.

Wirawan menggaruk rambutnya. "Jadi semua itu bukan ulah penunggu?"

"Tentu saja bukan," timpal Aron, kemudian tawanya pecah begitu menyadari betapa konyolnya kejadian yang baru saja terjadi.

"Apanya yang lucu?" tanya Wirawan.

"Seharusnya tadi kau merekam wajahmu sendiri Wan, wajahmu sepucat penunggu yang mengejarmu." Aron dan Erpin terbahak.

"Kenapa sampai jatuh segala?" lanjut Erpin. "Memangnya kau sedang menghayati seperti pemeran di film-film horor apa?" Tawa mereka menjadi-jadi, kadang-kadang mereka memang sereceh itu.

Wirawan mendengus, tidak mau kalah dia berucap, "Kalian bahkan lari lebih dulu seperti tikus dikejar harimau!" Dia tertawa.

"Yang benar saja!" gerutu Aron bersamaan dengan suara adzan magrib berkumandang.

Wirawan meraih surat di tangan Erpin dan memandangi perangko suratnya, dengan takjub dia berkata, "Ini luar biasa!" matanya berkilat-kilat, "Apa kita bisa menjelajah waktu seperti sepupumu, Ron?"

Aron mengedikan bahu. "Mana aku tahu, kita coba saja nanti," jawabnya, mendadak mereka berharap surat itu masih berlaku.

"Selama ini aku tidak percaya hal-hal seperti ini. Aku tidak sedang bermimpi, kan?" tanya Erpin. "Coba Wan kau cubit tanganmu sendiri!"

Wirawan mematuhi perintah Erpin, tapi tidak sepenuhnya, dia mencubit Aron yang sedang memasukan surat ke dalam saku celananya. Aron mengerang kemudian melototi Wiryawan. "Bodoh, tidak perlu keras-keras!"

"Demi Tuhan ini nyata Ron!" pekik Wirawan merasa tidak percaya dan beruntung dalam satu waktu, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre. Atau diterima pujaan hatinya. Atau menemukan cincin emas di saluran irigasi.

Erpin tersenyum. "Kau benar Wan!"

Wirawan tersenyum lebar begitu bersemangat hingga mendadak dia lupa dengan persyaratan yang baru saja dibacanya. "Ayo kita harus menjelajah waktu sekarang juga!"

"Cara kerjanya bukan begitu, kan sudah dijelaskan," Aron mengingatkan, "kita harus menunggu selama dua bulan setelah mengirim surat balasan berupa persetujuan."

"Ya sudah lebih baik sekarang kita ambil surat yang muncul di kaleng terlebih dahulu, aku penasaran apa yang sepupumu kirim Ron."

Terdengar suara nenek di lantai atas, meneriaki Aron dan teman-temannya supaya sholat dengan menyuruh berhenti bermain-main dengan handphone-nya. Aron balas meneriaki neneknya dengan mengiyakannya.

Sementara itu Wirawan jadi teringat neneknya di kampung. Dia menggerutu, mengatakan bahwa setiap pulang mudik neneknya juga seperti itu, selalu menganggapnya bermain handphone setiap saat, padahal tidak selalu begitu. Kemudian Aron menambahkan bahwa orang tua manapun tidak ada bedanya, yang disetujui oleh mereka.

"Lebih baik suratnya kita ambil nanti saja setelah solat," ucap Aron sambil memutar kunci yang sepertinya sudah lama tergantung di pintu. Pintu itu berada tepat di sebelah jendela, satu-satunya akses supaya mereka tidak melewati lorong yang gelap, meskipun harus memutari pekarangan.

"Tanggung," protes Erpin, "Lebih baik kita ambil sekarang juga!"

"Kita akan ke sini lagi nanti," Aron masih sibuk memutar kunci yang sulit diputar, dia meringis nampak kesal namun tidak menyerah. "Kita harus lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan, siapa tahu ada keajaiban lain."

"Kau benar Ron! Siapa tahu kaleng itu bisa mengabulkan semua keinginan kita!"

"Kau tidak baca tulisan cap garis waktu di kalengnya, Wan? Kupikir kaleng itu hanya berkaitan soal waktu."

Aron tersenyum begitu dia berhasil menaklukkan kunci yang mungkin berkarat, kemudian sambil membuka pintu dia berkata, "Nah justru itu barangkali kita bisa berkomunikasi dengan nenek moyang kita yang kaya atau raja-raja di Nusantara. Kita bisa melakukan kesepakatan dengan barter, memintanya mengirim benda-benda kuno yang berharga seperti berbahan emas, dan menukarnya dengan sesuatu yang modern— sesuatu yang jauh lebih murah dan berfungsi."

"Benar juga, kita akan menjadi kaya!" Erpin tersenyum, mendadak dia sangat bersemangat. "ayo kita harus bergegas!"

Mereka keluar, berjalan menelusuri pekarangan gelap yang dipenuhi tanaman rempah-rempah dengan penuh semangat dan berisik. Mereka menduga para rakyat atau selir di jaman Majapahit bakal terheran-heran begitu melihat rajanya ber-selfie dengan handphone yang mereka kirim, atau menggunakan handset untuk mendengarkan musik. Yang pasti benda-benda itu akan tampak menakjubkan dan sebanding dengan benda berharga yang ditukar. Mereka yakin para raja, sultan atau siapa pun di abad ke-14 tidak akan menolak tawarannya. Mereka tertawa kegirangan, membayangkan akan menjadi orang kaya dadakan. Sekarang mereka benar-benar sudah tidak sabar ingin cepat-cepat melakukannya.

"Hei bayangkan jika kita membarternya dengan kaca mata hitam, pasti Raja akan terlihat modis di singgasananya," timpal Wirawan, mereka tidak bisa untuk tidak kembali tertawa.

"Bagaimana jika pada masa penjajahan kita membarter senjata, seperti senapan dan revolver? Negara kita pasti akan menang dan makmur."

Aron mengangguk mendengar perkataan Erpin. "Tentu saja. Mereka pasti akan terluntang-lantung sebelum sempat menjajahnya." Mereka tertawa kegirangan.

Lihat selengkapnya