Begitu berada di ambang pintu masuk, aku teringat kamar bibiku yang kosong. Saat ini bibi berada di Jogja. Dia kuliah di salah satu universitas ternama di sana, dan di sanalah bibi bertemu dengan ayahnya Aron. Percintaan yang manis, aku pernah mendengarnya langsung dari bibi. Alih-alih pergi ke perpustakaan, aku memutuskan pergi ke kamar bibi yang lebih dekat. Kamar itu terletak di ruang tamu, tidak terkunci, dan aman— maksudku sejauh ini tidak seorang pun yang masuk ke dalam kecuali nenek, itu pun hanya untuk bebersih. Beda kasus dengan kamar papa dan Om Rendra yang kadang-kadang dijadikan tempat bermain Om Harun.
Setelah meletakkan surat di bawah bantal, aku kembali berubah menjadi kucing dan bergegas keluar. Dari kejauhan, aku bisa melihat mereka masih mencegah kepergian Om Rendra. Rupanya mereka belum menyadari keberadaanku.
"Sekarang apa lagi yang harus kita lakukan?" tanya kucing klawu begitu Om Rendra berhasil memindahkan Tuan Bagong, yang tadinya meringkuk di kakinya. "Hei Tuan Bagong bagaimana jika aku mengencingi sepatunya?"
"Itu tidak sopan Nak."
"Kalau begitu bagaimana jika aku menarik celananya, dan kau berguling-guling di depannya layaknya kucing sekarat?"
"Apa tidak terbalik Nak? Sebaiknya kau saja yang berguling. Tulang-tulangku sudah terlalu tua untuk itu."
"Tidak Tuan Bagong, justru jika kau yang melakukannya dia bakal panik dan pergi ke rumahmu untuk mengabari majikanmu. Jika aku yang melakukannya, siapa yang bakal dikabari?"
Begitu kembali, aku berdehem. Mereka serempak menatapku. "Hei kurasa sudah cukup, terima kasih—" aku menghentikan ucapanku begitu menyadari mereka terlihat panik. Rupanya mereka tidak menatapku, tapi menatap sesuatu di belakangku.
Aku menoleh ke belakang, di sana nenek berjalan menenteng sapu lidi dengan langkah lebar sambil menggerutu; "Ada apa dengan kucing-kucing liar ini! Menganggu saja!"
"Sebaiknya kita lari!" ucap kucing klawu.
"Tentu saja, kita harus bersembunyi Nak."
Kami lari keluar melalui pintu gerbang yang terbuka sedikit, dan memutuskan menunggu Om Rendra di sana. Sambil menunggu, aku memberi tahu letak surat di kamar bibi kepada Tuan Bagong. Dan begitu tawa Om Rendra terdengar, aku mengintip melalui celah pintu gerbang.
"Lihat Ma, bahkan mereka lari ketakutan sebelum Mama melakukan apa pun!" Om Rendra masih tertawa, dan aku tidak bisa untuk tidak tersenyum. Rasa-rasanya aku sudah mengenal lama Om Rendra, barangkali karena dia sedikit mirip papa.
"Itu bagus! Kemarin kucingnya Wayan memecahkan vas Mama, dan sekarang lihat kucing itu membawa gerombolannya dan mengganggumu. Oh benar-benar tak habis pikir! Itu masalahnya kenapa Mama melarang Wayan memelihara kucing di rumah! Tapi Wayan ora iso diwei ngerti, terus ngotot, sakarepe dewek!"
Om Rendra kembali tertawa kemudian merangkul nenek. "Kupikir karena kucing itu pemberian pacarnya Ma."
"Pacar siapa?" Nenek nampak terkejut. Sementara aku menatap diriku sendiri; kucing ini pemberian mamaku?
"Tentu saja pacar Wayan."
"Wayan sudah punya pacar? Kenapa Mama ora ngerti, piye to bocah siji kae! Seharusnya bawa ke rumah, kenalin sama Mama!"
"Mungkin Wayan belum sempat. Mama tahu sendiri kan dia sibuk," Om Rendra menatap jam tangannya. "Aku harus pergi Ma."
"Jangan kemalaman mainnya Ndra, dan jangan macem-macem!"
Aku dan kucing Klawu mengikuti Om Rendra berjalan keluar perumahan. Kemudian menaiki angkutan umum menuju stasiun KRL. Kami bersembunyi di kolong angkot. Meski pengap dan kucing klawu tidak berhenti mengeluh, aku tidak bisa mengelak bahwa aku menikmati perjalanan ini. Rasanya menyenangkan melewati jalanan yang hampir setiap hari kau lewati nyaris berbeda; jalanan yang sempit, tanah kosong yang lebar, pohon-pohon yang rindang, masjid yang belum direnovasi, beberapa rumah dan tokonya bahkan masih berupa perkebunan.
Apalagi ketika sampai di peron, hampir segalanya berbeda. Stasiun yang tadinya cukup bersih dan sistematis mendadak seperti pasar dan tempat tongkrongan; penjual asongan di sana sini, tukang koran, tukang semir sepatu, pencopet, pengemis. Semuanya amburadul, dan aku bisa melihat kesenjangan sosial hanya dari sini. Maksudku, oke di masa depan memang masih terjadi kesenjangan sosial, tapi tidak seburuk di masa ini. Meski begitu suasana di sini terasa hangat, barangkali alunan lagu-lagu jadulnya atau orang-orang yang saling mengobrol tanpa menggunakan handphone.
"Aku benci bersembunyi di sini!" ucapnya ketika kami kembali bersembunyi di kolong, kali ini kolong kursi kereta. "Aku kepanasan. Dan uhh ... aku pusing dan mual dengan bau kaus kaki bercampur mesin ini. Lebih baik berada di tempat sampah yang banyak serangganya!"
"Kau bisa diam tidak? Kan sudah kusuruh pulang saja." Aku mendengkus, kemudian mengintip melalui kaki penumpang. Seorang bocah memperhatikanku, tapi aku tidak peduli selama dia tidak macam-macam. Aku memperhatikan sekeliling, pintu dan jendelanya dibiarkan terbuka begitu kereta berjalan. Tidak ada AC, dan pengamen tak ubahnya seperti sebuah band. Peralatannya begitu lengkap; drum kecil, gitar, ecek-ecek. Aku nyaris tertawa dengan kekonyolan semua ini, hingga kucing klawu kembali bersuara.
"Hei kau bisa ketahuan!"
"Tutup saja mulutmu kucing klawu, dan lihat semua ini. Ini luar biasa! Kapan lagi aku bisa menikmati semua ini."
Dia kembali menggerutu tapi sambil ikut mengintip. "Kita bisa mati kalau ketahuan. Bisa-bisa kita didepak dari sini—" dia menghentikan ucapannya, dan nampak takjub melihat penampilan pengamen yang suaranya mirip Ebit.
"Di masa depan tidak ada yang seperti ini," ucapku.
"Tidak menyenangkan seperti ini?"
"Bukannya tidak menyenangkan. Maksudku tidak ada band di dalam kereta. Di masa depan segala sesuatunya lebih sistematis, dan aku merasa lebih dipermudah dengan fasilitasnya. Tapi sekarang aku merasa senang, aku senang karena bisa merasakan apa yang orang tuaku rasakan."
"Kau sangat beruntung bisa kembali ke masa lalu."
Aku berusaha tersenyum, tapi malah menjadi senyuman masam. "Semoga begitu," ucapku meski aku tahu sesuatu yang gelap menanti di sana.
Hampir dua jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Jakarta Timur, di daerah Duren Sawit. Kami berjalan mengikuti Om Rendra menelusuri pertokoan, kafe, dan mall-mall. Kemudian masuk ke gang tikus yang sempit dan kumuh. Melewati tempat karaoke, rusun, warung, pagar-pagar berkarat, dan ibu-ibu berdaster yang sedang bergosip di pelataran. Tikus di mana-mana, sementara lalat hijau berterbangan mengerubungi sampah yang membumbung di selokannya. Ketika kucing klawu bermain-main mengejar tikus, aku harus menahan napas begitu disergap bau bacin dan amis yang amat buruk. Dan mengambil napas sebanyak mungkin, nyaris mual, begitu sampai di jalanan yang lebih lenggang dengan tanaman turus yang mengapitnya.