Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu 1998

Jalvanica
Chapter #9

Lintas Waktu

Setelah pergi ke rumah mamaku dan makan di sana, aku berencana pulang untuk mengambil revolver milik kakek (aku merasa bakal lebih aman jika membawa benda itu). Tapi aku justru pergi ke indekos papa, menyelinap melalui jendela yang sedikit terbuka bersama kucing klawu yang bermuka masam. Sebenarnya dia terpaksa mengikutiku, meski tidak ada yang memaksanya. Lewat kelelawar yang baik hati, dia mengabari temannya untuk membatalkan rencana berburu serangga.

Sekarang aku berada di ruang sempit kosong yang dipenuhi poster The Beatles, Nike Ardilla, dan artis wanita Amerika. Begitu kucing klawu meringkuk di kasur dengan muram, aku memutuskan berubah menjadi manusia, dan menyempatkan mengecek barang bawaanku di saku.

Aku bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh jari-jari tanganku. Aku tersenyum begitu empat peluru yang kucuri dari kelas menembak berhasil kubawa ke sini. Sama saja dengan bunuh diri seandainya aku pergi ke sini dengan tangan kosong, dan tanpa rencana. Meski aku tahu rencanaku tidak matang-matang amat, dan tidak cukup hanya berbekal menembak dari latihanku selama sebulan. Tapi aku harus percaya dengan kemampuan membidikku. Instingku lumayan. Sedari kecil aku juga sudah terlatih membidik segala sesuatunya menggunakan ketapel, kebanyakan berupa buah-buahan di pohon tetangga atau burung emprit— tentu saja sebagian besar adalah ide Aron.

Suara motor yang berhenti membuatku berjengit, dan mengintip dari balik tirai. Papa pulang, buru-buru aku mengeluarkan amplop dari layanan kaleng kerupuk cap garis waktu, lalu kembali berubah menjadi kucing— tidak lucu tiba-tiba papaku memergoki seorang gadis di kamarnya.

Pintu kamar terbuka, aku bersembunyi di kolong meja karena refleks. Papaku muncul dengan raut masam, dan terlihat kelelahan. Dia melempar kaos kaki ke sisi meja belajar, lalu meletakkan ranselnya di kursi. Rupanya papa belum menyadari keberadaan kami. Hingga ketika dia merebahkan diri ke kasur, lima menit kemudian, matanya menangkap kucing klawu yang bergelung di pojok tembok. Dia menepuk-nepuk kasurnya sambil berucap 'hus-hus' beberapa kali untuk mengusirnya, tapi kucing klawu hanya menggeliat dan menguap begitu lebar.

Papa mendengkus sambil beringsut ke arah kucing klawu untuk mengusirnya, tapi aku menggagalkan aksinya dengan keluar dari persembunyian. Dahinya mengernyit begitu melihatku.

"Hei, kau mirip kucingku. Ya Tuhan— kau seperti kembarannya Kismis."

Kismis, kenapa papa memberi nama itu kepada kucingnya? Itu sangat payah.

"Dan apa itu?" Papa memicingkan matanya begitu sadar aku mengigit sebuah surat. Dia bergerak begitu cepat ke arahku, berjongkok di hadapanku. Dia memiringkan kepala sambil menggaruk rambutnya. "Surat?"

Dia meraih surat dari gigitanku, memperhatikan suratnya dengan tatapan; tidak-percaya-binatang-dapat- mengantar-surat. Begitu dia membuka amplopnya yang kosong, aku berkata, "Itu bukan surat untukmu. Itu hanya sebuah syarat supaya kau dapat berbicara denganku."

Papaku berjengit sambil menatapku, terkejut sesaat. Kemudian dia menggeleng sambil berjalan menuju jendela untuk menatap sekitar, dan menggaruk tengkuknya begitu tidak mendapati siapa pun.

"Itu suaraku," ucapku, dan dia menghentikan gerakannya menutup jendela. Dia berbalik dan menatapku dengan wajah pucat, seolah-olah dia baru saja melihat setan.

"Kau — kau baru saja berbicara?!" Bukan sebuah pertanyaan, tapi sebuah tuduhan yang sulit dipercaya.

"Ya memang," jawabku terlewat santai. "Maaf Pa— maksudku Wayan. Aku membuatmu ketakutan, tapi aku memang bisa berbicara. Dan jangan kuatir aku bukan jelmaan setan."

Papa mengerjap beberapa kali, kemudian dengan panik berucap, "Ya, ya tentu saja, kau bukan jelmaan setan, tapi siluman! Kau— kau kucing yang bisa berbicara."

Matanya bergerak-gerak cepat dan waspada. Kemudian dia menggaruk rambutnya nyaris frustasi. Mendadak rautnya berubah menjadi konyol, kemudian dia tertawa. "Oh akhir-akhir ini aku kurang tidur. Itu dia— itu dia yang membuatku gila!"

Aku mendesah begitu dia kembali tertawa seperti seorang idiot. Dia persis papaku yang kukenal ketika isi chatting-nya bersama seorang dealer kepergok Mama— isinya berupa pertanyaan mengenai mobil keluaran terbaru, padahal mobilnya masih berfungsi dengan baik.

"Aku pasti berhalusinasi saking capeknya akhir-akhir ini! Ya itu bisa terjadi," ucapnya lagi, kemudian dia kembali mencari alasan. "Ya, akhir-akhir ini segala sesuatunya memang sedang kacau dan tak berjalan sesuai rencana, tidak heran aku berhalusinasi!"

Kini pandangannya kembali tertuju padaku. "Sebaiknya aku tidur, dan kalian harus pergi—"

Papa memundurkan langkah dan menubruk tong sampah begitu aku berubah wujud. Tangannya dijadikan berikade, entah karena silau atau dia menganggap cahaya yang berpendar dari diriku bakal menyayat tubuhnya layaknya laser. Air mukanya sangat beruk; matanya terbelalak, sementara tangannya menutupi mulutnya yang menganga lebar untuk mereda suaranya begitu mendapatiku menjadi manusia. Dia terkejut sama terkejutnya dengan cicak yang bersembunyi di balik lemari.

"Kau— kau benar-benar siluman!" Dia meremas kepalanya. "Apa-apaan semua ini. Mana ada siluman?"

Papa menatapku waspada. "Oke—" dia berusaha mengatur napas, kepanikan di dalam matanya menghilang begitu saja. Mendadak dia terlihat seperti seorang pemimpin— pemimpin perang yang akan terus maju, apa pun situasinya. Tatapannya terlihat tegas dan stabil, seolah-olah dia bisa mengatasi segalanya. Aku pernah melihat papa seperti itu, papa yang  kuat dan tegar ketika menghadapiku di hari kematian Mama. Meski sebenarnya dia sama hancurnya denganku.

"Jadi, sebenarnya kau mau apa dariku?" Dia berdehem, dan sifatnya yang bagai pemimpin lenyap begitu saja ketika dia kembali bertingkah aneh. Dia tertawa. "Tentu saja, tentu saja kau sedang mencari tumbal."

Aku memandangnya datar, "Jangan konyol," ucapku sambil menarik kursi dan duduk di sana. "Demi Tuhan aku tidak akan menyakitimu."

"Yah terserah." Papa berlagak tidak takut apa pun, tapi suaranya bergetar. Sepintas dia mirip Aron. "Kau— kau mau pulang kapan? Aku sangat mengantuk."

Papa menguap, dan jelas hanya dibuat-buat. Kemudian dia melemparkan tatapan memohon; 'tolong-pergi-dari-sini-aku- tidak-mau-menjadi-tumbal-dan-mati-sia-sia.

Aku tersenyum, dan senyumku menjadi tawa. Dia mengernyitkan dahi, kemudian ikut tertawa yang terdengar dipaksakan. Aku menghentikan tawa, dan menatapnya ketus. "Hentikan kekonyolan ini! Ya Tuhan— ini bukan main-main!"

"Ya tentu saja bukan main-main. Aku tahu— aku tahu kau memerlukan tumbal untuk kelangsungan hidupmu. Aku mengerti perasaanmu, seandainya aku menjadi siluman—"

"Stop Pa! Persetan dengan siluman!" Aku mendesah. Aku jarang mengumpat, tapi papa-lah yang membuatku terlihat buruk.

"Ya siluman memang setan— maksudku, aku tak akan mengungkit-ungkit soal siluman kalau kau tidak suka dipanggil seperti itu. Tentu saja, tentu saja!" Dia tersenyum canggung, aku merasa setiap kalimatnya dipilih secara hati-hati, seolah-olah aku akan memakannya jika dia membuatku tersinggung sedikit saja.

Dan tentu saja tidak akan ada teguran.

Di masa depan ketika aku mengumpat di hadapannya, papa akan menegur dan memarahiku selama hampir setengah jam. Dari yang menceramahi bahwa mengumpat bukan sikap dari wanita terdidik, hingga bakal berdampak pada masa depanku, yang kemudian menyerempet ke relasiku— pertemanan dan boy friend. Aku hanya menangkap beberapa kata dari kalimatnya yang panjang lebar. Intinya papa melarangku mengumpat, karena itu tindakan yang tidak sopan.

"Omong-omong soal Pa, maksudmu aku? Aku Papamu?" tanyanya bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Yang benar saja, tentu saja bukan," jelasku.

Sebagian dari diriku ingin mengaku, tapi sebagian yang lain menginginkan supaya tidak memberi tahu statusku, status anak-bapak. Ini bakal aneh. Seandainya aku memberitahu segalanya, papa akan menghujaniku dengan pertanyaan, dan aku tidak mau membongkar momen papa dan mamaku. Aku hanya akan memberi tahu seperlunya saja, itu memang tujuanku dari awal. Kemudian aku teringat situasi yang mesti aku hadapi— tinggal menghitung jari peristiwa berdarah-darah yang hanya aku dengar dari keluargaku, dan saksikan dari buku, koran, dan medsos akan terjadi. Memikirkannya saja membuatku mulas, bulan ini layaknya bom waktu yang bakal merenggut satu persatu orang-orang yang aku sayangi.

"Dengar baik-baik," ucapku teramat serius, papa memandangku seperti seorang murid yang patuh pada gurunya. "Aku datang dari masa depan."

Lihat selengkapnya