Membujuk nenek untuk mendapatkan informasi mengenai Om Rendra rupanya tidak semudah yang mereka bayangkan. Bahkan lebih sulit daripada membujuk ibunya Aron, tapi mereka masih mempunyai harapan. Begitu mereka memperdebatkan kebohongan Om Harun, nenek selalu menghasilkan kebohongan baru; Pamanmu itu meninggal karena sakit, Ron.
Tentu saja mereka tidak percaya dengan terus membujuk nenek untuk tidak berbohong.
"Nek bagaimana kita bisa jujur, kalau Nenek saja berbohong? Apa Nenek tidak takut kuburannya sempit?"
"Itu sih teori menakut-nakuti supaya orang tidak pelit," Erpin mengoreksi nyaris berbisik.
Dan rupanya perkataan Wirawan tadi berhasil menyulut kemarahan nenek.
Rautnya berubah menjadi ketus dan kesal. Kemudian nenek mengalihkan pembicaraan dengan; "Untuk apa kalian ingin mengetahui kematian Rendra? Memangnya semua itu keluar di soal UN?"
Mereka saling pandang, tatapannya bersekongkol untuk mengajak tertawa.
"Sekarang sudah tidak ada UN Nek, apalagi di perguruan tinggi," jelas Aron.
"Sekarang hampir Dzuhur lebih baik solat berjemaah di Masjid, dan doakan Ayesha supaya cepat siuman! Dan apa-apaan ini!" Nenek menunjuk makanan pemberian mereka. Ada pizza dan hamburger. "Kalian setiap hari makan-makanan seperti ini? Ilatmu ilat wong Jowo apa bule? Piro iki hargane ... ya Gustiii bisa nggo tuku tempe sekarung!"
Mereka mendesah dan memasang raut datar. Sebelumnya mereka juga kenal omel nenek ketika membelikan makanan tradisional yang harganya tidak seberapa seperti kue cucur, keplon, wajik, dan molen. Waktu itu nenek berseru; Kalian ingin menyuap Nenek dengan makanan yang harganya tidak seberapa ini, dan membuat nenek diabetes? Jangan harap!
"Jadi Nek, apa yang terjadi pada pamannya Aron—"
"Bocah jaman saiki ora bisa diwei ngerti sepisan!" Suara adzan Dzuhur berkumandang. "Sudah sana lebih baik ke masjid. Pemuda macam apa kalian tidak pernah berjamaah di Masjid? Sekalinya solat telat terus, yang lain dapat unta kalian hanya dapat buntut!"
"Buntut apa Nek?" tanya Wirawan menahan tawa, sementara Aron dan Erpin sudah diam-diam tertawa sambil saling berbisik; Nenek penyihir bahkan tidak segalak ini. Sepertinya Om Harun benar, nenek galak karena lahir di kliwon.
"Buntutmu! Pakai nanya lagi. Ya, buntut unta, piye to?" jawaban nenek membuat mereka menyemburkan tawa.
Erpin berkata dengan suara yang tersendat tawa, "Buntutmu Wan, buntutmu!" bisiknya, dan tawa mereka semakin menjadi.
Nenek memandangnya ketus, "Ora usah cengengesan! Wis ngana pada solat."
Aron berdehem supaya menghilangkan sisa tawanya. "Nek bagaimana kalau kita membuat kesepakatan," sarannya. "Kami bakal rajin ke masjid tapi Nenek harus memberi tahu kebenarannya, bagaimana?"
Nenek memicingkan mata, tatapannya meneliti dan penuh perhitungan. "Kalian bersungguh-sungguh, tidak?"
"Tentu saja Nek."
"Baiklah jika selama sebulan kalian rajin ke masjid, akan kuberi tahu."
"Sebulan?" Mereka saling tatap dan berbisik.
"Ini terlalu lama!"
"Bagaimana kalau pamanmu meninggal lebih dulu?"
Aron mendesah. "Bagaimana kalau dua hari Nek, maksudku setelah dua hari kami akan terus rajin ke masjid. Bukan begitu?" tanyanya, Erpin dan Wirawan mengangguk.
Nenek nampak berpikir. "Yang benar, nanti kalian berbohong?"
"Tentu saja tidak Nek," timpal Erpin dengan wajah yang paling serius.
"Ya sudah seminggu."
"Tiga hari Nek."
"Lima hari, tidak ada tawar menawar lagi!"
"Empat hari Nek, kami tidak akan menawar lagi."
Nenek mendesah. "Ya sudah."
"Deal!" Aron menjulurkan tangan, yang membuat nenek menatapnya aneh.
"Tidak perlu pake dil, dil, apa itu? Memangnya mau acara super deal apa!"
Mereka kembali tertawa secara diam-diam.
"Baiklah Nek," timpal Wirawan. "Sekarang juga kita akan ke masjid."
"Ron!" Panggil nenek begitu mereka berbelok ke tangga untuk mengambil sarung.
"Kenapa Nek?"
"Apa ya?" Tiba-tiba nenek lupa, kadang-kadang ini memang sering terjadi kepadanya. "Oh— jangan bercanda di Masjid ya!"
"Tentu saja tidak, memangnya kita anak kecil."
Untuk ukuran seseorang yang jarang solat berjemaah di masjid, membuat mereka benar-benar merasa kewalahan. Solat tepat waktu di masjid memang tidak mudah. Begitu adzan berkumandang, mereka harus berhenti melakukan aktivitas meski sedang seru-serunya bermain game online, atau membuat konten. Hari pertama dan kedua mereka bisa melaluinya. Dan ini yang membuat nenek lebih ramah, sementara mereka menjadi percaya diri akan mendapatkan kebenarannya. Tapi semuanya menjadi kacau pada hari ketiga.
Waktu itu adalah saatnya solat magrib. Ini berawal dari imam masjid yang tidak datang karena sakit, dan digantikan oleh seorang kakek. Rupanya kakek itu suaranya tidak jelas, menyerupai gumaman, dan sangat lama. Bahkan beberapa jamaah sampai mengantuk, termasuk mereka. Tapi itu bukan masalah. Masalahnya adalah ketika Aron dan Erpin sudah tidak sanggup menahan tawa ketika Wirawan terus sujud, sementara yang lain sudah berdiri dan hampir rukuk. Pada akhirnya tawa mereka bertiga pecah, menggema, dan terdengar oleh para jamaah termasuk nenek.
Lebih parahnya lagi mereka langsung kabur dengan berucap; bodoh kenapa sampai tertidur begitu!
"Bukannya tidur, hanya saja aku tidak bisa mendengar suaranya! Suaranya terdengar seperti dengkuran," jawaban itu tidak sengaja diucapkan Wirawan dengan lantang.
Kejadian tersebut akhirnya menjadi buah bibir nyaris satu kompleks. Mereka terlalu malu untuk datang ke masjid yang sama, bahkan ketika solat Jumat mereka menyempatkan datang ke masjid yang lebih jauh. Sementara mengenai persyaratan, tentu saja gagal. Kesialannya tidak sampai disitu, mereka juga kena omel dan ceramah nenek yang panjang lebar.
Wirawan mendesah, dia masih saja kepikiran kejadian di masjid. "Kejadian itu membuatku merasa buruk, dan tidak bertanggung jawab."
Mereka baru saja mengecek isi kaleng kerupuk, barangkali sudah ada balasan dari Kemuning, tapi ternyata belum ada. Sekarang mereka masih di perpustakaan, akhir-akhir ini mereka sering menghabiskan waktunya di sana, termasuk membuat konten ome tv.
"Memangnya kapan kau bertanggungjawab?" timpal Erpin sambil tertawa. "Sudahlah Wan jangan terlalu dipikir. Lagi pula tidak semua salahmu!"
"Tentu saja semua bukan salahku, tapi salah kalian juga!"
Aron yang sedang asyik bergulir di Instagram menatap mereka. "Hei sudahlah, itu kan tidak disengaja. Lagi pula suaranya memang terdengar seperti dengkuran, sama sekali tidak jelas."
Erpin mendesah. "Dipikir-pikir yang membuat kita buruk adalah kaburnya. Sudahlah lupakan, kita jadikan ini sebagai sebuah pelajaran saja!"
"Omong-omong soal penyebab kematian Om Rendra mau bagaimana? Nenek tidak akan membuka mulut lagi," ucap Wirawan.
"Mau bagaimana lagi, sekarang Om Harun satu-satunya harapan," timpal Aron terlewat santai.
"Tapi kau sendiri yang bilang itu mustahil, Ron."
"Sekarang tidak lagi. Aku sudah punya ide!" Kemudian Aron memberitahu rencananya yang menggebu-gebu kepada mereka berdua.
Rupanya Wirawan nampak keberatan. "Memangnya tidak apa-apa kita pura-pura menjadi perampok untuk menyekap pamanmu, Ron? Bagaimana jika kita tertangkap betulan?"
"Lagi pula bagaimana dengan istrinya? Kupikir ini sangat berisiko."
"Sebentar aku belum selesai bicara," jawab Aron. "Sebaiknya kita sekalian membuat konten."
"Maksudmu konten cara merampok di rumah pamanmu, Ron?"
Erpin mendengus. "Bodoh, bukan tips! Tapi prank merampok di rumah paman Aron." Erpin tersenyum, dan mendadak bersemangat. "Ini bakal menarik! Ayo kita harus menyusun rencana. Oh, sebaiknya kita kabari istrinya terlebih dahulu."
"Jangan khawatir soal istrinya, Nuna pasti bakal setuju."
"Nuna? Namanya Nuna, bukannya dalam bahasa Korea itu panggilan kakak perempuan, ya?
Istri Om Harun yang biasa dipanggil Nuna oleh ponakan-ponakannya karena seorang fangirl dan pecinta Drakor, memang sangat mudah untuk diajak bekerjasama. Selain baik, berjiwa muda, dan modis, dia juga pernah mendapatkan penghargaan sebagai ratu kecantikan. Nuna hanya mendapat sedikit peran dalam permainan yang mereka buat. Dia hanya perlu pura-pura pergi membeli ketoprak (yang sebenarnya dia hanya main ke rumah tetangganya). Nuna tidak keberatan, dan membiarkan mereka menjalankan aksinya dengan leluasa.
"Astaga Ron, kau membuatku kaget!" Nuna nyaris terperanjat begitu berpapasan dengan mereka di dekat gerbang rumah tetangga. Ketiganya muncul dari mobil sudah menggunakan kostum perampok; baju serba hitam, penutup kepala hitam dengan tiga lubang, dan sebuah pistol yang terlihat seperti sungguhan.
Aron menarik ke atas tutup kepala yang menutupi wajahnya, kemudian berkata, "Bagaimana penampilan kami?"
"Tidak diragukan lagi!" Nuna tertawa. "Kalian seperti perampok sungguhan!"
Wirawan memutar pistol menggunakan jarinya dengan gaya pamer, kemudian ia arahkan moncongnya di kepala Aron sambil berkata 'dor' yang berlebihan.
Aron berdecak. "Yang benar saja."
"Oh, anak-anak," Nuna memasang wajah ngeri, "di dalamnya tidak ada pelurunya, kan?"
"Tentu saja tidak," Erpin menjelaskan. "Jangan khawatir."
Nuna mengangguk, lalu mengernyitkan dahi begitu sadar Erpin menggendong tas ransel. "Perampok mana yang membawa ransel?" Nuna tertawa, yang kemudian Aron menjelaskan bahwa ransel itu berisi sebuah peralatan (Kamera, ponsel, tripod, senter, selotip, tali untuk mengikat, gunting, dan karung goni).
"Pamanmu tadi sedang mandi, sekarang pasti sudah selesai." Nuna memberikan berbagai kunci rumah kepadanya. "Semoga beruntung," ucapnya sambil menepuk pelan lengan Aron.
***
Pagi harinya sambil menikmati kopi dan pisang goreng, mereka menonton hasil video prank Om Harun yang belum diedit.
PRANK MERAMPOK DI RUMAH OM HARUN— Transkip film (belum diedit, kameramen oleh Aron)
Kamera menyorot Erpin dengan latar rumah mewah berlantai dua.
Erpin
(Sangat antusias)
Gaess kita akan membuat prank merampok di rumah pamannya Aron!
Ini bakal menyenangkan, dan menegangkan sekaligus! Ikuti keseruan kami, let's go!
Aron
(Mode Kamera depan)
Yeah, tentu! Sementara kita masuk ke dalam, Wirawan akan memadamkan listriknya, sekarang lihat dia!
Kamera bergerak maju ke arah Wirawan yang berada di pekarangan dekat korsleting.
Wirawan
(Menyeringai lebar)
Aku akan membuat rumahnya gelap, dan menyusul ke dalam nanti. Gaees kalian pasti sudah tidak sabar kan? Aku sih tidak, tapi bohong hahaha—
Kamera bergoyang-goyang. Terdengar erangan, rupanya Aron baru saja menendang pelan kaki Wirawan.
Aron
Jaga suaramu, nanti ketahuan!
Wirawan
Tidak sengaja.
Aron