Aku menggeliat, mengernyit, kemudian menyalakan lampu begitu suara gagak di luar tak berhenti mengeok. Bukan suara yang berasal dari satu ekor gagak, tapi lebih. Aku memandang jam, pukul 01.00 dini hari. Sambil menguap aku beringsut ke luar. Arnav sudah berada di ambang pintu, terlihat sama terganggunya denganku. Dia bersandar kusen pintu dengan matanya yang setengah terpejam, menyuruh para gagak untuk diam— dua gagak, satu miliknya, dan satu entahlah.
Dia memandangku, lalu berucap dengan suara serak khas bangun tidur. "Kita harus mencari seekor kucing untuk memahami ucapan mereka, atau gagak-gagak itu tak akan berhenti mengeok."
"Kau benar, kita harus mencarinya."
Dan begitulah kami berkeliaran dalam wujud kucing untuk mencarinya. Nyaris menyerah hingga 10 menit berikutnya, kami menemukannya. Kucing itu tengah tertidur pulas di bawah kursi teras seseorang. Kucing jantan orange yang perhitungan. Kami harus mencari serangga, tikus, atau makanan apa pun yang dia suka lebih dulu, sebelum membawanya menemui burung gagak.
"Mereka memang sengaja membangunkan kalian," jelasnya "Mereka bilang teman kalian membutuhkan bantuan." Dan begitu matanya tertuju padaku, aku tahu orang itu temanku, alih-alih temannya Arnav.
Aku mengernyitkan dahi, mataku bergerak-gerak gelisah. "Siapa?" Papaku, mama, atau Om Rendra?
"Mereka bilang—" kucing itu mendesah, dan kembali menatap burung gagak. "Siapa namanya tadi?"
Burung gagak mengeok, dan begitu berhenti, kucing itu kembali menatapku. "Dia bilang Tuan klawu dan Wayan."
"Itu papaku!" Aku menatap Arnav dengan raut muka yang berlebihan, nyaris syok. Ya Tuhan apa yang terjadi padanya!
"Apa yang terjadi padanya?" Arnav-lah yang lebih dulu bertanya, mewakilkanku.
"Gagak itu bilang mereka berhasil melarikan diri. Tapi salah satunya pingsan di jalan—" dia kembali menatap burung gagak, dan aku nyaris meringis saking tidak sabar. "Tadi kau bilang siapa yang pingsan?"
Burung gagak kembali mengeok.
Kucing orange mendengarkan sambil menjilati bulunya dengan malas, kemudian menatap kami. "Wayan, dia yang pingsan. Dia berada di dekat terminal, tak jauh dari sini."
Aku dan Arnav membuat kesepakatan. Aku akan pergi menemui papa bersama burung gagak, sementara dia akan pergi ke rumah kakeknya untuk 'mencuri' motor. Meski mencuri bukan pilihan kata yang tepat, mengingat dia bakal mengembalikannya setelah mengantar kami menuju Depok.
"Di luar masih petang, kau tak apa-apa pergi sendiri?" tanyanya lagi ketika aku sedang mengambil ransel milik papa. Kami butuh ini sebagai tempat kucing klawu dan aku dalam perjalanan pulang nanti. Mungkin butuh dua ransel, aku tak mau berdesak-desakan dengan kucing klawu. Aku tak mau menambah kutu-kutuku.
Aku mendongak, dan nyaris tersenyum geli. "Aku bakal baik-baik saja, jangan kuatir. Masalah sebenarnya adalah, kau tahu, aku membutuhkan satu ransel lagi untuk membawaku pulang nanti."
"Gagasan luar biasa, Ayesha, akan kucari!"
Dia terlihat masam, seolah-olah aku lebih mementingkan tas ransel ketimbang keselamatanku. Aku tak kuasa untuk tidak terkekeh geli. "Trims Ar! Aku baik-baik saja. Sungguh."
"Ya tentu, kalau begitu aku pergi." Dia berjalan keluar.
Sekarang aku lah yang mengkhawatirkannya. "Ar, berapa lama kau sampai di rumah kakekmu?"
Di dekat pintu dia menghentikan langkah, dan menoleh. "Sekitar setengah jam, paling-paling dua puluh menitan kalau lari."
"Aku yah— maaf merepotkanmu."
"Tak masalah, bukan sesuatu yang besar. Aku biasa joging pagi."
Aku percaya dia sering joging mengingat tubuhnya yang— tahu, kan, atletis. "Trims."
Papaku sudah sadar beberapa menit setelah aku sampai di sana. Aku memberikannya aroma terapi yang kubawa dari indekosnya. Dia terlihat begitu kacau dan pucat. Terdapat lebam di sana sini. Ada darah mengering di bagian bawah mulut, dahi, dan sikutnya. Tubuhnya terasa panas— ya ampun Papa demam. Kami menunggu Arnav sambil duduk di depan toko, tak jauh dari terminal. Papa bersandar tembok dengan mata terpejam, dan menggigil. Sementara kucing klawu bergelung di sampingku, juga nampak lelah. Jadi aku harus menahan bertanya apa pun.
"Kerja bagus kucing klawu." Aku mengelus kepalanya, bersyukur dia tidak kenapa-kenapa. Dia berjengit, dan menatapku.
"Yeah meski rasanya luar biasa," ucapnya. Kemudian dia menggerakkan ekornya beberapa kali. "Oh— Tuan Cemeng! Dia tertangkap ketika sedang menolong kami! Kasihan sekali dia."
"Burung dara itu— haruskah kita menolongnya?" Pertanyaanku begitu konyol, dan jelas tak ada yang mau repot-repot kembali ke sana kecuali jika kau benar-benar ingin tertangkap. Namun aku tak bisa membiarkannya seperti itu, berkat dia papaku bisa kabur. "Kita harus menolongnya!" Ada semacam kekuatan yang terbangun dalam diriku, sebuah adrenalin yang membuatku seakan bisa mengatasi segalanya.