Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu 1998

Jalvanica
Chapter #14

Rejeki Nomplok

Untuk Ayesha

Hei, Sha, aku sudah tahu segalanya. Aku sudah membaca surat bonus dari layanan kaleng kerupuk cap garis waktu milikmu yang kutemukan di perpustakaan. Karena ulahmu, semua orang menghawatirkanmu. Terlebih Om Wayan, dia sangat terpukul. Sehari yang lalu mamaku menjengukmu untuk pertama kalinya, dia juga tidak berhenti menangis. Mengenai Nenek, tentu saja setiap hari dia menjengukmu, juga memaksaku dan kedua temanku untuk berdoa bersama setelah solat isya!

Omong-omong soal temanku, tahu kan Erpin dan Wirawan? Kau pasti tahu! Mau bagaimana lagi, kami agak ... tahu, kan, terkenal. Aku yakin kau pasti salah satu subscriber kami. Nah, mereka juga tahu segalanya.

Sebenarnya di balik kekacauan yang kau buat, kau cukup berani untuk kembali ke masa itu. Tapi tetap saja di antara kita berdua, aku lah yang paling pemberani. Sejujurnya kami juga menginginkan menjelajah waktu sepertimu, jadi kami secara sukarela membalas surat yang muncul dari tahun 98. Baru satu surat, dari seorang perempuan. Dan ini cukup menyenangkan. Benar-benar ajaib!

Mengenai Om Rendra, kami sudah mencari penyebab kematiannya. Kupikir ini agak sensitif, makannya mereka berbohong dan menutup-nutupi kebenarannya. Om Rendra meninggal pada 15 Mei karena ikut menjarah di Yogya Mall Klander, di daerah Duren sawit, Jakarta Timur . Dia ikut terbakar di dalamnya. Sebelum kematiannya, kira-kira paginya, ada saksi mata melihat dia baru saja memperkosa seorang Tionghoa di kost-kostan. Kost-kostan itu tidak jauh dari sana, Om Harun bilang kira-kira 15 menitan dari Mal, dan masuk ke gang tikus.

Omong-omong soal Om Harun, dia patah tulang di bagian lengan tangan karena kami sempat terguling di tangga. Mau bagaimana lagi, tidak ada yang mau buka mulut. Jadi akhirnya kami membuat konten prank merampok di rumah Om Harun yang sebenarnya hanya sebuah kedok supaya dia buka mulut, dan hasilnya kacau!

Lupakan Om Harun, dia akan baik-baik saja. Sejujurnya aku masih sulit mencerna kebenaran semua itu. Siapa sangka paman kita termasuk pelaku pada kerusuhan Mei? Sekarang masuk akal kenapa mereka tidak mau mengungkit-ungkit soal Om Rendra.

Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Kupikir kau harus menghentikan tindakannya yang sinting dan tak bermoral.

Aron

Aron meletakkan suratnya di dalam kaleng, belum juga suratnya hilang surat lainnya muncul. Dia mengambil surat yang baru saja muncul, dan membaca surat dari Kemuning bersama kedua temannya.

Untuk Warkop Ajaib sejak '67

Terima kasih banyak atas surat balasan Anda. Saya sangat terkejut Anda masih membalasi surat mengingat tempatnya seperti sudah tutup sejak lama. Siapa sangka Anda masih membalas surat saya. Dan sepertinya bukan saya saja yang berkonsultasi. Waktu itu saya bertemu seorang wanita di dekat warkop ketika sedang mengambil surat balasan Anda. Saya pikir dia seorang yang seperti saya. Jika bukan pasti dia kerabat Anda, yang Anda suruh untuk mengambil surat-surat konsultasi. Oh ya, saya sangat minta maaf baru sempat membalas suratnya sekarang.

Saran Anda sangat membantu saya. Saya yang awalnya ragu dan merasa sendiri, akhirnya mempunyai kekuatan untuk pergi dari rumah dan kembali bertemu dengan teman-teman saya. Untuk pergi ternyata saya masih mempunyai cadangan uang. Sekarang saya sudah kembali mengikuti demo, meski beberapa dari mereka ada yang masih terlihat jengkel. Tapi beberapa yang lain bersikap ramah setelah saya meminta maaf, dan menjelaskan semuanya. Sekali lagi terima kasih banyak, berkat Anda saya merasa lebih baik, meski saya masih kesulitan menerima kenyataan mengenai kekasih dan adik saya.

Belum bisa memproses rasa kehilangan tersebut, kemarin sore teman saya meninggal ketika demo. Segala sesuatunya semakin kacau, namun anehnya saya masih kuat menghadapi segalanya. Soal kaca yang pecah saya sangat menyukai kata-kata Anda. Anda benar, mereka bisa di daur ulang menjadi sebuah kelereng. Terima kasih sudah menghibur saya.

Mengenai film azab, saya belum pernah melihatnya yang seperti itu. Mungkin karena akhir-akhir ini saya kuper dan jarang nonton film. Omong-omong Anda pasti orang yang maju, terlihat dari surat balasan yang saya terima merupakan hasil ketikan komputer.

Oh ya satu lagi, saya sungguh tidak mengerti apa itu dugem. Jika tidak keberatan, bisakah Anda menjelaskan ini kepada saya? Saya akan sangat berterimakasih.

Kemuning

"Syukurlah kalau Kemuning baik-baik saja," ujar Wirawan setelah membaca suratnya.

Wirawan mengernyitkan dahi. "Mengenai temannya yang meninggal saat demo, dia pasti mahasiswa Trisakti. Siapa lagi yang meninggal saat demo, kan?"

"Sepertinya dia tinggal di sekitar Jakarta," tambah Aron.

"Itu jelas," Wirawan menggaruk rambutnya yang gatal karena belum keramas. "Aku yakin yang dia maksud soal wanita itu pasti sepupumu Ron."

"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang mengirim surat selain mereka berdua?" Aron mendengus. "Soal dugem kenapa dia malah repot-repot menanyakan itu?"

"Hei," seru Wirawan sambil memandang kaleng Kerupuk, "kupikir ada surat yang muncul." Dia mengambil surat itu, dan menunjukkannya kepada kedua temannya.

"Sebaiknya kita balas dulu surat dari Kemuning."

Untuk Kemuning

Saya sudah membaca surat balasan Anda, saya bersyukur Anda baik-baik saja. Tak perlu cepat-cepat memproses rasa kehilangan pada diri Anda, siapa pun pasti membutuhkan waktu yang tidak singkat. Malah bisa jadi seumur hidup luka itu akan tetap ada. Tapi tak jadi soal, kehidupan memang seperti itu. Maksud saya sama seperti kebahagiaan, rasa kehilangan adalah bagian dari hidup. Kita memang tak bisa menghilangkannya. Lain kasus jika itu kotoran unta, kita bisa menghilangkannya menggunakan detergen! Tentu saja.

Omong-omong meski luka akibat rasa kehilangan tak akan hilang, Anda akan tetap bisa bahagia dengan momen-momen baru yang perlahan Anda ciptakan. Seiring berjalannya waktu, momen-momen baru itu akan mendominasi ruang luka lama dari rasa kehilangan Anda itu.

Jadi tak perlu khawatir, lagi pula momen baru akan segera muncul di hidup Anda, misalnya; tak lama lagi pengorbanan Anda bakal membuahkan hasil. Percayalah, tak sampai sebulan masa reformasi akan datang, meski Anda harus melalui kekacauan yang begitu besar. Saya yakin, Anda pasti bisa melaluinya seperti sebelum-sebelumnya.

Mengenai teman Anda, saya benar-benar turut berduka. Di masa depan pengorbanan teman Anda itu pasti akan terus dikenang.

Lihat selengkapnya