Kaleng Kerupuk Cap Garis Waktu 1998

Jalvanica
Chapter #15

Lintas Waktu

Kami pergi menuju rumah mamaku menggunakan motor kakek Arnav yang belum dikembalikan, tanggung katanya. Di ufuk matahari mulai tergelincir, meninggalkan cahaya temaram yang lembut. Jingga dan magenta, membias di langit kelabu. Kontras dengan kekacauan di kota; asap membumbung dari beberapa bangunan dan mobil yang dibakar. Kaca-kaca pada toko pecah. Pentungan, tongkat, koran, berserakan di jalanan. Becek, gelap, nyaris seperti kota mati kecuali fakta masih banyak orang yang berkeliaran, dan kendaraan yang berlalu lalang. Di atas gagak milik Arnav terbang, mengikuti kami, membingkainya sebagai kota mati sungguhan yang suram.

Aku berjengit begitu tubuh kami terguncang beberapa kali. Jalanan berkelok, berlubang, dan licin karena sempat hujan.

"Pegangan, ok?" Suara Arnav berkelindan dengan suara angin. "Ayesha?"

Aku mengerjap, dan berhenti mengkhawatirkan mamaku. Tidak ada yang perlu dicemaskan, kami akan sampai tepat waktu. Kejadiannya pada pukul 20.00, dan sekarang baru pukul 18.30.

"Ya, tentu." Aku mencengkeram baju di bagian pinggang Arnav. Sikapnya yang manis dan peduli seperti ini, membuatku ingat kenapa dulu aku pernah menyukainya, mendambakannya. Sekarang aku tergoda menyenderkan kepalaku yang terasa pening, berat, dan kelelahan di punggungnya. Membiarkan tubuhku untuk rapuh sementara waktu. Namun aku tak melakukannya.

"Ayesha."

"Ya."

Sekilas dia menatapku lewat kaca spion, seolah-olah dia sedang menimbang apakah suasananya sudah cukup tenang. Kemudian dia berucap, "Kupikir papamu melarikan diri."

Seharusnya aku sudah menduganya, tapi responku berkata lain. "Kau yakin? Bagaimana bisa papa kabur di bawah pengawasan nenek— ya ampun, kalian tadi sempat pergi!"

"Dia kabur menggunakan motornya. Tidak masalah, lagi pula dia sudah pulih dari demamnya. Paling-paling tinggal luka ringan yang belum kering. Jangan kuatir Sha, papamu bakal baik-baik saja."

Aku mengangguk, ingin mempercayai kata-katanya. "Kuharap begitu."

Perjalanan kami sempat terhambat karena orang-orang yang sedang menjarah di sebuah toko. Dan begitu sampai di rumah mamaku, tubuhku melemas begitu mendapati tokonya sudah porak poranda. Rumah itu begitu bercahaya, hampir semua lampu pada ruangannya menyala. Rumah yang tadinya terlihat hangat, sekarang terlihat suram dan mengancam.

Kubiarkan Arnav memimpinku, dia menyuruhku untuk tidak ikut melongok ke tokonya. Aku sempat menurut, tapi begitu dia terdiam lama di sana, aku tak kuasa untuk mendekatinya.

Ya Tuhan jangan itu, jangan itu. "Apakah semua baik-baik saja?" suaraku bergetar, nyaris menyerupai gumaman. Pertanyaan yang paling bodoh.

"Tidak," adalah jawaban Arnav. Sorot matanya yang panik menatapku, seolah mengatakan berhenti-di-sana-atau-kau-menyesal. Namun aku tak peduli. Aku mendekatinya, dan langkahku menjadi goyah. Aku nyaris mual begitu melihat mayat kakek dan bibiku tergenang darah. Aku memundurkan langkah, agak gontai, dan Arnav di sampingku meraih lenganku.

Kemudian aku teringat mamaku. "Mamaku, di mana mamaku?" mataku bergerak-gerak gelisah. Papa pasti sudah mengamankannya, sudah mengajaknya pergi. Itu pasti, itu pasti! Namun, begitu mendapati motornya terparkir di sudut rumah, aku tahu, mereka mungkin masih di dalam, dan. Dan? Aku tidak sanggup meneruskan memikirkan kemungkinan terburuknya. Aku malah menatap Arnav, menginginkan sebuah jawaban yang pasti. Kumohon katakan sesuatu, katakan mereka baik-baik saja.

Arnav terlihat ingin mengatakan sesuatu, dan suara bedebam dari dalam rumah membuat kami berjengit lalu bergegas masuk. Pintunya sudah terbuka lebar-lebar, berantakan, dan ternodai. Di ambang pintu aku berusaha menguatkan diriku sendiri. Terdengar derap langkah kocar kacir di lantai dua. Keras dan cepat. Kemudian suara bunyi pintu terbuka, disusul suara makian. Suara itu besar dan berat, sementara yang lainnya agak melengking dan cempreng.

Begitu aku melangkah masuk, Arnav menghentikanku. "Tunggu sebentar, jangan buru-buru. Sebaiknya kau tetap di sini, aku akan pergi memastikannya terlebih dulu—"

"Siapa peduli Ar!" suaraku lebih ketus daripada yang kuinginkan. Aku berlari melewati ruang keluarga lalu menaiki tangga, tak mendengarkan sarannya. Dan Arnav di belakang mengejarku sambil mengumpat, "Sial!"

Di lantai atas langkahku kubuat sangat pelan begitu mendengar suara seseorang. Suara isak tangis bercampur permohonan. Suara itu terdengar dari salah satu ruangan di paling ujung. Sangat familier.

"Tidak. Kumohon— jangan sakiti dia." Suara mamaku, ya Tuhan kuharap Mama baik-baik saja.

Kemudian terdengar sebuah tawa, menggelegar bercampur dengan suara gagak Arnav yang mengeok. Aku mendekat, dan mematung di ambang pintu. Tak yakin harus berbuat apa mengingat situasinya yang tak boleh diganggu, atau nyawa papaku bakal melayang. Setiap papa bergerak, lengannya semakin dipelintir, sementara pisau semakin didekatkan di lehernya. Aku meringis, begitu pisau menyentuh kulitnya.

Lihat selengkapnya