"Ada kalanya kita butuh gagal dulu untuk akhirnya jujur pada diri sendiri."
Aku gagal sidang hari ini.
Bukan karena aku tidak belajar. Bukan karena aku tidak mempersiapkan diri. Aku sudah membaca materi, membolak-balik tiap lembar hingga ujung kertasnya sudah tidak berbentuk. Aku juga sudah berlatih menjawab pertanyaan yang mungkin akan diberikan penguji, di depan cermin kos tiga malam berturut-turut. Tapi di tengah ruang sidang itu, dengan tiga dosen penguji yang menatapku dari balik kacamata dan tumpukkan kertas, aku baru sadar satu hal yang tidak bisa aku siapkan sebelumnya.
Aku tidak pernah benar-benar ingin mengerjakan ini sejak awal.
Tiga tahun, tiga tahun aku duduk di bangku perkuliahan, mengikuti kelas yang tidak pernah membuatku merasa hidup, mengerjakan tugas yang tidak pernah membuatku ingin bangun pagi, merencanakan masa depan yang tidak pernah aku gambar di kepalaku sendiri. Semua itu terasa wajar, seperti seragam sekolah yang dipakai setiap hari bukan karena suka, tapi karena memang itu yang harus dipakai.
Dan yang paling menyesakkan bukan nilainya. Bukan malu yang akan aku rasakan saat menelepon Ibu nanti. Yang paling menyesakkan adalah kenyataan bahwa aku butuh kegagalan ini untuk akhirnya jujur.
"Aku butuh tiga tahun dan satu ruang sidang untuk akhirnya mengakui: ini bukan hidupku."
Aku duduk di lorong kampus dengan map proposal yang ditolak di pangkuan. Orang-orang berlalu di sekitarku, mahasiswa dengan tas laptop, dosen dengan langkah terburu-buru, seorang penjaga kebersihan yang mendorong gerobak dengan wajah yang sama setiap hari. Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang perlu tahu. Di kota sebesar ini, kegagalan satu orang tidak cukup besar untuk membuat bumi berhenti berputar.
Aku meraih ponselku. Nama Ibu sudah muncul di layar, belum kutelepon, tapi sepertinya ia sudah tahu. Ibu selalu tahu. Aku mematikan layarnya dan memasukkan ponsel ke dalam tas.
Belum. Aku belum siap untuk suara itu. Suara yang akan bertanya "kenapa" dan mendengar jawabanku hanya sampai setengah sebelum langsung menawarkan solusi. Suara yang tidak pernah tahu cara diam.
Aku memutuskan untuk tidak langsung pulang ke kos. Kaki ini membawaku berjalan tanpa tujuan yang jelas, melewati kantin yang mulai ramai di jam makan siang, melewati papan pengumuman yang penug dengan flayer seminar dan lowongan magang, melewati dua orang mahasiswa yang tertawa keras tentang sesuatu yang tidak aku mengerti. Semua orang terlihat baik-baik saja. Semua orang terlihat seperti mereka tahu sedang menuju ke mana.
Aku belok ke arah Perpustakaan Cikini.