KALI INI AKU

ericawidiani
Chapter #3

TANPA PETA

"Membandingkan hidupmu dengan orang lain bukan tanda kelemahan. Tapi tanda bahwa ada sesuatu dalam dirimu yang belum selesai"

———

Dita sudah punya gambaran akan bekerja di mana sebelum semester tujuh.

Dia sendiri yang selalu bilang begitu, sambil tertawa kecil dengan cara yang membuatnya terlihat merendah tapi sebenarnya tidak. Dita tahu dengan baik apa yang dia mau dan cara mendapatkannya. Saat ia menyelesaikan magang di perusahaan konsultan semeser lalu, ia sudah mendapatkan tawaran di sana dan langsung ia iyakan.

Aku duduk di seberangnya di kantin kampus, mendengarkan dia bercerita mengenai proyek magang yang akan segera dimulai lagi, dan mencoba mengenali rasa yang tepat untuk perasaanku sekarang.

Bukan iri. Aku meyakini itu. Karena hidupku sendiri pun sebenarnya juga berjalan dengan cukup baik.

Lebih kepada heran. Keheranan yang tidak bisa diungkapkan secara gamblang karena akan terdengar seperti keluhan. Kenapa hal yang terlihat mudah bagi Dita terasa seperti medan yang belum pernah aku pijak? Kenapa dia bisa melakukan segala kegiatan itu dengan terlihat senang, sementara aku — tetap merasakan sesuatu yang ganjil, seberusaha apa pun kucoba menikmati semua hal yang kumiliki.

"Sen, kamu baik-baik aja?" DIta memiringkan kepalanya. "Dari tadi kamu nggak ngomong apa-apa."

"Ya. Aku nggak papa." Kuambil gelas minumanku dengan gelisah. "Cuma ngantuk sedikit."

Dita terlihat sepenuhnya percaya. Dan itu adalah salah satu hal yang aku suka darinya, dia tahu kapan harus berhenti bertanya. Berbeda dengan Ibu, yang bahkan dalam diam pun terasa seperti sedaang menunggu jawaban.

Di meja sebelah, dua orang mahasiswa laki-laki tertawa soal sesuatu di layar laptop mereka. Di antrian kasir, seorang perempuan dengan jas almamater memperkenalkan dirinya ke seseorang seperti baru pertama kali bertemu. Di pojok kantin, seorang mahasiswa tidur dengan kepala di atas lengannya, tas ransel di bawah kursi, wajahnya terlihat sangat lelap.

Semua orang terlihat normal dan baik-baik saja.

Atau mungkin mereka hanya lebih baik dalam berpura-pura.

———

Sore itu Dita mengajakku ke warung seblak di dekat gerbang kampus yang katanya baru buka dan sudah masuk rekomendasi di beberapa akun kuliner. Aku tidak terlalu lapar, tapi juga tidak punya cukup alasan untuk menolak. Karena passti Dita akan memakasa untuk aku ikut dengannya.

Lihat selengkapnya