KALI INI AKU

ericawidiani
Chapter #4

PERCAKAPAN PERTAMA YANG TIDAK DIRENCANAKAN

Aroma buku tua bercampur pengap pendingin udara yang berembus tipis selalu punya cara sendiri untuk menenangkan isi kepalaku. Tapi sore ini, keheningan Perpustakaan Cikini justru terasa seperti peredam suara yang dipasang paksa di telinga. Di dalam kepalaku sendiri, segalanya masih bising. Kalimat-kalimat Ibu di telepon kemarin malam—soal dosen pembimbing pengganti yang ia carikan dan langsung aku iyakan tanpa bantahan—masih berputar-putar tanpa permisi. Urusan proposal skripsiku memang selesai, jalanku sudah dibuat mulus lagi oleh tangan Ibu, tapi itu justru membuatku merasa sangat kecil.

Aku menatap layar laptopku yang meredup. Kursor berkedip-kedip di atas halaman putih yang kosong. Aku sudah duduk di meja pojok lantai dua dekat jendela besar itu selama hampir dua jam, membiarkan jemariku diam di atas papan ketik tanpa menekan satu tombol pun. Dokumen skripsiku terbuka dengan dospem baru yang tercantum di sana, tapi tidak ada satu kata baru pun yang bertambah.

Di seberang meja, laki-laki itu masih ada di sana. Seperti hari-hari sebelumnya, dia seolah punya dunianya sendiri yang kedap udara. Lembar-lembar sketsa penuh garis rapi berserakan di sebelah laptopnya, dan sebuah buku tebal bersampul lusuh dengan judul bahasa Inggris tergeletak dekat jangkauannya. Kehadirannya yang konstan selama beberapa hari terakhir—termasuk sticky note kuning bertuliskan "Besok juga?" yang kini tersimpan rapi di saku jaketku—anehnya menjadi satu-satunya hal yang terasa aneh dalam hidupku yang sedang limbung. Tidak ada tuntutan, tidak ada pertanyaan, tidak ada ekspektasi. Hanya dua orang asing yang berbagi permukaan kayu yang sama.

Aku mengembuskan napas panjang, sebuah kekalahan kecil yang lolos begitu saja dari bibirku. Aku berniat menutup laptop dan menyudahi sore yang melelahkan ini, sampai sebuah suara rendah memecah kesunyian di antara kami.

"Kenapa?"

Aku tersentak kecil. Aku mendongak dan menemukan laki-laki di seberangku sudah menghentikan kegiatannya. Dia tidak bersandar santai atau tersenyum. Dia hanya menatapku dengan sepasang mata yang tenang, datar, namun entah bagaimana terasa sangat menyelidik.

"Eh?" Aku mengerjap, mendadak gagap karena keheningan di antara kami selama beberapa hari ini mendadak pecah.

Laki-laki itu memandangi laptopku, lalu beralih ke mataku. "Kenapa setiap datang ke sini, kamu selalu kelihatan kayak orang baru kalah perang?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Pendek, dingin, tanpa basa-basi atau nada kasihan. Tapi bagiku yang sejak kemarin sudah kebas oleh kepura-puraan di depan Ibu, berpura-pura bersyukur karena masalah dosen pembimbingku sudah diselesaikan oleh koneksinya, pertanyaan yang terlampau jujur itu justru menghantamku tepat di dada. Pertahanan yang kubangun rapat-rapat mendadak retak.

Aku menurunkan layar laptopku setengah, menyembunyikan dokumen kosongku. "Kelihatan banget, ya?"

Dia hanya mengangguk pelan sekali. Tatapannya tidak beralih. "Bahumu turun. Kamu ngetik kayak orang lagi mukul samsak, tapi matamu kosong. Dan kamu belum minum air di botolmu sama sekali sejak duduk."

Aku menatap botol minumku yang masih penuh, lalu beralih menatap wajah di hadapanku. Laki-laki ini tidak kelihatan ingin tahu urusanku, dia hanya mengutarakan apa yang dia lihat. Tapi ada rasa hangat yang aneh ketika menyadari bahwa dalam beberapa hari ini, di saat semua orang di sekitarku menganggap masalahku sudah selesai karena jalur pintas dari Ibu, ada seorang asing yang sedingin ini justru menyadari kalau aku sama sekali tidak baik-baik saja.

Lihat selengkapnya