KALI INI AKU

ericawidiani
Chapter #5

SEMESTER BERAPA KAMU?

Perpustakaan Cikini di hari Jumat siang terasa dua kali lebih sunyi. Barisan rak buku tinggi yang memijat langit-langit kayu seolah menyerap seluruh kebisingan kota di luar sana. Di meja pojok lantai dua, aku kembali duduk di tempat yang sama. Laptopku terbuka, menampilkan draf bab satu yang pelan-pelan mulai kuisi, kali ini dengan arahan dosen pembimbing baru pilihan Ibu.

Di seberangku, kursi itu masih kosong. Hanya ada sebuah buku tebal tentang tipografi kuno yang ditinggalkan sebagai penanda bahwa si pemiliknya akan kembali.

Aku menatap buku itu, lalu tanpa sadar jemariku bergerak menyentuh permukaan saku jaket. Dua sticky note kuning sekarang menetap di sana. Yang pertama bertuliskan "Besok juga?", dan yang kedua, yang dia tempel di sudut meja pagi tadi sebelum pamit ke toilet, hanya berupa coretan jam: "13.00". Laki-laki itu tidak banyak bicara, tapi caranya membuat janji temu secara tidak langsung selalu berhasil membuatku datang tepat waktu.

Tepat sepuluh menit setelah jam satu, suara langkah kaki yang teratur terdengar mendekat. Aku tidak mendongak, pura-pura larut dalam ketikan draf skripsiku, sampai aroma tipis kopi hitam dari vending machine menguar di dekatku. Sebuah cup kertas diletakkan di sisi kanan mejaku, berdampingan dengan botol minumku yang masih penuh.

"Biar gak kosong," suara rendahnya terdengar datar.

Aku mendongak, agak terkejut. "Makasih."

Laki-laki itu hanya mengangguk kecil, lalu menarik kursinya tanpa menimbulkan suara derit yang mengganggu. Dia meletakkan tas ranselnya yang usang di lantai, mengeluarkan laptop, dan langsung tenggelam dalam dunianya sendiri. Tangannya mulai lincah menggeser kursor, menata tata letak desain visual yang rumit di layarnya.

Keheningan kembali mengambil alih meja kami selama hampir satu jam. Tapi keheningan kali ini tidak lagi terasa canggung. Ada kenyamanan aneh yang terbangun dari ritme ketikanku dan geseran jemarinya di atas trackpad.

Rasa penasaran yang kupendam sejak kemarin akhirnya membuatku menurunkan layar laptop sedikit. Aku memandangi tumpukan berkas di dekat laptopnya. Di sana, sebuah kartu identitas mahasiswa tergeletak pasrah dengan foto wajahnya yang tampak tanpa ekspresi.

Kaleo Wira.

Lihat selengkapnya