Jakarta setelah jam sebelas malam biasanya menyisakan sisa-sisa panas yang lengket, tapi di dalam kamarku, hawa dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk hingga ke tulang. Aku duduk bersandar pada kepala kasur, menatap langit-langit kamar yang temaram.
Di atas meja belajar, selembar kertas sketsa berukuran A5 tergeletak di bawah lampu yang meredup. Kertas itu ditinggalkan Kaleo di atas meja perpustakaan sore tadi, tepat sebelum kami beres-beres untuk pulang. Dia tidak mengatakan apa-apa saat menyelipkannya di antara buku-buku milikku, hanya sebuah sketsa kasat mata tentang sudut jendela lantai dua tempat kami biasa duduk. Garis-garis pensilnya tegas namun tenang, tanpa tulisan, tanpa pesan apa pun. Namun, hanya dengan memandangi goresan fisik itu, dadaku yang seharian ini sesak entah mengapa bisa sedikit melonggar.
Kehadiran Kaleo yang hening di seberang meja belakangan ini perlahan-lahan menjadi semacam jeda yang paling kunantikan di tengah riuhnya urusan kuliah. Bersamanya, aku tidak perlu menjadi Sena yang serbabisa atau Sena yang penurut. Aku hanya perlu menjadi aku.
Getaran panjang di atas kasur memecah keheningan malam. Sentakan itu membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Aku menatap layar yang berkedip.
Ibu calling...
Aku menarik napas dalam-dalam, menahan udara di paru-paruku selama beberapa detik sebelum menggeser tombol hijau ke kanan. Aku berdeham pendek, memastikan suaraku tidak terdengar seperti orang yang baru terjaga atau sedang melamun.
"Halo, Ibu."
"Sena, kamu belum tidur, kan?" Suara Ibu langsung terdengar di seberang sana. Tegas, jernih, dan penuh dengan penekanan yang selalu membuatku otomatis menegakkan punggung. Di latar belakang telepon, suasana rumah terdengar sangat sunyi—pasti Ibu sedang duduk sendirian di ruang tengah, sementara Ayah belum pulang kerja atau mungkin sudah mengurung diri di ruang kerja. "Gimana dospem barumu? Sudah ketemu minggu ini?"