KALI INI AKU

ericawidiani
Chapter #7

SISI YANG TAK TERLIHAT

Pagi hari, area kampus selalu terlihat sibuk. Mahasiswa yang berjalan terburu-buru mengejar kelas jam delapan, deru mesin motor yang bersahutan di parkiran, hingga aroma kopi dari kantin terdekat yang bercampur dengan udara pagi yang masih agak sejuk.

Aku berjalan menyusuri selasar menuju gedung perpustakaan dengan langkah lambat. Kantung mataku pasti terlihat jelas akibat kurang tidur semalam. Di dalam tas, berkas-berkas yang diminta Ibu sudah tersusun rapi di dalam map plastik bening, peta masa depanku yang sudah selesai digambar oleh orang lain.

Langkahku terhenti tepat di depan pintu kaca perpustakaan. Aku mengembuskan napas panjang, mencoba mengusir sisa sesak yang masih tertinggal di dada sejak telepon tengah malam itu. Begitu mendorong pintu, hawa dingin pendingin ruangan langsung menyambut, membawa keheningan familier yang biasanya menenangkan.

Mataku otomatis melayang ke sudut jendela lantai dua.

Dia sudah di sana.

Kaleo duduk dengan posisi tubuh yang sedikit condong ke meja, jemarinya memegang pensil mekanik, bergerak lincah di atas buku sketsa tebalnya. Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah jendela kaca besar di sampingnya membuat siluet tubuh cowok itu terlihat lebih lembut dari biasanya. Dari jauh, dia tampak seperti bagian dari pameran seni yang sengaja diletakkan di sudut ruangan, tenang, tak tersentuh, dan berjarak.

Aku melangkah mendekat, lalu menarik kursi di seberangnya dengan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan bunyi decitan yang mengganggu.

Kaleo tidak mendongak, tapi gerakan pensilnya berhenti. "Tidur jam berapa semalam?" tanyanya datar, pandangannya masih tertuju pada kertas.

Aku agak terkejut. "Kelihatan banget, ya?"

Kaleo akhirnya mengangkat wajah. Sepasang mata elangnya menatapku lurus, menilai kekusutan yang mungkin tercetak jelas di wajahku. Dia tidak menjawab pertanyaanku, melainkan menutup buku sketsanya dengan gerakan pelan, lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi.

"Sketsanya..." aku membuka suara, menurunkan tas ranselku ke lantai. "Makasih. Bagus banget."

"Gak usah dipikirin. Cuma coretan biasa," sahutnya cuek. Dia meraih botol air mineral di dekatnya, memutar tutupnya, lalu meminumnya sedikit.

Lihat selengkapnya