Deru mesin bus antarkota yang kunaiki sejak pagi tadi perlahan melambat, berganti dengan guncangan konstan saat rodanya mulai meraba aspal jalanan provinsi. Di luar jendela, pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta telah sepenuhnya digantikan oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas.
Aku pulang.
Bukan karena aku merindukan rumah, melainkan karena perintah Ibu di telepon tiga hari lalu tidak menyisakan ruang bagiku untuk menghindar. “Sena, berkas pendaftaran yang kemarin Ibu titipkan di kosanmu itu sudah lolos screening awal Tante Lastri. Tapi minggu depan tim HRD Kuningan minta verifikasi dokumen akademik asli. Transkrip nilai legalisir dari semester satu dan sertifikat TOEFL-mu kan masih tertinggal di lemari kamar rumah. Pulanglah akhir pekan ini untuk ambil, sekalian temani Ibu.”
Maka di sinilah aku sekarang. Berdiri di depan pagar besi rumah masa kecilku, meninjau kembali bangunan satu lantai bercat krem netral yang selalu tampak rapi tanpa cela. Tanaman hias Ibu tersusun simetris di teras. Segalanya tampak teratur, tenang, dan terkendali. Persis seperti bagaimana Ibu menginginkan hidupku berjalan.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu pagar.
"Sena? Sudah sampai ternyata."
Suara Ibu menyambutku bahkan sebelum aku sempat mengetuk pintu utama. Beliau muncul dari arah dapur, mengenakan daster rumahan yang rapi dengan rambut yang disanggul anggun. Tidak ada pelukan. Ibu hanya menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu kelihatan agak kurusan, Sena. Pasti di Jakarta sering telat makan," komentar Ibu langsung, nadanya datar namun sarat akan penilaian. Beliau berbalik arah, berjalan kembali menuju meja makan. "Ya sudah, taruh tasmu di kamar. Habis ini kita makan malam. Ayahmu juga sebentar lagi pulang."
"Iya, Bu."
Aku melangkah menuju kamarku yang terletak di bagian belakang. Begitu pintu kubuka, aroma pengharum ruangan varian apel yang kuat langsung menyengat. Kamar ini masih persis sama. Kasur yang rapi dan meja belajar yang bersih. Namun, berada di dalam ruangan ini justru membuatku merasa asing. Ini adalah kamar tempatku menghabiskan belasan tahun mematuhi setiap diktat Ibu.
Aku meletakkan tas ranselku di atas lantai, lalu duduk di tepi kasur. Pikiranku mendadak melayang kembali ke lantai dua Perpustakaan Cikini. Ke meja pojok dekat jendela besar tempat aku bisa mendengar detak jarum jam dinding dan gesekan halus pensil mekanik milik Kaleo.