kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #1

bab 1 Bahkan Semesta Menolak Pernikahan itu


Dua puluh tahun Laras mendampingi Arya, mengorbankan impian dan tenaganya demi kesuksesan sang suami. Namun, ketika Arya akhirnya berdiri di puncak kejayaan, Laras justru menjadi perempuan yang paling mudah ia khianati.


Sebuah kecelakaan mengubah segalanya. Saat terbangun di rumah sakit, Laras mendapatkan kesempatan yang tak pernah ia bayangkan: kembali ke masa ketika ia belum menikahi Arya.


Dan ibunya mengatakan sesuatu yang membuat Laras bertanya-tanya, apakah kesempatan kedua ini benar-benar sebuah kebetulan.


---


Hujan turun deras malam itu.


Laras berdiri di ambang pintu rumahnya, memandangi dua koper yang tergeletak di dekat sofa. Rumah yang selama dua puluh tahun ia rawat dengan tangannya sendiri kini terasa seperti tempat asing.


Di ruang tengah, Arya duduk santai dengan kemeja mahal dan jam tangan yang harganya mungkin setara dengan tabungan Laras selama bertahun-tahun.


Di sampingnya duduk seorang perempuan muda.


Cantik. Berpakaian elegan. Dan terlalu nyaman untuk seseorang yang baru pertama kali datang ke rumah orang lain.


Perempuan itu bahkan mengenakan sandal rumah milik Laras.


“Siapa dia, Arya?”


Laras sebenarnya sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin mendengar sendiri bagaimana suaminya menjelaskan kehancuran dua puluh tahun pernikahan mereka.


Arya meliriknya sekilas. Tidak ada rasa bersalah di wajah itu. Tidak ada kecemasan, apalagi penyesalan.


“Namanya Selina.”


“Aku tidak bertanya siapa namanya.” Suara Laras bergetar. “Aku bertanya siapa dia bagimu.”


Arya menghela napas seolah-olah Laras baru saja mengganggunya di tengah rapat penting.


“Dia perempuan yang kucintai.”


Empat kata.


Hanya empat kata untuk menghancurkan dua puluh tahun hidupnya.


Laras mencengkeram tali tas di tangannya.


“Lalu aku?”


“Kamu istriku.”


“Istrimu?” Laras tertawa kecil, getir. “Apa kamu masih ingat siapa yang membantumu membangun perusahaan itu ketika kamu bahkan belum mampu membayar sewa kantor? Siapa yang menjual perhiasannya untuk membantumu membayar utang? Siapa yang bekerja sampai larut malam supaya kamu bisa mengejar mimpimu?”


Arya terdiam sesaat.


Namun, hanya sesaat.


“Aku tidak pernah memintamu melakukan semua itu.”


Kalimat itu membuat Laras merasa seluruh udara di paru-parunya direnggut paksa.


Benar. Arya memang tidak pernah memintanya secara langsung. Laras melakukan semuanya karena cinta, karena percaya bahwa suatu hari mereka akan menikmati hasil perjuangan bersama.


Ia tidak pernah membayangkan bahwa ketika Arya akhirnya sukses, lelaki itu justru menganggap pengorbanannya tidak pernah berarti.


Selina menyentuh lengan Arya dengan manja.


“Arya, kita jadi makan malam di luar, kan?”


Laras menoleh kepadanya. Perempuan itu bahkan tidak tampak malu berada di hadapan istri sah lelaki yang sedang dipeluknya.


Arya berdiri, merapikan kemejanya.


“Untuk sementara, kamu tinggal di tempat lain dulu, Laras. Selina akan sering berada di sini.”


Laras menatap suaminya tanpa berkedip.


“Kamu mengusirku dari rumahku sendiri?”


“Jangan membuat semuanya menjadi rumit.”


Laras ingin berteriak. Ia ingin melempar semua barang mahal yang dibeli Arya dengan uang yang sebagian besar ia bantu kumpulkan. Ia ingin bertanya sejak kapan cinta berubah menjadi penghinaan semacam ini.


Namun, yang keluar dari bibirnya hanya satu pertanyaan.


“Sejak kapan?”


Arya tidak menjawab.


Lihat selengkapnya