Arya mengira Laras hanya panik menjelang pernikahan. Ia datang dengan keyakinan bahwa perempuan yang mencintainya selama ini akan kembali luluh setelah dibujuk.
Namun, Laras bukan lagi perempuan yang sama.
Ia tahu seperti apa akhir dari kisah cinta mereka. Karena itu, sebelum memutuskan apakah pernikahan tersebut masih layak dipertahankan, Laras mengajukan empat syarat yang tidak bisa ditawar.
Arya harus memilih: menerima Laras dengan segala batasannya, atau kehilangan perempuan yang selama ini selalu berada di sisinya.
“Jadi, kamu benar-benar ingin membatalkan pernikahan kita?”
Arya berdiri di ruang tamu rumah keluarga Laras. Wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan. Sejak pagi, ia sudah beberapa kali menelepon Laras, tetapi perempuan itu tidak menjawab. Akhirnya, ia datang sendiri untuk meminta penjelasan.
Laras duduk di sofa, mengenakan blus sederhana dengan rambut yang diikat rapi. Tidak ada air mata, tidak ada wajah memelas, apalagi sikap seorang perempuan yang takut kehilangan calon suaminya.
Ia menatap Arya dengan tenang.
“Arya, kita tidak berjodoh.”
Rahang Arya mengeras.
“Jangan bicara sembarangan. Pernikahan kita besok. Semua orang sudah tahu. Kamu pikir membatalkannya semudah membatalkan janji makan malam?”
“Bagiku, lebih baik membatalkan pernikahan daripada menghabiskan puluhan tahun bersama orang yang salah.”
Arya terdiam.
Laras hampir tersenyum mendengar kata-katanya sendiri. Seandainya Arya tahu bahwa ia sedang berbicara berdasarkan pengalaman dua puluh tahun yang telah ia jalani, mungkin lelaki itu akan menganggapnya gila.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Laras?”
Laras menyilangkan kedua tangannya.
“Aku punya empat syarat.”
Arya mengernyit.
“Empat syarat?”
“Kalau kamu tidak bisa menerimanya, pernikahan ini selesai sebelum dimulai.”
Laras bangkit, mengambil selembar kertas dari meja, lalu meletakkannya di hadapan Arya.
“Pertama, rumah yang akan kita tempati adalah milikku. Aku membelinya dengan uangku sendiri, jadi rumah itu harus atas namaku. Begitu juga barang-barang yang kubeli untuk mengisi rumah tersebut. Aku tidak mau suatu hari nanti ada orang yang menganggap semua itu otomatis menjadi miliknya hanya karena kita menikah.”
Arya memandangnya dengan dahi berkerut.
“Kenapa kamu bicara seolah-olah kita akan bercerai?”
“Karena aku tidak mau menikah dengan pikiran bahwa cinta saja cukup untuk melindungi masa depanku.”
Laras tidak memberinya kesempatan untuk menyela.
“Kedua, aku tidak akan berkewajiban memberikan harta atau uang pribadiku kepadamu. Apa yang menjadi milikku tetap menjadi milikku. Aku tidak akan menyerahkan tabunganku, penghasilanku, atau aset yang kubeli sendiri hanya karena kamu suamiku.”
Arya tertawa pendek, tetapi tawanya terdengar kaku.
“Jadi, sekarang kamu menganggapku lelaki yang akan mengambil hartamu?”