Pernikahan yang seharusnya berlangsung esok hari akhirnya ditunda. Arya membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan syarat-syarat Laras, sementara Laras memilih berhenti menunggu jawaban lelaki itu.
Sepulang bekerja, ia mendaftarkan diri ke kelas yoga. Untuk pertama kalinya, Laras mulai mengisi waktunya dengan sesuatu yang benar-benar ia inginkan.
Namun, ketika Arya menyadari bahwa Laras tidak lagi mengejarnya, lelaki itu justru mulai bertanya-tanya: apakah perempuan yang selama ini mencintainya sudah berubah menjadi seseorang yang tidak bisa lagi ia kendalikan?
Dua hari setelah percakapan mereka, Arya akhirnya datang ke rumah Laras.
Kali ini, ia datang sendirian. Tidak ada bunga, tidak ada senyum penuh percaya diri seperti biasanya. Wajahnya terlihat serius ketika duduk berhadapan dengan Laras dan ibunya.
“Aku sudah bicara dengan keluargaku,” katanya.
Laras meletakkan cangkir teh di atas meja.
“Lalu?”
“Aku rasa kita perlu menunda pernikahan.”
Ibunya melirik Laras, tetapi tidak menyela.
Arya melanjutkan, “Aku belum bisa menerima semua syaratmu begitu saja. Kita perlu waktu untuk membicarakannya. Aku juga tidak mau kita menikah dalam keadaan seperti ini.”
Laras mengangguk pelan.
“Baik.”
Arya tampak terkejut. “Cuma itu?”
“Kamu ingin aku mengatakan apa?”
“Aku kira kamu akan marah.”
“Untuk apa aku marah? Kamu meminta waktu, dan aku menghormati keputusanmu.”
Arya mengamati wajah Laras, seolah-olah mencari tanda-tanda kekecewaan. Dahulu, jika ia meminta sedikit waktu saja, Laras akan langsung khawatir. Ia akan menelepon berkali-kali, bertanya apakah Arya masih mencintainya, dan berusaha memastikan hubungan mereka baik-baik saja.
Namun, perempuan di hadapannya sekarang tidak melakukan semua itu.
“Laras, aku serius dengan hubungan kita,” katanya.
“Aku dengar.”
“Aku hanya tidak menyangka kamu akan berubah seperti ini.”
Laras tersenyum tipis.
“Mungkin karena selama ini kamu mengenal perempuan yang selalu berusaha menyenangkanmu. Sekarang aku ingin belajar menyenangkan diriku sendiri.”
Tidak ada jawaban dari Arya.
Pada akhirnya, ia pulang dengan keputusan yang sederhana: pernikahan mereka ditunda sampai mereka menemukan kesepakatan.
Setelah pintu tertutup, ibu Laras duduk di samping putrinya.
“Kamu tidak sedih?”
Laras menatap cangkir tehnya.
“Kalau Ibu bertanya apakah aku masih punya perasaan kepadanya, jawabannya mungkin iya. Dua puluh tahun tidak bisa hilang hanya dalam beberapa hari.”