kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #6

Rumah yang Menjadi Milikku



Sementara Arya masih sibuk menentukan apa yang sebenarnya ia inginkan, Laras justru menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya: dirinya sendiri.


Yoga yang awalnya hanya menjadi pelarian dari persoalan cinta perlahan berubah menjadi kecintaan baru. Laras mengikuti pelatihan instruktur dan mulai membayangkan masa depan yang tidak lagi bergantung pada pernikahan.


Dengan rumah miliknya sendiri dan pekerjaan yang tetap ia pertahankan, Laras membuktikan bahwa seorang perempuan tidak harus menunggu seseorang memilihnya untuk mulai membangun kehidupan yang bahagia.


Namun, perubahan Laras mulai menarik perhatian Arya. Dan kali ini, lelaki itu harus menghadapi kenyataan bahwa Laras memiliki dunia sendiri—dunia yang tidak mudah ia masuki sesuka hati.


---


Pagi itu, Laras berdiri di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar putih dan halaman kecil.


Rumah itu bukan rumah mewah. Cat dindingnya berwarna krem, jendelanya lebar, dan ada sebatang pohon mangga di dekat pagar. Di bagian depan, sebuah teras mungil cukup untuk meletakkan dua kursi dan pot-pot tanaman.


Namun, bagi Laras, rumah itu terasa lebih berharga daripada bangunan megah yang pernah ia impikan bersama Arya.


Rumah itu miliknya.


Ia membelinya menggunakan tabungan dan hasil investasinya sendiri, jauh sebelum rencana pernikahannya dengan Arya. Dokumen kepemilikannya tercatat atas namanya, dan ia tidak berniat menyerahkan kendali atas aset tersebut hanya demi membuktikan cinta.


Laras membuka pintu, lalu melangkah masuk.


Ruangan itu masih hampir kosong. Hanya ada sofa kecil, meja, dan beberapa kardus berisi barang-barang yang baru dipindahkan.


Ia berjalan menuju jendela ruang tengah dan membukanya lebar-lebar.


Udara pagi masuk, membawa aroma tanah dan dedaunan.


Laras tersenyum.


“Selamat datang di rumahmu sendiri,” gumamnya.


Kalimat sederhana itu membuat dadanya terasa hangat.


Dalam kehidupan sebelumnya, ia selalu membayangkan rumah sebagai tempat yang harus ia pertahankan bersama suaminya, apa pun yang terjadi. Ia mengira rumah tangga yang berhasil adalah rumah tangga yang tidak pernah ditinggalkan, meskipun dirinya sendiri harus kehilangan kebahagiaan.


Sekarang, ia mulai memahami bahwa rumah juga bisa menjadi tempat seseorang belajar menghargai dirinya sendiri.


---


Kehidupan Laras tidak berubah dalam semalam.


Ia tetap bekerja di perusahaan pada hari kerja. Ia masih menghadapi laporan yang menumpuk, rapat yang melelahkan, dan perjalanan pulang yang terkadang membuatnya ingin segera merebahkan diri.


Namun, tiga kali seminggu, setelah bekerja, ia pergi ke studio yoga.


Awalnya ia hanya ingin menjaga kesehatan dan menenangkan pikirannya. Tetapi semakin lama, ia semakin tertarik mempelajari gerakan, teknik pernapasan, dan cara membantu peserta memahami batas kemampuan tubuh mereka.


Ia mulai membaca buku, mengikuti kelas tambahan, dan bertanya kepada instruktur tentang pelatihan profesional.


Suatu sore, setelah kelas berakhir, instruktur bernama Maya menghampirinya.


“Laras, kamu pernah berpikir untuk mengikuti pelatihan instruktur?”


Laras mengerjap.


“Menjadi guru yoga?”


Maya mengangguk.


“Kamu cukup tekun. Kamu juga sabar ketika membantu peserta lain. Tidak semua orang punya kemampuan itu.”


Laras tertawa kecil.


“Saya masih sering kehilangan keseimbangan.”


“Menjadi instruktur bukan berarti kamu harus sempurna. Kamu harus mau terus belajar dan memahami tanggung jawabnya.”

Lihat selengkapnya