Theo, atasan Arya di perusahaan, tidak pernah tertarik mencampuri urusan pribadi bawahannya. Baginya, kehidupan di luar kantor bukan sesuatu yang perlu ia ketahui.
Namun, sebuah pertemuan di restoran membuatnya mendengar pertengkaran yang tidak sengaja mengungkap sisi lain Arya.
Perempuan bernama Laras itu tidak menangis, tidak memohon, dan tidak berusaha mempertahankan harga dirinya dengan teriakan. Ia hanya menuntut kejujuran dari seorang lelaki yang tampaknya tidak mampu memberikan jawaban sederhana.
Theo tidak mengenal Laras. Ia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, ia melihat Arya dengan cara yang berbeda.
Dan tanpa disadarinya, nama Laras mulai tinggal dalam pikirannya.
“Jadi, kamu masih berhubungan dengan Selina?”
Suara Laras terdengar jelas dari sudut restoran.
Arya mengusap wajahnya dengan kesal. Mereka kembali bertemu setelah beberapa hari menghindari pembicaraan serius tentang pernikahan.
“Aku sudah bilang, Laras. Hubunganku dengan Selina tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Kalau memang tidak seperti yang kupikirkan, kenapa kamu selalu menghindar setiap kali aku bertanya?”
“Aku tidak menghindar.”
“Kamu bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa dia mengirim DM kepadaku dan bertanya apakah aku takut kehilanganmu.”
Arya mengembuskan napas panjang.
“Dia tidak seharusnya melakukan itu. Aku akan bicara dengannya.”
Laras menatap lelaki di hadapannya.
“Bukan itu yang ingin kudengar.”
“Lalu apa?”
“Aku ingin tahu apakah kamu masih ingin menikah denganku karena kamu benar-benar mencintaiku, atau karena kamu tidak ingin kehilangan sesuatu yang sudah kamu miliki.”
Arya terdiam.
Beberapa meja dari tempat mereka duduk, seorang pria baru saja memasuki restoran. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, celana panjang gelap, dan jam tangan sederhana yang tampak elegan.
Theo.
Ia adalah atasan Arya sekaligus salah satu orang yang paling disegani di perusahaan. Malam itu, ia datang untuk makan malam sebelum menghadiri pertemuan dengan klien keesokan harinya.
Theo semula hendak memilih meja di dekat jendela. Namun, ketika mendengar nama Arya disebut, ia menoleh sekilas.
Ia mengenali suara bawahannya.
Theo tidak berniat menguping. Ia hanya menyadari bahwa pembicaraan itu terdengar semakin tegang, sementara meja yang tersedia di dekatnya berada tidak jauh dari mereka.
Ia pun duduk, membuka menu, dan berusaha tidak memperhatikan percakapan tersebut.
Sayangnya, suara Laras kembali terdengar.
“Kalau kamu memang belum yakin, kenapa kamu tidak mengatakan itu sejak awal?”
“Aku sedang mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini.”
“Masalah apa, Arya? Aku meminta kejujuran, bukan meminta kamu menyerahkan seluruh hidupmu kepadaku.”
“Kamu mengubah semuanya menjadi rumit dengan empat syaratmu itu!”
Laras terdiam sejenak.
Theo mengangkat pandangan dari menu.
Nada suara Arya membuatnya mengerutkan dahi. Ia sudah cukup lama bekerja dengan lelaki itu untuk mengetahui bahwa Arya biasanya pandai menjaga citra di hadapan orang lain.
Namun, malam itu, Arya terdengar seperti seseorang yang kehilangan kendali.
“Aku mengajukan syarat karena aku tidak mau kehilangan diriku sendiri dalam pernikahan,” jawab Laras. “Kalau syarat itu membuatmu merasa terancam, kita perlu membicarakannya. Tapi jangan menjadikan kejujuranku sebagai kesalahan.”
“Aku tidak pernah bilang kamu salah!”
“Kamu memperlakukanku seolah-olah aku bersalah karena ingin memiliki penghasilan sendiri, rumah sendiri, dan kehidupan sendiri.”
Arya menggeleng.
“Laras, kita akan menikah. Kita seharusnya saling percaya.”