Selina akhirnya kehilangan kesabarannya melihat Laras menerima hadiah-hadiah mahal dari seorang pria misterius. Melalui DM, ia menuduh Laras sebagai perempuan matre yang sengaja memamerkan barang mewah untuk mencari perhatian.
Namun, Selina tidak tahu siapa Laras sebenarnya.
Laras tidak memilih membalas hinaan dengan hinaan. Ia justru mengunggah hal-hal yang selama ini membangun kehidupannya: rumah kecil miliknya sendiri, sertifikat instruktur yoga, pekerjaan yang tetap ia jalani, serta koleksi makeup yang dibelinya dari hasil kerja kerasnya.
Sebab Laras tidak membutuhkan pengakuan Selina untuk mengetahui nilainya sendiri.
Dan terkadang, mencintai diri sendiri memang terlihat seperti kesombongan bagi orang-orang yang terbiasa melihat kita mengorbankan segalanya.
Laras baru saja pulang dari studio yoga ketika notifikasi Instagram muncul di ponselnya.
Ia sedang duduk di sofa ruang tengah, masih mengenakan pakaian olahraga, ketika melihat nama yang sudah dikenalnya.
Selina.
Laras menghela napas sebelum membuka pesan itu.
Selina: Kamu senang sekali, ya, memamerkan hadiah mahal?
Laras mengernyit.
Laras: Ada yang ingin kamu sampaikan?
Balasan Selina datang hampir seketika.
Selina: Aku cuma mau bilang, jangan merasa hebat hanya karena ada lelaki yang membelikanmu barang mahal.
Laras membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Selina: Kamu cuma cewek matre yang senang memanfaatkan lelaki kaya. Kalau memang punya harga diri, kamu nggak perlu pamer semua hadiah itu.
Laras meletakkan ponselnya di meja.
Ia tidak terkejut dengan tuduhan itu. Orang sering menilai seseorang dari apa yang terlihat, tanpa mengetahui bagaimana orang tersebut menjalani hidupnya.
Namun, ia tidak suka ketika seseorang merasa berhak menentukan nilai dirinya.
Laras mengambil ponsel kembali.
Laras: Terima kasih atas pendapatmu, Selina. Tapi kamu tidak mengenalku cukup baik untuk menyimpulkan siapa aku.
Ia tidak menambahkan apa-apa lagi.
Selina membalas dengan emoji tertawa, lalu mengirim pesan lain yang menyebut Laras hanya pandai mencari perhatian.
Laras menutup percakapan itu.
Ia bisa saja membalas panjang lebar. Ia bisa menjelaskan bahwa rumah yang ditempatinya dibeli dengan uang sendiri, bahwa ia tetap bekerja, dan bahwa ia tidak pernah meminta Theo mengirimkan hadiah-hadiah tersebut.
Tetapi kemudian sebuah pikiran muncul.
Mengapa ia harus menghabiskan malamnya untuk membuktikan dirinya kepada seseorang yang sejak awal sudah memutuskan untuk tidak menyukainya?
Laras tersenyum kecil.
“Baiklah, kalau begitu kita bicara lewat kenyataan.”
Laras membuka galeri ponselnya.
Ia memilih sebuah foto rumah kecilnya. Rumah dengan pagar putih, halaman sederhana, dan jendela lebar yang membiarkan cahaya matahari masuk ke ruang tengah.
Rumah itu tidak memiliki kolam renang, garasi luas, atau halaman seperti rumah-rumah mewah yang sering dilihatnya di media sosial.
Namun, rumah itu miliknya.
Ia membeli rumah tersebut menggunakan uang yang dikumpulkannya sendiri. Setiap sudutnya ia tata sesuai seleranya, mulai dari sofa krem, rak buku sederhana, sampai pot-pot tanaman di teras.
Laras mengunggah foto itu.
Caption:
Rumah kecil, ketenangan besar. Tidak harus megah untuk membuatku merasa pulang. This little house is mine, and I'm proud of it. 🏡🤍
Setelah itu, ia mengambil foto sertifikat pelatihan instruktur yoga yang telah diselesaikannya. Ia memastikan informasi pribadi yang tidak perlu diketahui publik tidak terlihat sebelum mengunggahnya.
Caption: