kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #10

Lelaki Bertato yang Tidak Banyak Bicara

KALI KEDUABab 12 — Lelaki Bertato yang Tidak Banyak Bicara

Blurb Bab 12

Laras mulai menyadari bahwa Theo bukan lelaki biasa. Di balik penampilannya yang dingin, tato yang menghiasi lengannya, dan sikapnya yang sulit ditebak, Theo memiliki prinsip yang tidak mudah digoyahkan.

Ketika Arya semakin sibuk mempertanyakan kehidupan pribadi Laras, Theo justru melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan calon suaminya: mendengarkan.

Namun, Laras belum ingin membuka hati. Ia sudah pernah memberikan seluruh kepercayaannya kepada seorang lelaki dan tahu betapa mahal harga yang harus dibayar ketika kepercayaan itu dikhianati.

Theo tidak memaksanya.

Tetapi satu percakapan membuat Laras mulai melihat bahwa lelaki dingin itu mungkin memiliki cara berbeda dalam memandang cinta.

Pukul enam sore, Laras baru selesai mengajar kelas yoga ketika sebuah pesan masuk.

Theo: Sudah selesai mengajar?

Laras mengernyit. Ia tidak menyangka Theo akan menghubunginya pada jam seperti itu.

Laras: Sudah. Ada apa, Pak?

Theo: Saya kebetulan berada di dekat studio. Kalau kamu belum makan, saya ingin mentraktir makan malam.

Laras membaca pesan itu dua kali.

Ia tidak keberatan berteman dengan Theo, tetapi ia juga tidak ingin memberikan kesan bahwa dirinya sedang mencari pengganti Arya.

Laras: Terima kasih, tapi saya bisa makan sendiri.

Balasan Theo datang beberapa detik kemudian.

Theo: Saya tahu kamu bisa. Saya hanya menawarkan, bukan menyatakan kamu tidak mampu.

Laras tersenyum kecil.

Jawaban itu sederhana, tetapi ada sesuatu yang berbeda dari cara Theo berbicara. Ia tidak berusaha membuat Laras merasa membutuhkan dirinya.

Laras: Baiklah. Tapi makan malam biasa saja, ya.

Theo: Tentu.

Restoran yang dipilih Theo ternyata tidak semewah yang Laras bayangkan.

Tempat itu nyaman, dengan pencahayaan hangat dan meja-meja kayu. Tidak ada pelayan yang berdiri berlebihan di sekitar mereka, tidak ada suasana yang membuat Laras merasa sedang menghadiri jamuan bisnis.

Theo sudah duduk di dekat jendela ketika Laras datang.

Ia mengenakan kaus hitam sederhana dan jaket gelap. Lengan bajunya sedikit terangkat, memperlihatkan tato hitam yang memanjang dari pergelangan tangan hingga sebagian lengannya.

Wajahnya tegas. Tatapannya dingin, dan ia hanya mengangguk singkat ketika Laras mendekat.

“Duduklah.”

Laras menarik kursi.

“Terima kasih.”

Theo menutup menu yang sedang dibacanya.

“Kamu mau makan apa?”

“Yang biasa saja.”

“Baik.”

Ia memanggil pelayan, memesan makanan untuk dirinya sendiri, lalu membiarkan Laras memilih pesanannya tanpa memberikan komentar tentang pilihan perempuan itu.

Laras memperhatikan Theo diam-diam.

Lelaki itu tidak banyak bicara. Ia juga tidak berusaha menghiburnya dengan pujian tentang kecantikan atau penampilannya.

Anehnya, justru itu membuat Laras merasa nyaman.

Setelah makanan datang, mereka berbicara tentang pekerjaan. Theo bercerita singkat tentang perusahaan tempatnya bekerja, sementara Laras menjelaskan bahwa ia masih bekerja di kantor dan mengajar yoga beberapa kali seminggu.

“Kamu tidak lelah?” tanya Theo.

“Kadang-kadang.”

“Lalu kenapa tetap melakukannya?”

Laras tersenyum.

“Karena aku menyukainya.”

Theo mengangguk, seolah-olah jawaban itu sudah cukup.

Tidak ada nasihat bahwa Laras seharusnya memilih salah satu. Tidak ada komentar bahwa seorang perempuan yang akan menikah seharusnya memiliki lebih banyak waktu di rumah.

Ia hanya menerima jawabannya.

Bagi Laras, itu hal kecil yang terasa menyenangkan.

Setelah beberapa saat, Laras akhirnya menanyakan sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

“Pak Theo, boleh saya bertanya?”

Lihat selengkapnya