kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #11

Liburan Bersama Lelaki Bertato


Selina belum puas mengusik Laras, sementara Arya semakin tidak bisa menerima kenyataan bahwa perempuan yang dulu selalu menunggunya kini tak lagi menjadikan dirinya pusat kehidupan.

Namun, Laras sudah lelah dengan drama mereka.

Kali ini, ia ingin pergi jauh dari semua keributan itu. Dan lelaki pertama yang terlintas di pikirannya adalah Theo—atasan Arya yang dingin, bertato, dan tak banyak bicara.

Laras mengajukan sebuah tawaran yang tak pernah disangka Theo.

“Bagaimana kalau kita liburan berdua?”

Ponsel Laras bergetar untuk ketiga kalinya pagi itu.

Ia sedang duduk di meja makan rumahnya sendiri, menikmati secangkir kopi sambil memeriksa jadwal mengajar yoga. Rambutnya diikat asal, wajahnya masih polos tanpa riasan, dan ia mengenakan pakaian rumah yang nyaman.

Awalnya, ia berniat mengabaikan ponselnya.

Namun, nama yang muncul di layar membuat dahinya berkerut.

Selina.

Perempuan itu mengirimkan sebuah foto.

Foto Arya sedang duduk di sebuah restoran bersama Selina. Posisi mereka cukup dekat, bahkan tangan Arya tampak berada di sandaran kursi perempuan itu.

Di bawah foto tersebut, Selina menulis pesan.

Laras, aku rasa kamu harus berhenti berharap. Arya selalu kembali kepadaku. Kamu boleh punya rumah sendiri, pekerjaan, dan sertifikat yoga, tapi kamu nggak bisa membuat seorang pria mencintaimu hanya dengan menjadi perempuan mandiri.

Laras membaca pesan itu sampai selesai.

Lalu ia meletakkan cangkirnya.

“Ya ampun, perempuan ini nggak punya kesibukan lain, apa?”

Ia tidak marah seperti dulu. Tidak juga menangis diam-diam sambil bertanya-tanya apa kekurangannya.

Ia hanya merasa terganggu.

Dua puluh tahun dalam kehidupan sebelumnya sudah cukup membuatnya mengerti satu hal: orang yang ingin merebut sesuatu darimu akan selalu mencari alasan untuk membuatmu merasa tidak layak.

Laras mengetik balasan singkat.

Selina, kalau kamu yakin Arya memilihmu, nikmati saja hubungan kalian. Kamu nggak perlu membuktikan apa pun kepadaku. Aku bahkan belum tentu ingin menikah dengannya.

Pesan terkirim.

Belum sampai satu menit, Selina membalas.

Jangan pura-pura nggak peduli. Kamu pasti sakit hati melihat kami bersama.

Laras mengembuskan napas panjang.

Kali ini, ia tidak membalas.

Ia memblokir akun Selina.

Selesai.

Setidaknya, begitulah yang ia harapkan.

Sebab, beberapa detik kemudian, nama Arya muncul di layar ponselnya.

Arya menelepon.

Laras membiarkan panggilan itu berdering sampai mati.

Telepon kedua datang.

Lalu pesan.

Laras, kenapa kamu memblokir Selina?

Laras menatap layar dengan ekspresi datar.

Ia bahkan belum sempat menyelesaikan kopinya.

Dia menggangguku.

Balasan Arya datang cepat.

Dia cuma ingin bicara.

Laras tertawa pendek.

Tentu saja. Kalau Selina mengganggunya, itu cuma ingin bicara. Kalau Laras membalas dengan tegas, ia dianggap membuat masalah.

Kalau begitu, suruh dia bicara denganmu. Kalian kan dekat.

Arya langsung menelepon lagi.

Kali ini, Laras mengangkatnya.

“Apa lagi, Arya?”

“Kenapa kamu selalu bersikap seperti ini?”

“Seperti apa?”

“Dingin. Menyebalkan. Seolah-olah aku orang asing buat kamu.”

Laras memejamkan mata sesaat.

“Bukankah kamu sendiri yang meminta waktu untuk menentukan hubungan kita?”

“Aku memang meminta waktu, tapi bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seperti ini.”

“Memperlakukanmu seperti apa? Aku memblokir orang yang menggangguku. Itu hakku.”

“Kamu sengaja membuatku kesal.”

“Dunia ini nggak berputar mengelilingimu, Arya.”

Hening sejenak.

Kemudian suara Arya terdengar lebih rendah.

“Aku melihat unggahanmu bersama Theo.”

Laras mengangkat sebelah alis.

“Lalu?”

“Kalian makan malam bersama.”

“Matamu masih berfungsi dengan baik, ternyata.”

“Laras!”

“Apa? Kamu meneleponku hanya untuk membahas makan malamku?”

“Aku cuma ingin tahu apa hubungan kalian.”

Laras bersandar di kursi.

Akhirnya, ia mengerti. Arya boleh menghabiskan waktu bersama Selina, boleh memamerkan kedekatan mereka, tetapi ketika Laras mulai membuka pintu bagi orang lain, laki-laki itu merasa kehilangan sesuatu.

Bukan karena cinta.

Melainkan karena ia tidak lagi menjadi satu-satunya laki-laki yang mendapat perhatian Laras.

“Hubunganku dengan Theo bukan urusanmu,” jawab Laras. “Kita belum menikah. Bahkan tanggal pernikahan kita saja belum jelas.”

“Kamu masih calon istriku.”

“Calon istri bukan berarti milikmu.”

Arya terdiam.

Laras melanjutkan, “Kalau kamu ingin aku menghargai hubungan kita, kamu juga harus menunjukkan bahwa hubungan ini pantas dihargai. Jangan meminta kesetiaan dariku sementara kamu sendiri masih sibuk dengan Selina.”

“Aku tidak pernah bilang aku memilih Selina!”

“Tapi kamu juga belum memilihku.”

Kalimat itu membuat Arya tak langsung menjawab.

Laras mengakhiri panggilan.

Ia meletakkan ponsel di meja, lalu menatap kopi yang sudah mulai dingin.

Sungguh, ia tidak menyangka memulai kehidupan kedua akan terasa seperti ini.

Ia mengira masalah terbesarnya adalah menghindari pernikahan yang pernah membuatnya menderita selama dua puluh tahun.

Ternyata, ia juga harus menghadapi dua orang yang terus berusaha menariknya kembali ke dalam drama mereka.

Laras mengusap wajah.

“Aku butuh liburan.”

Lihat selengkapnya