kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #12

Delapan Jam, Satu Kamar


Laras akhirnya berangkat ke Yogyakarta bersama Theo, lelaki bertato yang perlahan membuatnya penasaran. Perjalanan delapan jam melalui jalan tol menjadi awal dari kedekatan yang tak pernah mereka rencanakan.

Namun, masalah muncul ketika hotel yang mereka pesan hanya menyediakan satu kamar dengan dua ranjang terpisah.

Bagi Laras, itu bukan masalah besar. Mereka sudah dewasa, dan ia percaya Theo mampu menghormati batasannya.

Tetapi, bagaimana rasanya menghabiskan malam di ruangan yang sama dengan lelaki dingin yang diam-diam mulai menarik perhatiannya?

Pukul enam lewat tiga puluh pagi, Laras sudah berdiri di depan rumahnya dengan koper berukuran sedang.

Ia mengenakan celana panjang berwarna krem, kaus putih, dan cardigan tipis. Rambutnya dibiarkan tergerai, sementara wajahnya hanya dihiasi riasan sederhana. Sebuah tas kecil tersampir di bahunya.

Ia memeriksa kembali isi tasnya.

Dompet, ponsel, pengisi daya, produk perawatan wajah, lip balm, dan beberapa barang penting lainnya sudah masuk.

Semuanya siap.

Kecuali satu hal.

Lelaki yang berjanji menjemputnya pukul tujuh pagi itu belum juga muncul.

Laras melirik jam tangannya.

Pukul 06.47.

Ia mengambil ponsel, lalu mengetik pesan.

Pak Theo, Anda tahu sekarang pukul berapa?

Pesan itu baru saja terkirim ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan pagar rumahnya.

Pintu pengemudi terbuka.

Theo keluar mengenakan kaus hitam yang membalut tubuhnya, celana panjang gelap, dan jam tangan sederhana. Lengan kausnya sedikit terangkat ketika ia mengambil koper Laras dari dekat pintu.

Tato di lengannya terlihat jelas.

Laras sempat memperhatikannya selama dua detik sebelum buru-buru mengalihkan pandangan.

Astaga, Laras. Kamu mau liburan, bukan mengikuti audisi mencari suami.

“Pagi,” sapa Theo.

“Pagi. Kamu terlambat.”

Theo melirik jam tangannya.

“Tiga menit.”

“Tetap terlambat.”

“Baik. Saya minta maaf.”

Laras terdiam.

Ia sudah menyiapkan beberapa kalimat untuk mengomel, tetapi Theo justru meminta maaf tanpa berdebat.

Menyebalkan.

Bagaimana ia bisa marah kalau lawannya tidak memberikan perlawanan?

Theo memasukkan koper ke bagasi, kemudian membukakan pintu penumpang untuknya.

“Sudah siap?”

“Sudah. Tapi sebelum berangkat, aku punya satu pertanyaan.”

“Apa?”

“Kamu benar-benar tidak keberatan menghabiskan delapan jam bersamaku?”

Theo menatapnya datar.

“Kalau keberatan, saya tidak akan datang.”

Laras tersenyum lebar.

“Bagus. Semoga kamu tidak menyesal.”

“Saya mulai mempertimbangkannya.”

“THEO!”

Lelaki itu menutup bagasi, lalu berjalan menuju kursi pengemudi dengan sudut bibir yang nyaris membentuk senyuman.

Laras melihatnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah Theo sebenarnya tidak sedingin yang terlihat.

Perjalanan menuju Yogyakarta dimulai pukul tujuh tepat.

Theo mengemudi dengan tenang, sementara Laras duduk di sampingnya sambil memilih lagu dari ponsel. Mereka melewati jalanan yang mulai ramai, kemudian memasuki jalan tol.

Setelah beberapa saat, Laras menoleh.

“Kamu sering ke Jogja?”

“Beberapa kali.”

“Sendiri?”

“Kadang dengan rekan kerja.”

“Dengan perempuan?”

Theo meliriknya sekilas.

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Aku cuma bertanya.”

“Pernah.”

Laras mengangguk-angguk.

“Oke.”

Beberapa detik berlalu.

“Perempuan yang mana?”

Theo menghela napas pelan.

“Kamu selalu banyak bertanya?”

“Iya. Kenapa? Terganggu?”

“Belum.”

“Belum?”

“Perjalanan kita masih panjang.”

Laras tertawa sampai bahunya berguncang.

Lelaki itu benar-benar memiliki cara menjawab yang membuatnya ingin terus mengusik.

“Tenang saja, Pak Theo. Aku akan mengurangi pertanyaanku.”

“Terima kasih.”

“Tapi aku nggak janji.”

“Saya sudah menduga.”

Mereka kembali tertawa kecil, meskipun Theo lebih banyak menunjukkan senyumnya daripada tertawa sungguhan.

Laras menyadari sesuatu.

Di kantor, Arya sering menganggap pertanyaan-pertanyaannya sebagai bentuk ketidakpercayaan. Jika Laras ingin tahu tentang rencana mereka, Arya bisa menganggapnya terlalu banyak mengatur.

Namun, Theo tidak tampak terganggu hanya karena ia ingin mengenalnya.

Tentu saja, mereka baru mulai dekat. Laras tidak ingin membandingkan dua lelaki itu hanya berdasarkan beberapa percakapan.

Tetapi ia menyukai perasaan bebas untuk menjadi dirinya sendiri.

Ia tidak harus berpura-pura menjadi perempuan pendiam hanya supaya seseorang merasa nyaman.

Dua jam kemudian, mereka berhenti di rest area.

Laras turun dari mobil dan meregangkan tubuhnya.

“Akhirnya! Aku mulai merasa punggungku menyatu dengan kursi.”

Theo mengunci mobil.

“Kamu mau makan?”

“Mau. Aku lapar.”

“Kita cari tempat duduk.”

Laras berjalan lebih dahulu menuju area makanan, lalu berhenti di depan sebuah kedai. Ia memesan makanan sederhana dan minuman dingin. Theo memilih kopi serta makanan yang tidak terlalu berat.

Saat mereka duduk berhadapan, Laras memperhatikan tato yang terlihat di lengan Theo.

“Boleh bertanya sesuatu?”

Theo mengangkat wajah dari cangkir kopinya.

“Silakan.”

“Tato kamu punya arti khusus?”

Theo menunduk, melihat lengannya sendiri.

“Sebagian.”

“Sebagian lainnya?”

“Karena saya menyukainya.”

Laras mengangguk.

“Kirain ada kisah tragis di balik semuanya.”

“Kamu kecewa?”

“Sedikit. Aku kira kamu punya masa lalu gelap yang akan diceritakan saat hujan turun.”

Theo menatapnya cukup lama.

“Kenapa harus menunggu hujan?”

“Supaya dramatis.”

“Saya tidak suka drama.”

Laras langsung teringat Arya dan Selina.

Ia tertawa hambar.

“Kalau begitu, kita cocok. Aku juga sedang berusaha menjauhi drama.”

Ekspresi Theo berubah sedikit lebih serius.

“Masih diganggu?”

Laras tahu siapa yang dimaksudnya.

“Selina dan Arya?”

Theo mengangguk.

“Masih. Mereka sepertinya menganggap hidupku kurang menarik kalau tidak ada mereka.”

Lihat selengkapnya