kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #13

Kesalahan yang Ingin Kuulangi


Laras datang ke Yogyakarta untuk melarikan diri dari masa lalu, bukan untuk mencari cinta baru.


Namun, di kota ini, ia melakukan banyak hal yang tak pernah berani dilakukannya selama kehidupan pertamanya: menikmati kopi di puncak bukit, membiarkan ombak memeluk tubuhnya, mencicipi cokelat pedas, dan menertawakan hal-hal kecil bersama seorang lelaki bertato bernama Theo.


Semakin lama mereka bersama, semakin sulit bagi Laras untuk menganggap Theo sekadar teman perjalanan.


Sampai sebuah malam menghadirkan pertanyaan yang tidak pernah ia rencanakan.


Jika ia tahu sesuatu itu salah, apakah ia masih akan melakukannya?


***


Hari kedua di Yogyakarta dimulai dengan tawa Laras.


Bukan tawa sopan yang biasa ia berikan kepada rekan kerja. Bukan pula senyum tipis yang selama bertahun-tahun ia gunakan untuk menutupi kekecewaan dalam rumah tangganya.


Kali ini, Laras tertawa sampai matanya menyipit.


Penyebabnya adalah Theo.


Lelaki bertato itu berdiri di depan cermin kamar hotel, berusaha membersihkan noda cokelat yang entah bagaimana menempel di ujung lengan kemejanya.


Sementara itu, Laras duduk di ranjangnya sambil memegangi perut.


“Sudah, jangan tertawa,” kata Theo.


“Aku nggak bisa!”


“Kamu yang menyodorkan cokelat itu kepadaku.”


“Aku nggak tahu cokelatnya bakal meleleh!”


“Dan sekarang kemeja saya menjadi korban.”


Laras kembali tertawa.


Theo menoleh dengan tatapan datar.


“Kamu puas?”


“Banget.”


“Bagus. Sekarang bantu saya mencari tisu.”


Laras turun dari ranjang, mengambil tisu, lalu menyerahkannya. Ketika tangan mereka bersentuhan, tawanya perlahan mereda.


Mereka berdiri cukup dekat.


Theo menatapnya sesaat, kemudian mengambil tisu dari tangannya.


“Terima kasih.”


Laras mengangguk.


Entah mengapa, suasana mendadak terasa berbeda.


Ia buru-buru berjalan menuju meja untuk mengambil ponselnya.


“Ayo pergi. Aku mau sarapan.”


Theo memperhatikannya beberapa detik.


“Baik.”


Mereka meninggalkan kamar tanpa membahas apa yang baru saja terjadi.


Namun, Laras menyadari satu hal: belakangan ini, ia mulai terlalu sering memperhatikan Theo.


Cara lelaki itu menggulung lengan bajunya. Suaranya yang rendah ketika berbicara. Bahkan kebiasaannya menjawab pertanyaan dengan kalimat singkat.


Hal-hal yang seharusnya tidak penting.


Tetapi sekarang justru memenuhi pikirannya.


Laras menghela napas.


*Jangan mulai, Laras.*


Ia datang ke Yogyakarta untuk menikmati hidup, bukan untuk mencari lelaki baru yang akan mengacaukan pikirannya.


Sayangnya, perasaan tidak pernah meminta izin sebelum muncul.


***


Pagi itu, mereka mengunjungi sebuah tempat di perbukitan.


Setelah menikmati sarapan, Laras membeli secangkir kopi dan memilih duduk di tempat yang menghadap langsung ke hamparan hijau.


Angin bertiup lembut.


Di kejauhan, matahari menyinari pepohonan, membuat pemandangan di hadapannya terlihat seperti lukisan.


Laras memegang cangkir kopi dengan kedua tangan.


“Kalau aku tahu tempat seperti ini ada, mungkin dulu aku sudah sering ke sini.”


Theo duduk di sampingnya.


“Mengapa tidak?”


Laras tersenyum kecil.


“Dulu aku terlalu sibuk mengurus banyak hal.”


“Pekerjaan?”


“Pekerjaan, rumah, hubungan, dan segala sesuatu yang menurutku harus kulakukan supaya hidupku berhasil.”


Ia berhenti sejenak.


“Aku selalu berpikir kebahagiaan itu sesuatu yang harus ditunggu. Setelah menikah, setelah punya rumah, setelah semuanya stabil. Aku pikir kalau aku sudah melakukan semua yang seharusnya dilakukan seorang istri, aku akan bahagia.”


Theo tidak menyela.


“Sekarang aku sadar, aku bahkan nggak tahu apa yang sebenarnya kusukai. Aku terlalu sibuk memastikan orang lain bahagia.”


Laras menyesap kopinya.


“Ternyata aku suka kopi di tempat tinggi seperti ini. Aku suka laut. Aku suka mencoba makanan aneh, meskipun cokelat pedas itu hampir membunuhku.”


Theo tersenyum tipis.


“Tidak ada yang memaksamu memakannya.”


“Aku tahu.”


“Lalu kenapa dihabiskan?”


Laras menoleh.


“Karena aku penasaran.”


Theo mengangguk pelan.


“Kalau begitu, teruslah penasaran.”


Laras terdiam.


Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat dadanya terasa hangat.


Teruslah penasaran.


Teruslah mencoba.


Teruslah hidup.


Mungkin selama ini ia memang terlalu takut melakukan kesalahan sampai lupa bahwa hidup tidak harus selalu sempurna.


Ia memandang Theo.


“Kalau aku melakukan sesuatu yang salah, bagaimana?”


Theo membalas tatapannya.


“Bergantung pada kesalahannya.”


“Kalau kesalahan itu membuatku bahagia?”


“Bahagia sesaat atau bahagia dalam jangka panjang?”


Laras tidak langsung menjawab.


Theo mengalihkan pandangan ke pemandangan di depan mereka.


“Tidak semua hal yang menyenangkan akan berakhir baik, Laras. Tapi kamu juga tidak bisa menghabiskan hidup dengan ketakutan terhadap semua kemungkinan.”


Laras menunduk, memandangi kopi di tangannya.


Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa perjalanan ini bukan sekadar liburan.


Ia sedang belajar mengenali dirinya sendiri.


Dan pelajaran itu mungkin tidak selalu mudah.


Lihat selengkapnya