Arya tidak berhenti menelepon. Selina terus menandai Laras dalam unggahan yang sengaja dibuat untuk menyindirnya.
Awalnya, Laras memilih diam. Namun, semakin ia mengabaikan mereka, semakin keduanya berusaha menyeretnya kembali ke dalam drama yang sama.
Sampai akhirnya Laras mengambil keputusan yang membuat semua orang terkejut.
Ia mengunggah sebuah foto dirinya sedang berciuman dengan Theo.
Dengan satu foto dan sebuah kutipan, Laras mengubah suasana Instagram dalam hitungan menit.
Arya marah. Selina kehilangan kendali. Dan Theo?
Lelaki bertato itu hanya bertanya satu hal.
“Kamu yakin ingin semua orang melihatnya?”
Pagi itu, Laras terbangun dengan suara ponsel yang bergetar tanpa henti.
Ia masih berbaring di ranjang hotel, rambutnya berantakan, dan pikirannya belum sepenuhnya sadar.
Tangannya meraba meja di samping ranjang.
Layar ponselnya menyala.
Arya — 12 panggilan tak terjawab.
Laras mengerjap.
“Dua belas kali?”
Ia membuka notifikasi berikutnya.
Selina menandai Anda dalam sebuah unggahan.
Kemudian muncul notifikasi lain.
Selina menandainya lagi.
Dan lagi.
Laras mengusap wajahnya.
“Ya Tuhan, mereka ini nggak punya pekerjaan?”
Dari ranjang seberang, Theo membuka mata.
“Ada apa?”
Laras menunjukkan layar ponselnya.
“Arya menelepon dua belas kali. Selina menandai aku di Instagram berkali-kali. Aku bahkan belum sempat sikat gigi.”
Theo duduk, lalu merapikan rambutnya dengan satu tangan.
“Kamu bisa mematikan ponsel.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa tidak?”
Laras menatapnya.
“Karena aku penasaran apa lagi yang mereka lakukan.”
Theo mengangkat sebelah alis.
“Itu namanya kamu ikut memelihara gangguanmu sendiri.”
Laras terdiam.
Kemudian ia melemparkan bantal kecil ke arahnya.
“Pagi-pagi jangan sok bijaksana!”
Theo menangkap bantal itu dengan mudah.
“Selamat pagi juga.”
Laras mendengus, tetapi akhirnya tertawa.
Namun, ketika membuka unggahan Selina, tawanya langsung menghilang.
Selina mengunggah foto dirinya bersama Arya di sebuah restoran. Mereka duduk berdampingan, dengan Arya tersenyum ke arah kamera.
Caption-nya berbunyi:
Some people need to understand that not every man belongs to them. If he wants you, he'll choose you. No amount of pretending can change that.
Beberapa teman Selina memberikan komentar berupa emoji hati. Ada pula yang menuliskan bahwa mereka terlihat serasi.
Laras membaca semuanya tanpa ekspresi.
Lalu ia melihat tanda namanya.
Selina sengaja menandai dirinya.
Bukan sekali, melainkan di beberapa unggahan sekaligus.
Seolah-olah Selina ingin memastikan bahwa Laras melihat setiap foto, setiap kalimat, dan setiap bentuk pamer kemesraan mereka.
Laras mengembuskan napas.
“Dia benar-benar ingin aku bereaksi.”
Theo meletakkan ponselnya.
“Kalau begitu, jangan berikan reaksi yang dia inginkan.”
Laras menoleh.
“Menurutmu aku harus diam saja?”
“Kalau diam membuatmu tenang, diamlah. Kalau kamu ingin bicara, bicaralah. Tapi jangan melakukan sesuatu hanya karena dia berhasil memancingmu.”
Laras menatap layar ponselnya lagi.
Ia tahu Theo benar.
Namun, ada sesuatu yang tidak disukai Laras dari situasi ini.
Selina dan Arya bertindak seolah-olah kehidupan Laras adalah panggung yang bisa mereka kuasai. Mereka bebas mengunggah foto, menyindir, dan mengatur narasi, sementara Laras diharapkan tetap diam agar tidak dianggap sebagai perempuan yang cemburu.
Laras sudah terlalu lama menjadi perempuan yang menahan diri.
Ia tidak ingin kembali menjadi orang itu.
Panggilan Arya kembali masuk.
Laras menatap layar selama beberapa detik sebelum mengangkatnya.
“Apa?”
“Kenapa kamu nggak mengangkat teleponku?”
“Karena aku tidur.”
“Sudah bangun, kan?”
“Sekarang sudah.”
“Aku ingin bicara.”
“Bicaralah.”
Arya terdiam sesaat, seolah-olah tidak menyangka Laras akan menjawab sesantai itu.
“Kamu melihat unggahan Selina?”
Laras tersenyum sinis.
“Jadi, kamu meneleponku untuk membahas unggahan pacarmu?”
“Dia bukan pacarku.”
Laras memejamkan mata.
Lagi-lagi kalimat yang sama.
“Baiklah. Kalau begitu, perempuan yang terus mengunggah foto bersamamu itu siapa?”
“Aku sudah bilang, hubungan kami rumit.”
“Hubungan kita juga rumit, Arya. Bedanya, aku tidak mengunggah foto bersama laki-laki lain sambil meminta kamu menunggu.”
“Aku tidak pernah memintamu menunggu selamanya!”
“Tapi kamu juga tidak pernah memberiku kepastian.”
Suara Arya meninggi.
“Laras, berhenti memutarbalikkan semuanya!”
Laras langsung duduk tegak.
“Aku tidak memutarbalikkan apa pun. Aku sedang liburan. Aku ingin menikmati waktuku. Kenapa kamu terus menelepon dan menggangguku?”
“Aku khawatir kamu melakukan sesuatu yang akan kamu sesali.”
Laras terdiam.
Kemudian ia tertawa pendek.
“Kamu khawatir aku menyesal? Sejak kapan kamu begitu peduli pada penyesalanku?”
“Laras—”
“Dua puluh tahun, Arya.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Arya mendadak diam.
Laras menggigit bibirnya. Ia hampir saja mengatakan lebih banyak daripada yang seharusnya.
“Apa maksudmu dua puluh tahun?” tanya Arya.
Laras segera memperbaiki ucapannya.
“Maksudku, aku tidak ingin menghabiskan waktu bertahun-tahun menyesali keputusan yang kubuat hari ini.”
“Aku tidak mengerti kamu.”
“Tidak apa-apa. Kamu tidak harus mengerti semuanya.”
“Siapa Theo sebenarnya buatmu?”
Laras menatap lelaki yang kini sedang berdiri di dekat jendela.
Theo tidak berusaha mendengarkan percakapan itu, tetapi ia juga tidak meninggalkan kamar.
“Dia teman perjalananku,” jawab Laras.
“Hanya teman?”
Laras tersenyum kecil.
“Kenapa kamu ingin tahu?”
“Karena kamu masih calon istriku!”
“Dan kamu masih laki-laki yang belum bisa menentukan pilihan.”
Hening.
Laras mengakhiri panggilan.
Kali ini, ia tidak merasa bersalah.
Satu jam kemudian, mereka sarapan di sebuah kafe kecil.
Laras berusaha menikmati roti panggangnya, tetapi ponselnya kembali menyala.
Selina menandainya dalam unggahan lain.
Kali ini, Selina mengunggah sebuah kutipan:
Classy women don't chase men who don't belong to them.
Diikuti foto Arya yang sedang tersenyum.
Laras meletakkan ponselnya.
Theo memperhatikan gerakannya.