kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #15

Menikah dengan Orang Asing


Satu foto ciuman membuat Instagram Laras meledak. Orang-orang mengira ia hanya ingin membuat Arya cemburu, sementara yang lain menganggap kedekatannya dengan Theo hanyalah akibat liburan singkat.

Mereka salah.

Di Yogyakarta, Theo mengajukan sebuah pertanyaan yang mengubah arah kehidupan Laras. Bukan ajakan berpacaran, bukan pula janji manis yang mudah diucapkan.

Ia mengajak Laras menikah.

Keputusan yang terdengar impulsif bagi siapa pun itu justru menjadi sesuatu yang sudah Theo yakini sepenuh hati. Baginya, Laras bukan perempuan yang ingin ia menangkan dari Arya. Laras adalah perempuan yang ingin ia pilih untuk berjalan bersamanya.

Dengan restu ibu Laras, keduanya mengambil langkah yang tak pernah diperkirakan siapa pun.

Dan ketika Arya akhirnya mengetahui kebenarannya, ia menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia biarkan menunggu ternyata telah menjadi istri lelaki lain.

Laras sedang menikmati yoghurt dingin ketika Theo tiba-tiba berkata, “Menikahlah denganku.”

Ia hampir tersedak.

“APA?”

Theo menatapnya tenang.

“Saya bilang, menikahlah denganku.”

Laras meletakkan gelasnya perlahan.

Mereka sedang duduk di sebuah kedai kecil di Yogyakarta. Di luar, kendaraan berlalu-lalang, sementara seorang pelayan baru saja mengantarkan pesanan mereka.

Dan lelaki di hadapannya baru saja mengucapkan kalimat yang biasanya membutuhkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk dipertimbangkan.

Laras menatap Theo seperti sedang berusaha memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.

“Kamu bercanda?”

“Tidak.”

“Theo, kita baru mengenal satu sama lain.”

“Saya tahu.”

“Kita baru melakukan perjalanan bersama selama beberapa hari.”

“Saya tahu.”

“Kita bahkan belum pernah bertengkar soal hal-hal serius.”

Theo mengangguk.

“Karena itu kita masih perlu saling mengenal lebih jauh.”

Laras mengangkat kedua tangannya.

“Lalu kenapa kamu mengajakku menikah sekarang?”

Theo tidak langsung menjawab.

Ia memandang Laras dengan tatapan yang jauh lebih serius daripada biasanya.

“Karena saya tidak ingin menghabiskan waktu untuk berpura-pura bahwa saya tidak menginginkanmu dalam hidup saya.”

Jantung Laras berdegup lebih cepat.

Theo melanjutkan, “Saya tidak meminta kamu menjawab sekarang. Saya juga tidak ingin kamu menikah denganku hanya karena sedang marah kepada Arya atau ingin membuktikan sesuatu kepada Selina.”

Laras menunduk.

“Saya ingin kamu memilihku karena kamu memang ingin menjalani hidup bersamaku. Kalau kamu membutuhkan waktu untuk berpikir, saya akan menunggu.”

Laras terdiam cukup lama.

Ia tidak pernah membayangkan akan menghadapi situasi seperti ini.

Dalam kehidupan sebelumnya, ia menghabiskan bertahun-tahun meyakinkan dirinya bahwa Arya adalah pilihan yang tepat. Ia memikirkan masa depan, menyiapkan rumah, menjaga hubungan, dan terus berusaha menjadi istri yang baik.

Namun, semua usahanya tidak membuat Arya berhenti menyakitinya.

Sekarang, seorang lelaki yang baru dikenalnya menawarkan sesuatu yang dahulu ia perjuangkan mati-matian.

Pernikahan.

Tetapi Laras tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

“Kenapa aku?” tanyanya akhirnya.

Theo mengerutkan kening.

“Kenapa kamu apa?”

“Kenapa kamu yakin aku orang yang tepat? Kamu belum mengenal semua sisi burukku.”

“Saya juga punya sisi buruk.”

“Itu bukan jawaban.”

Theo menghela napas pendek.

Lalu ia menyandarkan punggungnya ke kursi.

“Pertama kali melihatmu, saya tidak berpikir kamu adalah soulmate saya. Saya hanya tertarik kepadamu.”

Laras mendengarkan tanpa menyela.

“Tapi semakin saya mengenalmu, semakin saya menyadari bahwa saya menyukai cara kamu melihat kehidupan. Kamu bisa tertawa karena hal kecil, berani mengatakan tidak, dan tidak berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirimu.”

Theo berhenti sebentar.

“Saya tidak menganggapmu sempurna, Laras. Saya bahkan belum tahu semua hal yang perlu saya ketahui tentangmu.”

“Lalu?”

“Justru karena itu saya ingin mengenalmu lebih jauh. Saya ingin menjadi orang yang kamu pilih setelah kamu benar-benar mengenal saya.”

Laras menatapnya.

“Saya percaya kamu bisa menjadi soulmate saya,” lanjut Theo. “Bukan karena kita tidak akan pernah punya masalah. Tapi karena saya ingin membangun kehidupan bersama seseorang yang bisa saya hormati, bahkan ketika kami berbeda pendapat.”

Laras tidak mampu langsung menjawab.

Kata soulmate terdengar begitu besar untuk dua orang yang baru beberapa hari menghabiskan waktu bersama.

Namun, Theo tidak mengucapkannya seperti seorang lelaki yang sedang mabuk cinta dan kehilangan akal.

Ia mengatakannya dengan ketenangan yang membuat Laras justru semakin takut.

Sebab, jika Theo benar-benar serius, keputusan ini tidak boleh dibuat hanya berdasarkan perasaan sesaat.

“Aku butuh waktu,” ujar Laras akhirnya.

Theo mengangguk.

“Ambillah.”

“Dan kalau setelah mengenalmu lebih jauh aku berubah pikiran?”

“Saya akan menghormatinya.”

“Kalau aku ternyata tidak seperti yang kamu bayangkan?”

“Saya tidak menikahi bayangan tentang dirimu.”

Laras terdiam.

Theo menatapnya lembut.

“Saya ingin mengenal Laras yang sebenarnya. Termasuk bagian-bagian yang belum kamu ceritakan kepada saya.”

Untuk pertama kalinya pagi itu, Laras tidak tahu harus berkata apa.

Malamnya, Laras menelepon ibunya.

Ia duduk di balkon kamar hotel, memandangi lampu-lampu kota yang berpendar. Theo berada di dalam kamar, memberinya ruang untuk berbicara tanpa harus mendengar percakapan pribadi itu.

“Bu, Laras mau cerita sesuatu.”

Suara ibunya terdengar hangat dari seberang telepon.

“Ada apa, Nak?”

Laras menggigit bibir.

“Kalau Laras bilang ingin menikah, Ibu akan marah?”

Ibunya terdiam.

“Menikah dengan siapa?”

“Theo.”

“Lelaki yang sekarang bersamamu di Jogja?”

“Iya.”

“Laras, kamu baru mengenalnya, kan?”

Laras memejamkan mata.

“Iya, Bu.”

“Kenapa ingin menikah dengannya?”

Pertanyaan itu membuat Laras kembali memikirkan percakapannya dengan Theo.

Ia tidak ingin menjawab bahwa Theo kaya, menarik, bertato, atau berbeda dari Arya. Semua itu bukan alasan yang cukup untuk menikah.

“Aku belum bisa bilang aku mencintainya sepenuhnya, Bu. Aku masih mengenalnya. Tapi dia memperlakukanku dengan hormat. Dia nggak memaksaku memilih dia, nggak meminta aku melupakan masa laluku dalam semalam, dan nggak membuatku merasa harus membuktikan bahwa aku layak dicintai.”

Ibunya terdiam cukup lama.

“Menikah bukan cuma tentang menemukan lelaki yang memperlakukanmu dengan baik hari ini, Nak. Ibu ingin kamu memastikan bahwa dia juga akan menghormatimu ketika kalian sedang marah, berbeda pendapat, atau menghadapi masalah.”

Lihat selengkapnya