kali kedua

Willia Mangun Putr
Chapter #16

Pulang Bersama Suamiku


Liburan di Yogyakarta berakhir. Laras pulang ke Jakarta bersama Theo, bukan lagi sekadar teman perjalanan, melainkan lelaki yang telah menikahinya dengan persetujuan ibunya.


Namun, kehidupan nyata menunggu mereka.


Ada pekerjaan yang harus kembali dijalani, keluarga yang perlu diberi kabar, serta Arya yang belum menerima kenyataan bahwa Laras telah memilih jalan lain.


Bagi orang lain, keputusan Laras dan Theo mungkin terlalu cepat.


Bagi Theo, Laras bukan keputusan impulsif.


Ia adalah perempuan yang ingin ia kenal, ia hormati, dan ia pilih setiap hari.


Dan bagi Laras, perjalanan pulang kali ini terasa berbeda.


Sebab, untuk pertama kalinya, ia tidak pulang dengan membawa luka dari seorang lelaki.


Ia pulang bersama suaminya.


---


Pagi itu, Laras berdiri di depan cermin kamar hotel sambil merapikan rambutnya.


Koper-koper sudah tertutup. Barang-barang mereka telah dikemas. Dua cangkir kopi yang mereka pesan untuk sarapan masih berada di meja dekat jendela.


Yogyakarta akan menjadi kenangan yang selalu ia ingat.


Bukan hanya karena bukit, pantai, cokelat pedas, atau yoghurt dingin yang mereka nikmati.


Melainkan karena di kota inilah ia mengambil keputusan yang mengubah hidupnya.


Laras menatap cincin di jarinya.


Ia masih belum terbiasa melihatnya.


“Masih memandangi cincin itu?”


Suara Theo membuatnya menoleh.


Lelaki itu berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan kemeja hitam dan celana panjang. Rambutnya masih sedikit basah, sementara lengan bajunya sudah digulung hingga memperlihatkan tato yang menghiasi lengannya.


Laras tersenyum kecil.


“Masih terasa aneh.”


“Aneh bagaimana?”


“Aku datang ke Jogja sebagai perempuan yang sedang ingin menikmati liburan. Sekarang aku pulang sebagai istri seseorang.”


Theo mendekat.


“Menyesal?”


Laras langsung memukul lengannya pelan.


“Kenapa kamu suka sekali bertanya begitu?”


“Karena saya ingin tahu jawabanmu.”


Laras memandangnya.


“Tidak. Aku tidak menyesal.”


Theo mengangguk, lalu mengambil koper yang berdiri di dekat pintu.


“Kalau begitu, ayo pulang.”


Dua kata sederhana itu membuat Laras tersenyum.


Ayo pulang.


Bukan ayo kembali ke rutinitas yang melelahkan.


Bukan ayo kembali menghadapi seseorang yang membuatnya merasa tidak cukup.


Melainkan pulang bersama orang yang telah ia pilih.


---


Perjalanan menuju Jakarta dimulai setelah mereka menyelesaikan urusan check-out.


Theo mengemudi, sementara Laras duduk di sampingnya dengan ponsel di tangan. Ia mengunggah satu foto terakhir dari Yogyakarta: pemandangan pagi dari balkon hotel.


Caption-nya singkat.


Some places change your perspective. Some people change your life.


Beberapa tempat mengubah cara pandangmu. Beberapa orang mengubah hidupmu.


Belum sampai lima menit, teman-temannya mulai berkomentar.


LARAS, KAPAN PULANG? KITA BUTUH PENJELASAN!


Jangan bilang kamu benar-benar pacaran sama Theo!


Foto ciuman kemarin belum selesai dibahas, sekarang kamu menghilang lagi?


Laras tertawa kecil.


Theo meliriknya sekilas.


“Teman-temanmu?”


“Iya. Mereka penasaran.”


“Kalau begitu, jawab saja.”


Laras menoleh.


“Jawab apa?”


“Apa yang ingin kamu jawab.”


Laras memandang cincin di jarinya sekali lagi.


Ia belum mengunggah apa pun tentang pernikahan mereka. Bukan karena malu, tetapi karena ia ingin memberi tahu orang-orang dengan cara yang tepat.


“Aku ingin menunggu sampai semuanya jelas,” katanya.


Theo mengangguk.


“Kita punya waktu.”


Laras meletakkan ponselnya, lalu menyandarkan kepala ke kursi.


“Mas, nanti kalau kita sudah sampai Jakarta, kamu mau makan apa?”


Theo terdiam.


Ia melirik Laras sekilas, seolah sedang memastikan bahwa ia tidak salah mendengar.


Laras langsung menyadari ucapannya.


“Apa?”


“Kamu memanggil saya apa?”


Laras memalingkan wajah ke jendela.


“Tidak ada.”


“Laras.”


“Aku salah bicara.”


Theo menahan senyum.


“Silakan ulangi.”


“Tidak mau!”


“Baik, Sayang.”


Laras spontan menoleh.


Theo tetap memandang jalan, seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.


Namun, wajah Laras terasa panas.


“Jangan sembarangan memanggilku begitu!”


“Kenapa?”


“Karena…”


Laras kehabisan kata-kata.


Theo akhirnya tersenyum kecil.


“Karena kamu belum terbiasa?”


Laras menatapnya beberapa detik sebelum mengangguk pelan.


Lihat selengkapnya